•   Rabu, 18 September 2019
JawaTimur

Khofifah: Ujian Pakai Smartphone Terobosan, tapi Kurang Legaa

( words)
Gubernur Jatim Khofifah bersama Kepala Dinas Pendidikan Jatim, saat meninjau USBN BKS di SMA Negeri 5 Surabaya, Senin (4/3/2019) kemarin pagi. Usai meninjau, Khofifah langsung mengevaluasi penggunaan smartphone. Foto : SP/Arlana Byob


Melongok Hasil Ujian Sekolah Berbasis Komputer dan Smartphone

Solichan Arief - Alqomar
Tim Wartawan Surabaya Pagi
Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN) dengan berbasis komputer maupun smartphone (BKS) di sejumlah SMA negeri/swasta di Surabaya, Senin (4/3/2019) kemarin akan dievaluasi untuk menuju Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).
Pasalnya, penggunaan smartphone bagi siswa SMA/SMK/MA masih rawan kebocoran. Praktis dalam pelaksanaan UNBK, penggunaan smartphone akan segera dihilangkan.
Hal itu diungkapkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, usai meninjau USBN BKS di sejumlah SMA Negeri di SMA Kompleks Surabaya, Senin (4/3/2019). Khofifah menyimpulkan masih ada yang perlu dilakukan Pemprov Jatim, terutama untuk tidak menggunakan smartphone dalam UNBK.
Khofifah, usai meninjau, berbicara kepada Saiful Rahman Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur bahwa ujian nasional tetap menggunakan komputer dan laptop.
"Nanti Ujian Nasional tetap 100 persen (menggunakan komputer,red), cuma untuk smartphone ini, kami upayakan menggunakan laptop. Meski ujian dengan smartphone sebuah terobosan tetapi pandangannya untuk mengerjakan kurang luas," kata Bude Khofifah di depan wartawan termasuk wartawan Surabaya Pagi, Senin (4/3/2019).
Khofifah menambahkan, penggunaan smartphone terutama akan membuat siswa tidak leluasa saat mengerjakan soal-soal matematika atau yang berkaitan angka.
"Apalagi kalau untuk matematika, kan ada yang layarnya terang begini, ada yang kurang terang. Karena kalau untuk angka-angka itu, kan, tingkat presisinya harus tinggi. Kemudian ada grafik-grafik, ada prisma, kubus, dan seterusnya, lebih bagus pakai laptop atau komputer," kata Khofifah.
Pangkas Biaya Pencetakan
Sementara, penggunaan smartphone bagi siswa SMA/SMK/MA peserta USBN di seluruh Jatim, upaya memanfaatkan teknologi digital untuk upaya memangkas biaya pencetakan soal USBN.
"Dengan pemanfaatan digital ini, sudah tidak ada lagi pencetakan soal. Dulu ketika dicetak, biaya cetaknya tinggi, dan tingkat kebocorannya, saya tidak bisa mengatakan tinggi, ya, tapi masih ada kemungkinan," ujarnya.
Manfaat utama pelaksanaan USBN berbasis komputer dan smartphone ini, kata dia, bagaimana sistem yang terbangun telah mampu mendeteksi masing-masing siswa-siswi peserta, berapa soal yang sudah mereka kerjakan.
One Step More
Namun, kata dia, masih ada kemungkinan pelaksanaan USBN ini dilakukan dengan format yang mirip sistem Computer Assisted Test (CAT) yang digunakan Badan Kepegawaian Negara (BKN) untuk menggelar tes CPNS.
Khofifah pun menginginkan, ke depan pelaksanaan USBN di Jawa Timur juga bisa menerapkan sistem yang mirip atau lebih cepat lagi dari sistem CAT yang diterapkan oleh BKN.
"Kita butuh one step more, untuk bisa meningkatkan kecepatan, mengetahui nilai-nilai yang dihasilkan dari proses pelaksanaan ujian itu. Memang kalau harus dilakukan sekaligus jumlahnya besar," ujarnya.
Gangguan Server
Terkait soal gangguan server, yang menjadi hal utama untuk memastikan kelancaran pelaksanaan USBN di setiap sekolah penyelenggara. Saiful Rahman Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jatim menjaminnya.
"Jadi soal server, setiap sekolah harus ada server cadangan. Sehingga kalau ada satu server drop, sudah ada cadangan. UNBK ini sudah tahun ketiga, sudah ada proktornya, dan kami sudah siapkan URC (unit reaksi cepat,red) yang siap mengantisipasi masalah yang terjadi," ujarnya.
Pada 2019 ini, ada sebanyak kurang lebih 175 ribu peserta siswa SMA/SMK/MA di Jawa Timur yang mengikuti USBN dengan sistem baru yang diterapkan tahun ini, yakni berbasis komputer dan smartphone.
Saiful Rahman menjelaskan, sistem baru ini, yang memungkinkan siswa memilih perangkat yang digunakan untuk mengikuti USBN, juga diterapkan di daerah Kepulauan di Jawa Timur. Dia menjamin, semua persiapan sudah dilakukan secara matang.
Sementara, tiga sekolah di SMA Kompleks misalnya, baik SMA Negeri 5, 2, dan 1, tidak ada satupun siswa yang menggunakan smartphone. Mereka memilih menggunakan laptop. Sementara di SMAN 9, ada 17 kelas masing-masing 18 siswa menggunakan smartphone dan laptop. n

Berita Populer