•   Rabu, 19 Februari 2020
Peristiwa Politik

Kiai dan Relawan Jokowi Kecewa

( words)
Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin berpose dengan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju periode tahun 2019-2024 di Verdana depan Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019)


Jenderal (Purn) Fachrul Razi ditunjuk Presiden Jokowi mengisi jabatan Menteri Agama (Menag) di Kabinet Indonesia Maju. Sementara itu, Prabowo Subianto menjabat Menteri Pertahanan (Menhan). Apakah terobosan ini berdampak baik atau malah blunder?

Terkait penunjukan Fachrul Razi, Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Robikin Emhas mengatakan, pihaknya menerima protes dari banyak kiai. Menurutnya, banyak kiai di berbagai daerah merasa kecewa dengan keputusan Jokowi terkait jabatan Menag.

"Saya dan pengurus lainnya banyak mendapat pertanyaan terkait Menteri Agama. Selain pertanyaan, banyak kiai dari berbagai daerah yang menyatakan kekecewaannya dengan nada protes," kata Robikin, Rabu (23/10/2019).

Menurut Robikin, para kiai paham bahwa Kemenag harus berada di garda depan dalam mengatasi radikalisme berbasis agama. Namun sayangnya, pemilihan pemimpin Kemenag tak sesuai dengan yang diharapkan dalam membentengi NKRI dari ajaran radikalisme.

"Para kiai sudah lama merisaukan fenomena terjadinya pendangkalan pemahaman agama yang ditandai merebaknya sikap intoleran. Lebih tragis lagi, bahkan sikap ekstrem dengan mengatasnamakan agama. Semua di luar kelompoknya kafir dan halal darahnya. Teror adalah di antara ujung pemahaman keagamaan yang keliru seperti ini," katanya.

Karena dampak dari radikalisme itu sangat membahayakan, kata Robikin, maka secara kelembagaan, NU sudah mengantisipasi dan mengingatkannya jauh-jauh hari. "Bahkan NU menyatakan Indonesia sudah kategori darurat radikalisme, di samping darurat narkoba dan LGBT," tandas Robikin.

Sementara itu, Ketua Bidang Kajian Strategis Pengurus Pusat GP Ansor, tak mempersoalkan Menag yang bukan dari kalangan NU. Ia tidak mau mempersoalkan hal tersebut. Menurutnya pemilihan menteri merupakan hak presiden.

Apalagi kata dia, Menag sendiri juga saat ini memiliki tugas khusus untuk menangkal radikalisme, sehingga dengan pemilihan Fachrul Razi yang memiliki latar belakang militer cocok menangani persoalan tersebut.

"Pernyataan pak Jokowi jelas kenapa milih Menag Fachrul Razi karena ditugaskan penangkalan radikal karena itu artinya pemerintah mau fokus urus radikalisme. Kalau soal Menteri itu hak Presiden, kita engak ikut-ikut tapi kita apresiasi kerja presiden dan kita tidak akan ikut-ikut soal radikalisme," tukasnya.

Senada,

"Dalam sejarah Reformasi baru kali ini Menteri Agama RI dipegang seorang Jenderal Senior," kata Ketua Umum Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa), KP. Norman Hadinegoro, Rabu (23/10/2019).

Norman berharap, Fachrul Razi dengan posisinya sebagai Menteri Agama, dapat menjaga masjid dari fungsi aslinya agar tak dimamfaatkan aliran radikal berkedok agama. Lalu menertibkan Travel umroh dan Haji yang diniai bermasalah. Lalu memperjuangkan jamaah yang ingin naik haji tak mengantri bertahun tahun.

"Saya berkeyakinan dengan Menteri Agama yang datangnya dari militer ini Petarung dan eksekutor," tuturnya.

Dia juga berharap, perguruan tinggi Agama di bawah Kementerian kali ini juga harus bersih dari aliran Khilafah dan radikalisme.

"Begitu juga Pesantren pesantren juga mendalami iptek dan Islam rahmatin alamin," tutupnya.

Sementara penunjukan Prabowo mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansah.

“Kepada Pak @prabowo, selamat mengemban amanah baru sebagai Menteri Pertahanan RI. Semoga pertahanan Indonesia semakin kuat, disegani oleh bangsa dan negara lain. Serta mampu mereduksi ancaman terorisme dan paham radikalisme yang dapat memecah belah republik ini. Aamiin," tulis Khofifah dalam akun Twitternya.

Berseberangan dengan Khofifah, Ormas Pro Jokowi (Projo) yang selalu di belakang Jokowi menyatakan kekecewaan mereka.

"Ada kekecewaan soal Prabowo jadi Menhan, mengingat Prabowo rival yang cukup keras waktu itu. Kita bertarung cukup keras, tapi sekarang menjadi Menhan," ujar Sekretaris Jenderal Projo, Handoko, dalam konferensi pers di kantor DPP Projo, Jl Pancoran Timur Raya, Pancoran, Jakarta Selatan, Rabu (23/10/2019).

Handoko mengatakan kekecewaan itu dirasakan oleh para relawan Projo. Menurutnya, keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih Prabowo sebagai Menhan menjadi realitas politik yang sulit diterima.

"Kami memahami itu jadi kekecewaan, termasuk kawan-kawan Projo yang di grassroot, kekecewaan itu kami tangkap dan kami memahami itu. Kami menilai ini menjadi sebuah realitas politik yang cukup tidak biasa, sehingga kami menjadi sulit menerima kenyataan itu," katanya.

Handoko menilai ada komitmen yang disepakati di awal yang telah dilanggar. Komitmen itu, kata dia, terkait komitmen melawan intoleransi dan kesediaan berpolitik secara santun.

"Kubu rival yang kalah dalam pilpres karena perlawanan rakyat terhadap intoleransi, antidemokrasi, dan pelanggaran HAM justru mendapat posisi yang terhormat di kabinet. Pihak-pihak yang tidak teruji loyalitasnya dipercaya mengurus negeri ini," katanya.

Meskipun demikian, kata Handoko, pihaknya berharap semua program dapat dijalankan dengan baik untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat.
"Projo mengucapkan selamat bekerja kepada Bapak Jokowi dan KH Ma’ruf Amin serta Kabinet Indonesia Maju," pungkasnya.

Berita Populer