•   Sabtu, 4 April 2020
PERISTIWA

Kisah Hacker Surabaya Pembobol Sistem 44 Negara, dari Hobi Berujung Bui

( words)
Tiga tersangka kasus ilegal akses terhadap sistem elektronik dihadirkan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (13/3). Polisi mengamankan barang bukti berupa 3 buah HP, 4 buah laptop.


SURABAYAPAGI.com - Nizar Ananta (21), tidak pernah menyangka apa yang diperbuatnya sebagai peretas sistem atau hacker cukup berisiko. Bermula dari hobi dan penasaran, Nizar mencoba peruntungan bisnis jualan jasa keamanan, namun bukan untung yang didapat, tapi buntung.
Nizar tercatat sebagai salah seorang mahasiswa di sebuah kampus di Surabaya, Jawa Timur. Di usia yang terbilang muda, dia sudah mampu memiliki perusahaan di bidang konsultan IT. Perusahaan tersebut rupanya dia dapat dari cara lancung. Dia bersama anggota kelompok peretas, Surabaya Black Hat (SBH), meretas berbagai situs yang ada didunia.
Nama Nizar dan kelompoknya kian melambung. Mereka berhasil meretas ratusan situs di dunia. Polisi mencatat mereka menjebol sistem di 44 negara. SBH akhirnya menjadi kelompok yang dicari-cari Federal Bureau of Investigation (FBI) dan Polri.
Ibarat sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu akan jatuh juga. Perbuatan Nizar Cs terendus aparat. Mereka harus mempertanggungjawabkan kejahatannya di meja hijau. Nizar ditangkap Subdirektorat Cyber Crime Polda Metro Jaya bersama dua rekannya, Katon Primadi Sasmitha (21) dan Arnold Triwardhana Panggau (21).
Ditemui di Polda Metro Jaya, Nizar yang bertubuh hitam dan tinggi ini menceritakan awal ketertarikannya dengan dunia hacker.
Nizar menyebutkan minat terhadap dunia IT tumbuh sewaktu duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Awalnya, Nizar hanya gemar bermain game online Ragnarok. Hobinya itu memicu kemauan mengetahui dunia hacking. Semakin menggeluti dunia hacking, pria ini semakin tertarik dan mulai belajar menghacking situs yang dibuatnya sendiri.
"Sebagai awalan saya belajar meng-hack situs saya sendiri, dan ternyata berhasil," jelas pemuda ramah senyum ini.
Keberhasilannya menghacking situs sendiri membuatnya mencoba untuk meretas situs-situs lain yang lebih sulit. Menurut dia, meretas dilakukan untuk mengetahui secara pasti sistem keamanan suatu situs dan bagaimana cara memperbaikinya.
"Tertariknya dari rasa penasaran terhadap teknologi keamanam sistem yang setiap saat semakin canggih, meretas dilakukan untuk mempelajari keamanan sekaligus cara perbaikannya seperti apa. Semakin sulit keamanannya semakin bagus," ungkap dia.
Meski meretas berbagai situs, namun Nizar mengklaim diri mereka merupakan hacker dari golongan white hat, karena tidak merusak situs yang mereka retas. Namun sayangnya mereka tidak memiliki CEH (Certified Ethical Hacker) karena tidak memiliki sertifikat tersebut, apa yang dilakukan Nizar dan kelompoknya dikategorikan ilegal.
"Sertifikat tersebut tidak murah untuk mendapatkannya," ujar dia.
Nizar menyebutkan, caranya mendapatkan uang dari sistem keamanan yang mereka retas, yakni dengan menawarkan sistem keamanan yang lebih baik kepada pemilik situs.
"Kita misalnya menemukan celah di sebuah website. Pemilik website akan bertanya celahnya di mana. Saya tawarkan. Mau pakai jasaku gak. Kalau mau pakai jasa saya, nanti diperbaiki celah keamanan," papar dia.
Untuk biaya peningkatakan keamanan situs Nizar menawarkan harga 150 dolar hingga 600 dolar.
"Saya sendiri 150 Dollar sampai 600 dollar. Kenyataan ada yang kasih lebih bahkan bisa sampai 800 dollar," ungkap dia.
Kerjaannya meng-hack berbagai situs ini menurut Nizar tidak selalu berhasil, Namun, dari kebanyakaan kasus yang ada, dirinya mampu meretas ratusan situs.
"Biasanya butuh waktu tiga hari untuk meretas, Nggak selalu berhasil juga," jelas dia.
Nizar mengungkapkan, sebenarnya dirinya telah keluar dari kelompok peretas SBA sejak pertengahan 2017, dan memulai perusahaannya sejak awal 2018 ini. Namun, karena telah diburu sejak lama, akhirnya Nizar dan ketiga rekannya yang lain berhasil diamankan beberapa waktu lalu. (lp/02)

Berita Populer