•   Rabu, 11 Desember 2019
Traveling

Kombinasikan Gaya China dan Eropa, Sering Dipakai Foto-fotoan

( words)
Kawasan Pecinan di Surabaya yang menggabungkan gaya Eropa dan China.


Mampir Kawasan Pecinan Surabaya

Jam menunjukan pukul 09.00 WIB, matahari belum terlihat tinggi, namun begitu terik terasa di jalan Panggung, Surabaya yang sedang berbenah. Para pekerja terlihat memasang paving blok. Kawasan Panggung yang menjadi perbatasan kawasan kampung arab dan kawasan Pecinan sedang dilakukan revitalisasi. Untuk arah selatan pasar Pabean, selain paving blok terdapat lampu jalan cukup cantik gaya Eropa dan China.
Wartawan SurabayaPagi,
Fauzan

Berjalan sekitar 500 meter kearah selatan Pasar Pabean menuju gapura utama kawasan Pecinan terlihat Ornamen 2 Naga saling bertolak belakang. Di bagian paling atas dan terdapat tulisan Kya-Kya yang dalam bahasa Hokkien jalan-jalan. Terlihat sangat padat kendaraan ketika memasuki kawasan Pecinan, jalan Kembang Jepun.


Image

Kawasan ini begitu ramai di pagi hari karena menjadi salah satu pusat perdagangan. Ketika masuk melewati Gapura terdapat bangunan di siku jalan dengan gaya arsitektural klasiknya dengan cat warna hijau cukup memancing perhatian. Tak jauh dari bangunan pertama tepat disebrang bangunan tinggi berwarna orange yang dengan tulisan nomer 144.

Untuk menyebrang di Kembang Jepun cukup harus berhati-hati karena kepadatan lalu litas di jalan ini. Tiba di bawah bangunan tersebut diselasar terdapat warung makan dan minuman milik Pak Mui yang juga sebagai RW 01 Kembang Jepun.

Pak Mui bisa dikatakan sebagai salah satu yang mengetahui perkembangan Kembang Jepun dan sekitarnya. “Saya lahir di sini, di Kembang Jepun 1, sekarang pindah di Kembang Jepun 2. Karena rumah saya yang dulu dibeli dan dijadikan pertokoan,”ulasnya.

Mui dipercaya menjadi RW sampai saat ini, hingga sudah 3 kali menjabat. Pak Mui bercerita perkembangan Pecinan dari banyaknya rumah kuno yang direvitalisi oleh pemerintah dengan pengecetan ulang.

Namun sayang, kawasan Pecinan ini hanya ramai di pagi hari hingga menjelang maghrib atau saat jam kerja. "Kawasan sini kalau sudah malam sepi banget, kebetulan saya jaga di stand sahabat sini, jadi tahu betul kondisi malam jalan ini," tutur Mui.

Meninggalkan Mui dan berjalan di jalan Slompretan, masih pemandangan yang sama. Banyaknya toko berjajar namun di jalan ini lebih didominasi oleh toko kain hingga ke jalan Kopi. Kalau di Kembang Jepun didominasi oleh pedagang alat tulis.

Di selatan jalan Slompretan, ada Klenteng Suka Loka di jalan Coklat. Dari sini terlihat sepanjang jalan Karet yang menggugah nostalia jaman doeloe. Pasalnya di sini, peninggalan bangunan kuno khas Pecinan lainnya, berderet manis dan terawat dengan indah. Tak banyak menghilangkan keasliannya.

Dekat jalan Coklat ada Jalan Gula. Di Jalan Gula ini, mata kita tak akan bisa beralih dari bangunan berpilar yang merupakan rumah sembayang keluarga The Goan Tjung. Nama itu tertera di papan yang terdapat di atas pintu masuk.

Rumah sembayang yang begaya arsitektural China dan ornamen yang menempel serta terdapat 2 patung singa di kanan kiri pintu.

Kawasan ini makn terlihat indah karena berhiaskan lampu jalan bergaya Eropa di sepanjang jalan. Di sebelah utara rumah keluarga The Goan Tjung, terdapat rumah sembayang juga milik Keluarga Han Bwee Kwoo. Rumah sembahyang yang satu ini berbeda karena mempunyai plakat cagar budaya. Di plakat tertulis Rumah Abu Han Jalan Karet no 72 Surabaya beserta keputusan SK Walikota.

Keindahan nuansa jadul (jaman dulu) di sini menarik banyak orang. Bahkan sampai di luar Surabaya. Tak heran, kawasan ini sering jadi ajang foto-fotoan, selfie, pre wedding hingga lokasi pemotretan fotografer profesional.

“Di sini sering dipaka foto-fotoa, apa lagi sore hari hampir ada saja (yang foto-fotoan). Kalau minggu lebih ramai lagi. Sayangnya, kalau malam hari di sini kota mati,”ungkap Ahmad, salah satu warga sekitar.

Kemudian Ahmad juga memberi peringatan pada pengguna jalan di sana, saat malam hari. “Kalau jalan di sini malam-malam. harus hati-hati. Jangan main HP nanti bisa dijamret. Jangankan malam, siang gini kadang ada (jambret), hati-hati,” pungkas Ahmad.

Berita Populer