•   Senin, 24 Februari 2020
KONI Jatim

KONI Jatim Sesalkan Pemangkasan Cabor PON XX Papua 2020

( words)
M. Nabil SP/Ngop


SURABAYAPAGI.com - Pemangkasan cabor pada ajang bergengsi Pekan Olahraga Nasional XX Papua memberikan dampak buruk bagi regenarasi atlet. Kabarnya, PON XX tahun depan hanya mempertandingkan 37 cabor saja. Melihat itu, Wakil kwtua KONI Jatim, M.Nabil sangat menyesalkan adanya pemangkasan cabor.

Bagaimanapun, jika dikalkulasi, provinsi yang identik dengan warna hijau itu kehilangan sekitar 36 potensi medali emas dari sepuluh cabor yang dicoret. M. Nabil, wakil ketua KONI Jatim, mengklaim kerugian mereka terbanyak ketimbang provinsi lain.

’’Tetapi, yang harus dipikirkan saat ini bagaimana posisi atlet-atlet kami,’’ ucap Nabil kemarin. ’’Soal nasib mereka. Soal income yang tiap bulan didapat dari KONI. Terlebih bagaimana menyiapkan mental mereka. Sebab, mereka menjalani puslatda hampir tiga tahun dengan latihan setiap hari, kemudian diputuskan seperti ini,’’ keluh dia.

Hari ini pihaknya akan mengadakan pertemuan dengan sepuluh cabor tersebut. Yang jelas, jika KONI Jatim sudah menerima SK resmi dari pusat, pembinaan cabor-cabor tersebut harus siap dihentikan. Sebab, kalau tidak dipertandingkan di PON, pemerintah tidak bisa memberikan bantuan dana. Itu bisa berakibat buruk bagi regenerasi atlet ke depannya.

’’Kami mengusulkan adanya pembinaan yang berkesinambungan. Dengan begitu, kami tetap bisa bina dalam bentuk latihan dan pendanaan walau tidak dipertandingkan di PON,’’ jelas Nabil.

Selain itu, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Timur dilanda kegelisahan yang besar pasca penghapusan 10 cabang olahraga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2020 Papua.

Kegelisahan dirasa karena Jatim diprediksi kehilangan 35 medali emas dari 10 cabor itu. Dengan ini, jalan menuju gelar juara umum akan semakin berat.

"Setelah kita hitung, kita akan kehilangan 35 emas," kata Ketua Harian KONI Jatim, M. Nabil kepada ngopibareng.id, Selasa 15 Oktober 2019.

Meski kehilangan 35 medali, Nabil mengatakan KONI Jatim akan mengikuti apapun aturan dan ketetapan yang telah diambil oleh Panitia Besar (PB) PON.

Hanya saja, ia menyayangkan dengan adanya penghapusan ini akan berdampak pada proses pembinaan. Sebab, setelah ini KONI harus menghentikan semua hak yang didapat pada atlet penghuni skuad Puslatda.

"Artinya, yang Puslatda akan diberhentikan semua pembinaan dan bantuan dana karena sudah tidak lagi dalam Puslatda. Karena, biaya Puslatda ini kan orientasinya untuk PON ketika semua batal maka harus kita hentikan," jelasnya.

Dengan berhentinya pembinaan maka program regenerasi atlet juga akan terhenti. Artinya, jika ke depan akan ada event internasional maka yang menghuni skuad Pelatnas hanya atlet-atlet senior, yang mungkin sudah tidak berada pada masa keemasan.

"Sehingga, ada yang mubadzir dari pembinaan kemarin. Ada stagnasi pembinaan di situ karena terkait dengan prestasi Indonesia di kancah internasional," imbuhnya.

Karena itu, sebagai langkah awal KONI Jatim akan memberi motivasi kepada atlet-atlet yang batal bertanding agar mental tidak jatuh. Serta, akan membuat formulasi baru akan membuat single atau multievent 10 cabor ini agar pembinaan tetap berjalan.

Berita Populer