•   Jumat, 6 Desember 2019
Skandal Properti

Konstruksi Bangunan PT Sinar Suri, Diduga Salahi Prosedur

( words)
Petugas Tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya memeriksa bangunan tanggul lumpur PT Sinar Suri di Jalan Raya Sukomanunggal No. 168, Surabaya, Senin (12/8/2019). Ambruknya tanggul ini menyebabkan Imam Safi’i (35), karyawan PT. Ardiles, tewas setelah tertimbun luapan lumpur pembangunan gedung PT Sinar Suri.


Insiden Lumpur Maut di Sokomanunggal Surabaya

Ambruknya dinding tanggul lumpur milik PT Sinar Suri di Jalan Raya Sukomanunggal No. 168 Surabaya, berbuntut panjang. Tak hanya membuat nyawa Imam Safi’i (35), karyawan PT. Ardiles, melayang. Polisi juga turun tangan untuk menguak penyebab ambrolnya tanggul itu. Termasuk mengusut perizinan dan teknis kontruksi proyek pembangunan gedung PT Sinar Suri Jaya.
------
Hendarwanto-Firman Rachman,
Tim Surabaya Pagi

Petugas Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya, Senin (12/8/2019), turun ke lokasi melakukan pengusutan. Sedikitnya, enam petugas Labfor yang mengenakan kemeja lengan pendek putih hilir mudik di sekitar area tanggul seluas 20 meter x 120 meter persegi.

Kasubbid Fisika Komputer Forensik Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya, AKBP Joko Siswanto, mengatakan pihaknya masih berupaya mencari dua hal penting dalam insiden ambruknya tanggul tersebut. Pertama, mengidentifikasi lokasi awal ambruknya dinding tanggul. Kedua, mengidentifikasi penyebab ambruknya dinding tanggul. "Kami masih mencari lokasi awal munculnya itu dan mencari tahu penyebabnya apa," ucap AKBP Joko di lokasi.

Joko menambahkan, pihaknya saat ini masih berfokus pada menganalisa konstruksi, desain, dan struktur utama bangunan yang ambruk tersebut. "Kami masih melakukan pengumpulan data-data itu," terang dia.

Ia memastikan, proses identifikasi akan berlangsung sekitar sepekan, dan hasil sementara proses penggalian data akan diserahkan langsung ke pihak Polrestabes Surabaya. "Kami harus mengambil sampel tanah dan melihat konstruksinya, bagaimana desainnya, ya sepekan lebih," tandasnya.

Tim labfor juga melalukan olah TKP dan menyita sejumlah barang bukti untuk diuji. Tim Labfor ini didatangkan Polrestabes Surabaya setelah berhasil mengevakusi jasad Imam Syafi’i (35), karyawan PT Ardiles, yang tewas tertimbun luapan Lumpur pada Sabtu lalu.

Joko menambahkan, kesimpulan sementara kecelakaan terjadi akibat proses pembangunan. Menurutnya pembuatan tanggul menyalahi prosedur. "Bukan izinnya. Ini proses pembangunannya, temboknya tidak ada cor. Mandor, tukang ini dari teknik mesin, jadi hanya faktor pengalaman saja. Tanpa ada satu biji pun besi, ya tinggal menunggu aja ambrolnya. Yang jelas menyalahi prosedur," papar dia.

Selain mengambil sampel, Tim Labfor akan melakukan pengurasan lumpur yang ada di proyek dan menghentikan pembangunan sembari menunggu proses hukum yang saat ini mulai berjalan. "Proses hukum tetap berjalan dan permintaan warga, lumpur yang ada di lokasi penampungan dikuras akan kita kuras. Supaya tidak menimbulkan gejala berikutnya, karena cukup membahayakan. Otomatis pembangunan dihentikan hanya sementara, police line dibuka," jelas Joko.

Sementara itu, insiden terjadinya tumpahan lumpur galian proyek di Sokomanunggal, Surabaya, Sabtu (10/8/2019), akhirnya diambil alih Polrestabes Surabaya. Pengalihan kasus ini dikarenakan Polsek di Surabaya belum bisa menangani kasus tindak pidana tertentu (tipiter). “Ini masuk kasus tipiter. Jadi Polsek melimpahkan kasus kecelakaan kerja ini ke Polrestabes Surabaya,” jelas Kapolsek Sokomanunggal, Kompol Mulyono.

Terpisah, Kasatreskrim Polrestabes Surabata AKBP Sudamiran mengatakan, meskipun proses identifikasi oleh Tim Labfor Mabes Polri Cabang Surabaya. Namun, proses pembersihan bekas luberan lumpur sekitar area tanggul yang ambruk masih bisa dilakukan.

"Lalu lumpur lumpur itu boleh dibersihkan," katanya pasca mengikuti forum mediasi antara warga RT 02 dan pihak owner PT Sinar Suri.

Namun, lanjut Sudamiran, aktivitas pekerja untuk membersihkan luberan lumpur harus dalam pengawasan kepolisian. "Tapi harus di bawah para penyidik kami dan untuk tiang tiang pancang ini tetap akan kami sita. Untuk sementara olah TKP cukup untuk lumpur di belakang bangunan itu boleh dibersihkan pengawasan pihak," tandasnya.

Sebelumnya terungkap, korban Imam Safi’i (35) meninggal karena kehabisan nafas lantaran terbentur tembok roboh dan tertanam lumpur sedalam 1,5 meter.
Bahkan, perlu waku lama yakni hampir 24 jam petugas gabungan SAR menemukan korban yang tertimbun lumpur galian. n

Berita Populer