Surat Terbuka untuk Prabowo-Sandiaga Uno, yang Iku

Korban Reshuffle Jokowi ke Prabowo, Berpolitik tanpa Etika dan Hukum

Pak Prabowo Yth,
Tampaknya saat pilpres 2019 ini, Anda menerima kejatuhan buah dari korban reshuffle pemerintahan Jokowi.
Mantan Mendikbud Anies Baswedan, orang pertama korban perombakan cabinet pemerintahan Jokowi, yang merapat pada Anda. Anies, maju sebagai cagub DKI Jakarta atas usungan Partai Gerindra yang Anda pimpin. Anies yang berpasangan dengan Sandiaga Uno, akhirnya menaklukan cagub Ahok – Djarot yang didukung Jokowi bersama partai politik koalisinya.
Anies juga pernah masuk tim sukses Jokowi. Kontribusi Anies membuat formula kampanye putih ini untuk membalikkan kampanye negatif terhadap pasangan Prabowo-Hatta Rajasa pada Pilpres 2014. Upaya Anies dan tim pemenangan Jokowi ini membuahkan hasil.
Kedekatan Jokowi pada Anies, antara lain dengan menunjuk pria keturunan Arab menjadi satu deputi Kantor Transisi. Anies bertugas menyiapkan proses peralihan pemerintahan. Pemilihan SBY ke Jokowi, untuk menangani bidang kesejahteraan rakyat. Ia yang mengkaji program andalan Jokowi-JK yakni Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Kemudian ada Rizal Ramli, Menko Maritim pemerintahan Jokowi. Rizal Ramli, menjadi Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, hasil perombakan kabinet Jokowi jilid dua.
Rizal Ramli, menurut saya, memiliki keunikan. Pada awal tugasnya, ia langsung mengkritik kementerian yang sedang dipimpinnya. Menurut Rizal, nama Kemenko Kemaritiman tidak cocok dengan kondisi Indonesia. Ia mengusulkan nama Menko Maritim dan Sumber Daya. Pertimbangannya, di bawahnya ada ESDM dan Maritim Perikanan, ‎Pariwisata dan Perumahan‎,
Selain itu, Rizal Ramli juga mengkritik rencana pembelian 30 unit pesawat Airbus A350 oleh PT Garuda Indonesia Tbk. Rizal meminta agar rencana itu dibatalkan. Menteri BUMN Rini Soemarno yang membawahi PT Gaeruda, geram. Akhirnya Rizal Ramli dicopot setelah 11 bulan membantu pemerintahan Jokowi.
Demikian juga Sudirman Said, yang pernah menjadi Menteri ESDM pemerintahan Jokowi juga.
Pencopotannya disayangkan oleh banyak pengamat ekonomi. Mengingat, Sudirman Said, dikenal sebagai menteri yang tegas dalam melakukan reformasi birokrasi dan revolusi mental di internal Kementerian ESDM. Selain itu, Sudirman Said juga diakui banyak melakukan terobosan penting dan dia memerangi mafia migas.
"Alhamdulillah, tugas besar selesai. Ladang amal & perjuangan makin lebar. Jangan pernah lelah mencintai Indonesia yang hebat ini. Thx semua," kata Sudirman dalam akun twitternya yang diunggah sekitar pukul 22.30 WIB, Selasa (26/7/2016), setelah pengumuman pencopotan dirinya oleh Pemerintahan Jokowi.
Pencopotan Sudirman Said, konon terkait blok Masela. Dalam blok Masela, Presiden Jokowi, memilih untuk membangun kilang minyak di darat atau on shore. Sedangkan Sudirman Said, mengusulkan pembangunan kilang lepas pantai atau off shore.

Pak Prabowo Yth,
Menyimak latar belakang pencopotan ketiga menteri Jokowi, dan kemudian bergabung ke Anda, saat pilpres 2019 ini, saya menangkap kesan ketiga mantan menteri Jokowi, sakit hati dengan Jokowi.
Saya pernah sakit hati. Pengalaman saya saat sakit hati adalah menerima kenyataan bahwa diri saya berada dalam pesakitan fisik dan psikis jangka panjang. Apalagi sakit hati yang dilakukan karena jabatan seperti yang dialami tiga mantan menteri Jokowi.
Secara pribadi, sakit hati, saya mengangap dilukai. Kadang muncul gejolak menbenci orang yang menyakiti kita. Kesan saya, penyebab saya sakit hati dulu, karena lawan atau atasan cenderung “suka main aman’’ atau diintrik rival-rivalnya.
Lebih-lebih urusan membangun Negara. Sakit hatinya lebih parah, karena dicopot sebelum menyelesaikan tugas lima tahun bersama presiden Jokowi.
Menyimak pengakuan salah satu menteri yang dicopot Jokowi yaitu Sudirman Said, saya kagum ada kesan memiliki sifat kenegarawan. Dalam akun twitternya, Sudirman Said, yang kalah dalam Pilkada Jawa Tengah mengatakan ‘’jangan pernah lelah mecintai Indonesia yang hebat..’’
Berbeda dengan pakar ekonomi Kwiek Kian Gie, yang pernah menjadi Menteri Pemerintahan Jokowi dan Megawati.
Mereka berempat bertekad membantu Anda untuk mewujudkan program ekonomi Prabowo-Sandi.
Saya yang non partisan menebak bahwa dalam politik selalu terdapat unsur kepentingan dan kebutuhan. Maklum, permainan politik, yang saya amati dari kawan-kawan saya yang sudah terjun di partai politik, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah kepentingan.
Tapi kadang saya berpikir masih ada kawan yang tidak ikut permainan politik, sehingga saya menarik kesimpulan politik tidak sama dengan kepentingan.
Tetapi menggunakan penilaian acak dari beberapa teman saya , mayoritas politisi
Bergerak dalam sebuah kepentingan. Artinya, siapapun politisi, (mayoritas) selalu berujung dan berakhir pada term kepentingan.
Pertanyaannya, kepentingan seperti apa dan untuk tujuan apa. Ini karena saya menyerap kepentingan politikus bisa untuk memperoleh dukungan, simpati publik dan nafsu kekuasaan (jabatan). Konklusi saya, kebanyakan politisi suka mengedepankan aspek keuntungan individual atau kelompok?
Jumlah politisi yang memikirkan kepentingan yang berbasis pada terwujudnya masyarakat dan bangsa yang lebih baik, tidak banyak.
Umumnya politisi yang saya kenal memiliki kepentingan yang dilandaskan pada nafsu ingin berkuasa dan mencari untung untuk diri sendiri dan kelompoknya. Sedangkan yang berorientasi pada kepentingan politik partainya apalagi ideology partai sudah jarang saya jumpai.
Ini berbeda pada saat saya sekolah dulu. Setiap anak bangsa dituntut menjaga kelangsungan hidup NKRI dalam bahasa politik adalah kepentingan nasionalnya. Harapan saat saya sekolah dulu, bertujuan agar NKRI dapat berjalan dengan stabil dan tetap survive.
Mengingat, kepentingan nasional menurut saya yang dapat menentukan arah kebijakan politik Anda maupun Jokowi. Anda bisa merumuskan kepentingan politik untuk kelompok, pribadi atau benar-benar untuk kepentingan nasional bangsa Indonesia.
Jujur, melihat tingkah laku elite politi, saya termasuk bagian dari rakyat yang muak dan antipati terhadap politik. Beberapa kali pilpres saya golput, karena saya menyimak umumnya politisi kita penganut politik Machiavellisme, yang memegang prinsip politik tanpa etika dan hukum.
Pelajaran dari Machiavelli, yang tak pernah lupa bahwa politik hanya berbicara soal bagaimana memperebutkan dan mempertahankan kekuasaaan. Kepada teman dan anak saya, sering saya menyindir dengan ucapan nilah Indonesiaku
Makanya dalam pilpres 2019 ini pun saya prediksi bakal sarat dengan gonjang-ganjing seperti dalam pilpres 2014 lalu. Ada black compaign sampai kampanye saling serang gunakan ayat-ayat dalam Quran. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)