•   Kamis, 21 November 2019
Ekonomi China

Label Manipulator akan Berdampak Besar, Trump Masih Santai

( words)
Presiden AS, Donald Trump SP/Lw


SURABAYAPAGI.com - Presiden Amerika Serikat telah melabeli China sebagai manipulator mata uang, label itu turun pasca mata uang yuan China, yang anjlok hingga menempati angka 7. Sebelumnya, kedua Negara ekonomi terbesar dunia telah mengadakan pertemuan pertamannya selama gencatan senjata dan saat itu juga gencatan senjata berakhir.

Trump yang menganggap bahwa pertemuan tersebut tidak memberikan hasil yang baik, dirinya melayangkan kebijakan kenaikan tarif sebesar 10 persen pada produk impor China senilai US$300 miliar pada 1 September mendatang.

Atas pelabelan itu, Bank Sentral China mengatakan keputusan tersebut sangat merusak tatanan keuangan internasional dan menyebabkan kekacauan di pasar keuangan. Keputusan Washington untuk meningkatkan ketegangan mata uang pada hari Senin juga dinilai Beijing akan menghambat pemulihan dan perdagangan global.

"China belum menggunakan dan tidak akan menggunakan nilai tukar sebagai alat untuk menangani sengketa perdagangan," ujar PBOC dalam sebuah pernyataan di situs webnya.

Hal itu dikatakan Bank Rakyat China (PBOC) dalam tanggapan resmi pertama negara tersebut terhadap salvo AS terbaru dalam perang perdagangan kedua pihak yang meningkat cepat.

"China menyarankan Amerika Serikat untuk mengendalikan kudanya sebelum jatuh ke jurang, dan waspada akan kesalahannya, dan berbalik dari jalan yang salah," bunyi pernyataan tersebut.

Meski demikian, AS masih santai dan tak khawatir akan perang dagang yang berlaur-larut dengan China, dan menganggap bahwa sejumlah besar uang dari China dan negara lain tetap mengalir ke dalam ekonomi AS.

MeskiTrump mengecilkan arti perang dagang, namun Presiden Bank Sentral negara bagian StLouis, James Bullard mengatakan, bank sentral AS mungkin akan terjebak dengan lingkungan perdagangan global yang bergejolak selama bertahun-tahun.

"Saya pikir ketidakpastian rezim perdagangan tinggi saat ini," kata Bullard pada acara makan siang National Economist Club.

Dia memperkirakan ketidakpastian itu belum akan hilang dalam waktu dekat.

Perang perdagangan antara Donald Trump dan China terlihat akan menjadi sebuah pertempuran yang akan berlangsung selamanya, bagaikan terowongan yang tak berujung, tidak ada langkah yang jelas untuk mencapai sebuah resolusi.

Meskipun berbagai janji dan perundingan akan terus dilakukan namun aksi serang balas juga tak akan terelakkan, menjadikan penerangan jalan pintas perang dagang seketika padam.

Berita Populer