•   Selasa, 19 November 2019
Ekonomi China

Lagi, Perang Dagang Bikin Ekspor-Impor China Menyusut

( words)
Petugas memantau langsung proses pengangkutan container SP/Sndo


SURABAYAPAGI.com - Meningkatnya tekanan perdagangan oleh Amerika Serikat berefek pada menurunya ekspor China pada bulan Juni, sedangkan impor menyusut jauh dari apa yang diharapkan. Data terbaru dari Kepabeanan China menunjukkan bahwa Beijing mengalami penurunan impor dan ekspor yang cukup signifikan sepanjang Juni.

Impor China dari AS merosot 31,4% secara tahunan pada Juni bahkan setelah angka perdagangan tersebut turun sebesar 27% pada Mei. Adapun ekspor ke AS turun lebih tinggi yakni sebesar 7,8% jika dibandingkan dengan pelemahan 4,2% pada bulan sebelumnya.

"Secara keseluruhan, impor dan ekspor menurun dari kuartal ke kuartal, dan permintaan luar negeri yang lemah akan menjadi tantangan terbesar pada paruh kedua tahun ini," kata Zhang Yi, kepala ekonom di Zhonghai Shengrong Capital Management Beijing.
Laporan perdagangan yang suram menambah serangkaian data ekonomi yang melemah baru-baru ini sehingga memicu harapan bahwa Beijing perlu mengumumkan langkah-langkah stimulus lebih lanjut dalam waktu dekat untuk menangkal perlambatan yang lebih tajam.

Pabrikan China adalah salah satu sektor industri yang berjuang dengan tantangan lesunya permintaan di dalam maupun luar negeri.

Kenaikan tajam tarif AS yang diumumkan pada Mei meningkatkan risiko pada margin laba yang sudah tipis.

Sebuah survei resmi yang dilakukan pada Juni menunjukkan bahwa industri manufaktur mencatatkan penurunan lapangan pekerjaan dengan laju tercepat sejak krisis global, ini merupakan kekhawatiran besar bagi Beijing.

Capital Economics memperkirakan bahwa pertumbuhan global tidak akan mencapaibottom out hingga tahun depan.

Menyusul perundingan dagang yang sempat terhenti pada Mei hingga Juni 2019, tarif impor AS terhadap produk China senilai US$200 miliar mencapai titik puncaknya.

Kedua belah pihak telah sepakat untuk memulai kembali perundingan dagang dan menentukan gencatan senjata tarif impor, tetapi Washington dengan tegas menekankan bahwa tarif eksisting akan tetap berlaku.

"Meskipun gencatan senjata tercapai antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping menghapus ancaman tarif AS yang lebih lanjut, kami memperkirakan pembicaraan perdagangan akan macet lagi dan tidak butuh waktu lama," tulis Capital Economics.

Sejauh ini, Beijing mengandalkan kombinasi stimulus fiskal dan pelonggaran moneter untuk mengatasi perlambatan, termasuk ratusan miliar dolar AS dalam pengeluaran infrastruktur dan pemotongan pajak untuk perusahaan.

Berita Populer