•   Kamis, 9 April 2020
Surabaya

Lewat Industri Kriya Ikut Sumbang PDRB Jatim Sebesar 170,86 Triliun

( words)
Ketua Dekranasda Provinsi Jatim,   Nina Sooekarwo,  bersama pengurus  pada acara Peringatan HUT Dekranasda  Jatim  ke 38 di Gedung Dekranasda Prov. Jatim Jl. Kedungdoro 86 Surabaya, Selasa (6/3).


Kerja Nyata Dekranasda Jatim

SURABAYA PAGI, Surabaya – Kontribusi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jatim lewat peningkatan kontribusi industri kerajinan dalam pembangunan nasional maupun daerah kongkrit hasilnya. Ini dibuktikan dengan PDRB yang disumbang oleh industri kerajinan hastakarya keterampilan tangan (Kriya) masyarakat Jawa Timur telah mampu menyumbang sebesar Rp. 170,86 Triliun.
“Peningkatan eksport non migas, khususnya ekspor produk kerajinan 2016 lalu, Industri kreatif Jatim telah berkontribusi ke PDRB Jatim sebesar Rp. 170,86 trilun atau memberikan kontribusi 9,21 persen terhadap total PDRB Jatim sebesar Rp. 1,855,04 triliun,” kata Ketua Dekranasda Provinsi Jatim, Nina Sooekarwo, saat memberikan sambutan pada acara Peringatan HUT Dekranasda Prov. Jatim ke 38 di Gedung Dekranasda Prov. Jatim Jl. Kedungdoro 86 Surabaya, Selasa (6/3).
Menurut Bude Karwo, data BPS 2016 menjelaskan, struktur ekonomi kreatif Jatim, mayoritas didukung dari tiga sektor utama, yakni kuliner, kriya dan fashion. Untuk sub sektor kriya sendiri, PDRB Jatim disumbang mencapai Rp 25,65 triliun atau sebesar 19,87 persen. Jumlah tersebut menempati peringkat kedua setelah sub sektor kuliner sebesar 63,99 persen.
Dengan capaian tersebut, lanjut Bude Karwo, PDRB sub sektor kriya mampu memberikan kontribusi sebesar 18,06 persen untuk PDRB nasional sebesar Rp 142,06 triliun. Hal itu menunjukkan bahwa keberadaan dekranasda yang mempunyai tugas menggali, melindungi, mengembangkan dan mempromosikan potensi industri kecil dan industri kreatif mampu digerakkan mulai tingkat desa hingga perkotaan di wilayah Jawa Timur.
Selanjutnya Bude Karwo mengatakan, untuk mempertahankan apa yang telah dicapai mungkin dibutuhkan kerja keras lagi. Pasalnya era global seperti sekarang ini memiliki tantangan yang cukup komplek. Salah satu contohnya adalah kerajinan batik yang sudah diakui Unesco.
“Nah, untuk mempertahankan batik itulah yang membutuhkan keahlian dan kesabaran serta kreativitas yang tinggi. Selain itu, juga kualitas produksi serta ketepatan waktu dalam memproses dan harganyapun harus bisa bersaing dengan barang-barang dari luar negeri. Agar barang dalam negeri masih bisa bersaing dengan barang dari luar,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Bude Karwo yang menjabat sebagai Ketua Dekranasda Prov. Jatim selama dua periode, mulai 12 Pebruari 2008 – 12 Pebruari 2019 menyampaikan rasa syukur dan berterima kasih kepada seluruh pengurus yang terlibat bersama-sama memajukan Dekranasda Jatim. Tidak lupa, dikesempatan itu, Bude Karwo berpamitan kepada semua undangan yang hadir di acara peringatan HUT Dekranasda Prov. Jatim ke 38.
“Mumpung bisa sekarang ini momennya pas yaitu syukuran HUT Dekranasda yang ke 38 tahun 2018, maka hari ini saya pamit undur diri karena tahun depan sudah tidak bisa hadir di acara yang sama. Karena yang menjadi ketua dekranasdanya nanti istri gubernur yang baru siapaun yang terpilih,” kata Bude Karwo dengan nada terbatah-batah.
Untuk itu, istri Gubernur Soekarwo ini meminta ijin untuk mengundurkan diri sebagai Ketua Dekranasda Provinsi Jatim. “Sekali lagi saya mohon pamit dan mohon maaf atas semua kekurangan dan kekilafan yang mungkin tanpa sengaja saya berbuat atau kekurangan dalam bertindak atau memimpin dekranasda ini,” katanya.
“Semoga kedepan, Dekranasda Prov. Jatim tambah maju dan berkembang sesuai dengan harapan, agar masyarakat Jawa Timur yang mempunyai banyak kreativitas dan inovasi ini benar-benar bisa terwujud impiannya. Serta bisa meningkat ekonominya dan hidup sejahtera,” imbuh Bude Karwo.

Berita Populer