Mahasiswa ITS Ciptakan Aplikasi CLON bagi Penyandang Difabel

Aplikasi CLON buatan mahasiswa ITS. SP/BYTA

SURABAYAPAGI, Surabaya - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali mengukir prestasi. Berlomba di ajang International Online Competition Inventions vs Corona yang diselenggarakan oleh International Federation of Inventors’ Association (IFIA) dengan tim yang terdiri dari mahasiswa Departemen Teknik Infrastruktur Sipil dan Departemen Sistem Informasi ITS ini berhasil menyabet Gold Medal pada tema _Invention Contest for the Benefit of Humanity Against Covid-19_.

Tim tersebut ialah Hafizh Muhammad Rozaan, Rifqi Nadhif Arrafid, Galih Syifa’ul Ummah, Cahyo Aji Roliono, dan Yohanes Jose Ariawan yang menggagas inovasi berupa aplikasi bernama CLON (Claster of Education). Yakni berupa aplikasi e-learning yang dibuat untuk para penderita Autism Spectrum Disorder (ASD). Terobosan baru ini dibuat berdasarkan keresahan akan pembelajaran online yang dilaksanakan di Indonesia sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

Selaku ketua tim, Hafizh menjelaskan bila masih belum adanya media pembelajaran online yang disediakan untuk siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) dalam mengikuti pembelajaran online di masa pandemi seperti sekarang.

“Sedang media pembelajaran yang ada sekarang hanya bisa diakses oleh siswa atau mahasiswa normal seperti kita, sedangkan teman-teman kita yang berkebutuhan khusus tidak memiliki kemampuan untuk mengaksesnya,” ungkapnya.

Berangkat dari permasalahan tersebut, kelima mahasiswa ini membuat aplikasi yang digunakan untuk memfasilitasi kegiatan belajar mengajar pada siswa SLB dengan metode take and give.

Metode ini memungkinkan siswa didik mengerjakan sebuah soal sesuai petunjuk untuk menerapkan perilaku beretika baik di masyarakat yang akan divisualisasikan melalui gambar yang menarik.

“Jadi nantinya akan dipandu kemudian akan diberikan reward atas prestasi yang sudah dicapai. Hal ini membutuhkan koordinasi dengan orang tua agar pembelajaran berjalan,” terangnya.
IMG-20200710-WA0021_1
Mahasiswa Departemen Infrastruktur Sipil ITS ini mengatakan, aplikasi tersebut terdiri atas empat fitur utama yang sangat berguna untuk keperluan anak-anak SLB selagi mereka belajar dari rumah. Antara lain Learning Journey, Quiz, Pengembangan Diri, dan Social Experience.

Untuk fitur Learning Journey sendiri merupakan fitur yang di dalamnya akan ada pembelajaran harian seperti pengenalan huruf, pengenalan angka, dan pengenalan warna.

“Nantinya setelah mereka melakukan tugas pada hari tersebut, siswa akan mendapatkan poin,” tambahnya.

Menurut Hafizh, aplikasi ini juga dilengkapi dengan fitur Quiz yang merupakan fitur harian, di mana siswa hanya dapat melakukan ini satu kali sehari. Nantinya siswa akan diberi persoalan mengenai pertanyaan kepribadian, dan setelah melakukannya siswa akan mendapatkan reward sebagai apresiasi.

Lalu untuk fitur Pengembangan Diri, lanjut Hafizh, dibuat untuk meningkatkan kemampuan visual dari siswa. Nantinya akan terdapat banyak persoalan yang menggunakan gambar-gambar menarik, dengan tujuan untuk meningkatkan kepekaan dari otak kiri siswa.

Sedang fitur Social Experience dimaksudkan untuk mengimplementasikan sikap-sikap positif kepada lingkungan sekitar seperti melakukan tindakan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun).

“Hal ini akan membuat anak perlahan semakin memperbaiki emosinya agar stabil pada emosi yang positif,” tuturnya.

Lebih lanjut mengenai CLON, mahasiswa angkatan 2019 ini memaparkan, aplikasi ini juga dilengkapi fitur tambahan berupa fitur _Report_ yang berfungsi mengirimkan grafik perkembangan siswa dari pekerjaan mereka kepada pihak pendamping selaku pihak ketiga aplikasi ini, yang selanjutnya pendamping dapat mengolah langsung dan membuat kesimpulan apakah siswa mengalami peningkatan kinerja otak atau tidak.

Ia juga menjabarkan bahwa aplikasi CLON ini menerapkan machine learning yang dapat mengklasifikasikan tingkat kecerdasan siswa didik berdasarkan hasil uji pada empat fitur utama ke sebuah database. Sehingga, pada hari selanjutnya aplikasi ini akan dengan sendirinya memberikan soal berdasarkan tingkat kemampuan IQ dari siswa tersebut.

"Jadi semakin baik siswa tersebut mengerjakannya, maka akan semakin sulit soal yang diberikan pada hari selanjutnya, begitu juga sebaliknya,” paparnya.

Ditanya soal keunggulan dari aplikasi yang dibuat, Hafizh mengungkapkan bahwa CLON ini belum pernah ada sebelumnya.

“Sampai saat ini belum ada aplikasi e-learning yang dikhususkan bagi para penderita ASD, termasuk di dalamnya Tunalaras dan Tunagrahita yang bersekolah di SLB,” katanya.

Hafizh menuturkan, kendala terbesar yang dihadapi timnya adalah waktu yang mepet. Sebab pengerjaan aplikasi ini hanya sepuluh hari ditambah dengan inovasi yang dibuat bukan pada bidang keilmuannya yakni Teknik Infrastruktur Sipil.

“Sehingga pada akhirnya saya membentuk tim beranggotakan lima orang yang sudah berpengalaman dalam perlombaan Internasional serta ahli dalam mendesain dan membuat prototype,” bebernya.

Selain itu, imbuh Hafizh, dari aplikasi yang dibuatnya, ia dan tim berhasil menyabet satu Gold Medal dari 28 gold medal yang diperebutkan. Timnya juga berhasil mengalahkan 202 peserta dari 35 negara yang ikut serta dalam ajang ini.

“Indonesia sendiri mengirimkan tiga tim, yaitu tim saya dari ITS, dan dua tim dari universitas lainnya yakni Universitas Gajah Mada dan Universitas Jenderal Achmad Yani,” jelasnya.

Melalui inovasi tersebut, pemuda kelahiran Lahat, Sumatera Selatan ini berharap ke depannya aplikasi CLON dapat dikembangkan dan diwujudkan secara nyata. Selain itu, ia berharap aplikasinya dapat membantu anak-anak berkebutuhan khusus dalam mendapatkan pembelajaran secara online selayaknya siswa pada umumnya.

“Saya juga berharap semoga dapat terus membanggakan ITS di kancah internasional, nasional, maupun regional, sehingga semakin banyak prestasi yang dapat ditorehkan oleh mahasiswa ITS,” pungkasnya. Byt