•   Jumat, 28 Februari 2020
UKM & UMKM

Manfaatkan Paralon Bekas jadi Lampu Hias

( words)
Fauzi saat membuat lampu hias dengan paralon bekas. (SP/M. Yusuf)


SURABAYAPAGI.COM, Jombang - Seorang warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur ini, memang benar-benar kreatif.

Berbekal sebuah paralon bekas, seorang pria kelahiran 11 Desember 1982 yang bernama Nur Fauzi ini, dengan piawai menyulap menjadi sebuah kerajinan yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Pipa paralon bekas tersebut dirubah menjadi lampu hias yang cukup unik. Nur Fauzi mengatakan, awalnya dirinya melihat banyak pipa bekas bangunan tidak dipakai dan dibuang percuma.

"Kemudian iseng-iseng saya ambil paralon bekas itu, dan saya mencoba untuk membuat lampu hias," katanya kepada jurnalis di rumahnya, Senin (27/01/2020).


Image

Dalam proses pembuatannya, Nur Fauzi memaparkan, pertama-tama pipa paralon bekas dipotong sesuai ukuran yang diinginkan.

Kemudian, dirinya mengambil gambar sketsa yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Lantas gambar sketsa ditempelkan ke pipa paralon menggunakan lem. Setelah tertempel rapat, paralon di ukir sesuai sketsa yang tertempel menggunakan gerenda kecil.

Usai diukir, kertas sketsa dilepas dari pipa. Lalu pipa dipanasi menggunakan alat pemanas, tujuannya agar sketsa yang diukir dapat timbul efek tiga dimensi.

Agar terlihat menarik, paralon itu dicat dengan menggunakan pilox. Selanjutnya kabel dimasukkan dalam paralon, diberi fittingan, dan lampu LED. Nah, untuk lampu yang digunakan warnanya dapat berubah-rubah dengan menggunakan remot.

Fauzi mengungkapkan, yang paling sulit untuk membuat lampu yaitu pada waktu pengukiran. Apabila salah ukir, pipa sudah tidak bisa digunakan lagi alias cacat. Maka dari itu, proses pengukiran butuh waktu lama dibanding proses lainnya.

"Kesulitan lainnya yakni pemasaran. Kan rumah saya jauh dari kota. Saya saat ini hanya mengandalkan media sosial untuk menjual lampu hias ini. Dalam sehari, saya bisa membuat 6-10 pipa, tergantung kerumitannya,” ungkapnya.

Selain medsos, jelas Fauzi, barangnya juga dititipkan di tempat wisata Pacet, Mojokerto. Untuk saat ini pemesan yang banyak dari Kalimantan. Untuk daerah Jombang sendiri hanya beberapa.

”Kadang saya disuruh buat lampu untuk masjid. Saat ini saya ada pesanan lampu untuk masjid di daerah Jogoroto,” jelasnya.

Untuk harga jualnya, Fauzi mematok harga Rp 60 ribu – Rp 250 ribu per buah. Tergantung ukuran dan kerumitan ukiran. "Yang paling laku memang yang murah. Hanya saja ukirannya biasa," pungkasnya.(suf)

Berita Populer