•   Senin, 16 Desember 2019
Pilpres 2019

Ma’ruf Amin Ditolak, PKB Minta Warga NU tidak Terprovokasi

( words)
Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB Syaiful Bahri Anshori. (Foto: SP/IST)


SURABAYAPAGI.com - Senin (01/03) KH Ma’ruf Amin dihadang sekelompok massa ketika hendak mengunjungi Pamekasan Madura. Hal ini disayangkan beberapa pihak dan diduga ada pengerahan atau provokasi untuk menghadang Calon Wakil Presiden Nomor 01 ini.
Sekretaris Dewan Syuro DPP PKB Syaiful Bahri Anshori meminta warga Nahdlatul Ulama (NU) tidak terprovokasi dengan penolakan terhadap Kiai Ma’ruf Amin pada saat ingin melakukan ziarah ke makam Kiai Zuhro, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. “Orang NU jangan terpengaruh dengan kasus penolakan Kiai Ma’ruf Amin di Pamekasan, Madura,” kata Syaiful, Rabu (03/04).
Syaiful mengaku heran dengan adanya penolakan terhadap sekelompok orang terhadap Kiai Ma’ruf Amin, yang merupakan calon wakil presiden pendamping Jokowi di Pilpres 2019. “Saya fikir peristiwa ini baru pertama kali seorang ulama besar dihadang oleh masyarakat ketika akan ziarah ke seorang ulama di Madura,” imbuhnya.
Syaiful menuding ada pihak yang sengaja memprovokasi masyarakat agar menghadang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.
“Kita tahu bahwa Madura pada umumnya dan Pamekasan pada khususnya adalah daerah yang sangat religius yang sangat menghargai dan tawaddu’ dengan ulama,” ujar Syaiful.
“Melihat dari cara penolakan mereka pada kehadiran KMA, ada kelompok atau perorangan yang menjadi provokator agar masyarakat menolak kehadiran KMA (KH Ma’ruf Amin -red) di Pamekasan,” sambungnya.
Oleh karena itu, anggota Komisi I DPR RI ini meminta kepada Bawaslu untuk menyelidiki dan mengusut tuntas insiden tersebut. “Bawaslu agar segera mengusut tuntas dugaan pelanggaran tersebut,” tandasnya.
Sebelumnya, Bupati Pamekasan, Madura, Baddrut Tamam menjelaskan mengenai cawapres Ma’ruf Amin yang dihadang sekelompok massa saat berkunjung ke wilayahnya. Tamam menyebut peristiwa tersebut sebagai penghambatan dan tidak ada adu fisik saat peristiwa.
"Sebenarnya bukan penghadangan, itu penghambatan dari menuju ke lokasi. Tiba-tiba ada beberapa orang yang menggerakkan untuk melakukan penghambatan. Pihak kepolisian ada 350 polisi sudah berjaga di situ untuk pengamanan. Dari pasukan Brimob dan polisi, sebenarnya tidak terjadi apa-apa, hanya penghambatan, tidak ada adu fisik," ujar Tamam kepada wartawan, Selasa (02/04).
Peristiwa tersebut terjadi pada hari Senin (01/04), di mana Ma’ruf hendak berziarah ke makam kakek buyutnya, KH Zuhro di Desa Jambringin. Sebelum sampai ke lokasi haul, mobil tertahan. Tak lama kemudian, azan Magrib berkumandang diiringi suara massa meneriakkan nama Prabowo.
Tampak warga yang mengenakan baju koko dan berpeci berbaris di pinggir jalan. Ada juga yang menaiki kendaraan roda dua. Warga terus meneriakkan nama Prabowo. Terkait insiden tersebut, Tamam mengatakan bahwa sekelompok massa tersebut sudah diberikan pemahaman bahwa apa yang dilakukan mereka keliru.
"Diberikan pemahaman bahwa cara yang begitu cara yang tidak baik. Kami sudah koordinasi dengan kepolisian dan pihak lain. Kami memanggil pak camat, pak kades, untuk tidak melakukan hal-hal menciderai Kabupaten Pamekasan yang damai, yang sejuk," ujar Tamam.
Ma’ruf sebelumnya heran karena kegiatan berziarahnya dihadang sekelompok massa di Pamekasan. Ma’ruf menyebut pihak yang menghadangnya adalah sekelompok kecil karena ia meyakini masyarakat Madura sudah memberikan dukungan penuh kepada Jokowi-Ma’ruf Amin.

Berita Populer