Mengenang Tragedi Kemanusian, 12 Tahun Serangan Mumbai

SurabayaPagi, Asia Tenggara - sejumlah negara di Asia Selatan juga beberapa kali mendapatkan serangan teroris. Salah satunya terjadi di Mumbai, India, di tanggal yang sama 12 tahun yang lalu: 26 November 2008.
 
Mereview dari sejumlah media terbitan India, serangan terencana ini dilakukan oleh Lashkar-e-Taiba, salah satu jaringan teror yang terpusat di Muridke, Pakistan, yang punya salah satu motif untuk mengambil Provinsi Jammu dan Kashmir dari India.
 
Berlatar belakang konflik Jammu dan Kashmir dan beberapa gesekan antara muslim dan hindu di India, Lashkar-e-Taiba mengeksekusi serangan yang dimulai dengan berlayar dari Karachi, Pakistan ke Mumbai dengan merebut kapal penangkap ikan dengan membunuh nelayan pemilik kapal dan membuang tubuhnya ke laut.
Sesampainya di Mumbai Gate, rombongan berjumlah 10 teroris bersenjata tersebut menuju stasiun kereta Chhatrapati Shivaji, sesuai rencana mereka melakukan penembakan secara acak.
 
Teror di stasiun yang berlangsung selama 90 menit ini menewaskan 58 orang dan melukai 104 korban di tempat. Stasiun Chhatrapati Shivaji memang menjadi stasiun padat tempat ribuan orang berlalu lalang setiap harinya.
 
Setelah itu, kelompok teroris berpencar untuk menembak di lokasi yang berbeda dalam waktu bersamaan. Tempat-tempat tersebut adalah sebuah bangunan milik kelompok Yahudi ultra-ortodoks yang bernama Nariman House, Chabad Lubavitch, restoran Leopold, Hotel Oberoi, dan Hotel Taj Mahal Palace and Tower, yang menjadi hotel mewah dan terkenal sejak 1903 yang sempat disinggahi orang-orang penting.
 
Belum berhenti, teror masih berlanjut di dekat kantor koran Times of India di bagian selatan Kota Mumbai, Vidhan Sabha (majelis legislatif), dan beberapa tempat lain.
 
Bila dihitung, rentetan teror penembakan ini terjadi di delapan tempat dengan total 174 korban tewas (29 di antaranya bukan orang India), dan lebih dari 300 korban luka.
 
Mumbai memang bukan kali pertama mendapatkan serangan teroris, namun kronologis penembakan yang terjadi pada 2008 tersebut melukai kemanusiaan dan menjadi mimpi buruk umat manusia.
 
Di mana sekelompok dengan afiliasi yang mengatakan atas nama agama melakukan serangan yang menyiksa puluhan orang di tempat umum.
 
Bila melihat di permukaan, yang tampak adalah serangan teroris muslim yang menyasar tempat-tempat dengan komunitas non-muslim. Namun bila kita coba melihat lebih dalam, ada sentimen tersendiri antara Pakistan dan India yang sudah berkonflik sejak pasca perang dunia II.
 
Sentimen Tak Berujung
 
Sudut pandang sejarah akan memberikan referensi pemahaman lain. India, Pakistan, dan Bangladesh mulanya adalah satu wilayah. Pada 1947, koloni Inggris memerdekakan dan memisahkan India dan Pakistan berdasarkan agama mayoritas yang dianut oleh masing-masing wilayah (Ferrell, 2003).
 
Sementara itu, Jammu dan Kashmir yang menjadi provinsi dengan otoritas sendiri diberi tiga opsi: Bergabung dengan Pakistan, menjadi bagian dari India, atau tetap merdeka.
 
Walau ternyata Jammu dan Kashmir tidak memiliki militer sehingga mereka memilih untuk bergabung dengan India atau Pakistan, tergantung pada faktor-faktor seperti geografi, mayoritas agama, dan faktor lainnya (Pramanik dan Roy, 2014).
 
Pada 14 Agustus 1947, Inggris secara resmi memisahkan India dan Pakistan. Saat itu, Jammu dan Kashmir belum memilih keduanya. Pemimpin Jammu dan Kashmir Maharaja Harry Singh bahkan mulai menjuluki wilayahnya sebagai ‘no man’s land’ alias negara tak bertuan.
 
Namun tak lama setelah itu, Pakistan melakukan invasi ke Jammu dan Kashmir. Di situ lah Harry Singh mulai meminta perlindungan India untuk melawan Pakistan, dan India hanya menyetujui bantuan militer bilamana ketika menang, Jammu dan Kashmir akan menjadi bagian dari India, yang kemudian Maharaja menyepakatinya.
 
Dari sini, bisa dilihat masalah Kashmir mewakili lebih banyak hal bagi India dan Pakistan daripada kepentingan strategis. Ini adalah medan pertempuran identitas. Bagi India sekuler, ini adalah cara untuk membuktikan bahwa wilayah mayoritas muslim bisa menjadi bagian dari India yang memang heterogen.
 
Sedangkan bagi Pakistan, merebut Jammu dan Kashmir adalah cara untuk terus memperkuat identitasnya sebagai negara Muslim (Cohen, 2003).
 
Sejarah ini mengakar menjadi sentimen, laten, lalu menjadi manifest dalam bentuk kekerasan lain seperti konflik perbatasan, gencatan senjata yang terus memakan korban, hingga serangan terorisme mengerikan yang salah satunya terjadi di Mumbai pada 2008 tersebut.