Muncul Paslon Perubahan yang akan Wujudkan Surabaya Baru

Jurnalis Muda, Raditya M Khadaffi

Catatan Debat Publik Kedua Pilwali Surabaya 2020

 

“Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely".

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ungkapan dari Sir John Emerich Dalberg-Acton (Lord Acton) seorang sejarawan diatas memberi penegasan bahwa kekuasaan yang absolut cenderung  untuk korup. Ini maknanya sebuah kekuasaan yang absolut  akan menjadi korup.

Kekuasaan absolut itu antara lain bisa dihasilkan oleh birokrat yang haus kekuasaan. Salah satunya mengejar kekuasaan lima tahunan beberapa kali. Orang lain “dilarang” mengambil kekuasaannya, karena kursinya adalah miliknya secara absolut. Praktiknya penguasa ini ingin mempertahankan kekuasaannya agar tetap dipegang oleh orang pilihannya demi kepentingan status quo.

Maklum, kekuasaan yang sudah digenggamnya telah nyaman dan menguntungkan. Salah satunya dicirikan oleh seorang atau kelompok status quo. Mereka adalah orang yang ingin menjadi raja seterusnya. Termasuk “raja politik”, yang saat ini dikenal kekuasaan melalui dinasti politik.

Dalam debat publik kedua, Rabu (18/11/2020) malam lalu, sebagai jurnalis muda, saya bersama lima teman yang pernah satu kampus, sepakat bahwa paslon 01, Eri Cahyadi – Armuji (Erji), mengkukuhkan dirinya paslon status quo. Sedangkan paslon 02, Machfud Arifin (MA) – Mujiaman (Maju), paslon yang mengusung perbahan-perubahan (agent of change).

Meski tampil dan akan bekerja bak agent of change, paslon Maju, bila kelak menjadi wali kota Surabaya tahun 2020-2025 akan menghadapi pekerjaan besar. Maklum, Maju, akan memasuki organisasi yang budaya kekuasaannya dikelola dengan gaya one women show.

***

Bagi saya,  status quo dalam pemerintahan adalah upaya untuk mempertahankan dan menjaga kekuasaannya pada kondisi dan keadaan sebelumnya. Dengan kata lain, status quo adalah membiarkan pemerintah kota pada saat kondisi saat ini sama seperti kondisi yang sebelumnya, era wali kota Risma.

Artinya, dalam dua debat publik, paslon Erji, menunjukan sikap kultur bu Risma tidak akan diubah melainkan justru dipertahankan bila mereka berdua jadi wali kota Surabaya beneran.

Kengototan mempertahankan “kebaikan Risma” dalam dua kali debat, saya menangkap sinyal, keduanya lebih mementingkan program bu Risma selama ini ketimbang  nilai kemanfaatannya yang akan datang.
Kesan kuat saya, paslon 01 memiliki sikap politik yang merasa sudah puas dengan kondisi yang ada pada saat dipimpin wali kota Risma. Dengan taglinenya yang “wah” itu, paslon duet eks Kepala Bappeko dan eks Ketua DPRD Surabaya itu akan terus berusaha untuk tetap mempertahankan keadaan 10 tahun Surabaya dipimpin wali kota Bu Risma.
Dalam banyak kasus yang saya temui di beberapa organisasi pemerintahan, ada perubahan organisasi status quo yang dalam kepemimpinan tetap mempertahankan kekuasaan pimpinan lama. Paslon Eri, cenderung dikarbit demikian. Tidak pada Armuji, karena kultur Cak Armuji dan Bu Risma, berbeda.

Mengamati record bu Risma mempromosikan Eri, ada kecenderungan Eri seperti ditempa untuk bisa mempertahankan gaya kepemimpin Bu Risma, yang one man show dari one women show.

Apalagi setelah  dua kali mengikuti debat publik paslon 01 dan 02 di layar kaca, saya mencatat Mas Eri Cahyadi, memang seperti seorang orator. Sayang, kualitas bicara runtun tanpa inovasi politis, psikologis dan budaya seperti Bung Karno.

Dan ini saya bisa paham keruntunan bicara Mas Eri, mempertahankan kelompok status quo yang diciptakan wali kota Bu Risma.
Penilaian saya ini karena pamahaman saya tentang makna status quo yaitu mempertahankan keadaan tetap tidak berubah seperti era wali kota Bu Risma.

Hal tak bisa ditutup-tutupi, Mas Eri dan Cak Armuji terkesan sangat yakin apa yang sudah dikerjakan Bu Risma, telah sempurna. Artinya tak ada cacatnya, dan selalu apik.

Makanya paslon 01 dengan amat yakinnya  mengusung tagline politiknya “meneruskan kebaikan Risma”.
Hal menonjol dalam dua kali debat, Mas Eri, meski bicaranya bak seorang orator, ia tampil seperti peserta cerdas cermat dengan gaya lama memuji-muji program jadul Bu Risma. Maklum, karena Mas Eri pun adalah muka lama (status quo) yang duduk dalam pemerintahan kota Surabaya. Jadi bisa diasumsikan mas Eri, budaya yang kental kepemimpinan Bu Risma yang dikenal One women show

***

Bagaimana dengan Kelompok Perubahan yang dimunculkan oleh paslon 02, Maju?

Keduanya selama ini sama-sama bukan petinggi partai politik. Keduanya sama, dari luar birokrasi. MA, seorang jenderal polisi yang pernah memimpin tiga Polda. Dan Mujiaman, professional yang lama berkarir di perusahaan asing. Terakhir Mujiaman, “anak buah” Bu Risma, di jajaran Pemkot Surabaya yaitu memimpin PDAM, BUMD kota Surabaya. Bahkan, Mujiaman juga dikenal dengan karakter seniman teaternya.

Keduanya, tercatat memiliki prestasi di bidangnya. Makanya, banyak pengusaha Surabaya yang meyakini MA-Mujaiman, layak di Cawali-cawawalikan era bu Risma lengser.

Mencatat visi, misi dan program yang disampaikan paslon Maju, saya yakin keduanya bisa mengadakan perubahan drastis melakukan tata kola pemerintahan kota Surabaya yang lebig baik dan transparan. Terutama  kelola aset-aset yang dimiliki di luar Balai kota Surabaya seperti Pasar Turi, Pasar Tunjungan, Gelora Bung Tomo, beberapa Terminal yang mangkrak dan sarana transportasi yang memacetkan.

MA yang sudah dikenal kaya, saya yakin mantan jenderal polisi ini akan menghancurkan tradisi lama yang dipenuhi budaya korupsi. Mengingat dalam beberapa deklarasi, MA bertekad tidak mencari kekayaan dari jabatan wali kota Surabaya, tetapi ingin mengabdi ke kota kelahirannya. Maklum, pak MA, arek Suroboyo asli yang lahir sebagai anak kolong di Asrama Polisi Ketintang.

Mencermati visi, misi dan programnya, saya menyimpulkan perubahan yang diusungnya nanti  seperti membawa kota Surabaya  menuju Surabaya Baru yaitu Surabaya benar-benar kota metropolitan. Ada wajah baru pula di kota Surabaya kelak. Meminjam istilah pak MA selama ini, Surabaya akan naik kelas, Surabaya to the next level.

Apalagi, dalam kesehariannya, meski hidupnya cukup, MA dalam penampilan begitu sederhana. Tidak menunjukan dirinya pernah menjadi jenderal polisi yang disegani.

Ini meski saat kampanye, ia bersama tim suksesnya kadang menumpang mobil mewah dan bus besar bergambar dirinya dan Mujiaman.

Catatan saya sebagai jurnalis muda yang dekat dengan instansi kepolisian, MA menurut saya adalah seorang yang sudah berpengalaman dalam organisasi di kepolisian. Ia kini termasuk jenderal kaya yang tidak mikir uang lagi.

Cita-citanya menyisihkan sisa waktunya untuk sepenuhnya mengabdi dan saling menopang dengan Mujiaman, yang usianya lebih muda darinya.

Cawawalinya ini saat masih menjadi Dirut PDAM Surabaya, hal yang saya ketahui adalah pribadi yang penuh energik dengan kerja keras. Keduanya dalam beberapa deklarasi sama-sama siap mewujudkan amanah warga kota masuk dalam  perubahan besar.

MA mengajak Mujiaman menjadi cawawalinya, karena tekadnya untuk mendobrak status quo yang membudaya kuat di lingkungan Bu Risma.

Ini suatu tugas yang berat dan mesti berani diemban dengan tulus oleh keduanya. Menurut ayah saya yang wartawan senior dan kenal akrab dengan pak MA, pensiunan jenderal ini tokoh pendobrak budaya lama untuk memimpin Surabaya masuk ke babak baru.

Merubah kota Surabaya yang telah dirintis oleh Bu Risma, mendalami visi, misi dan programnya, ada nuansa perubahan yang membutuhkan keberanian, ketulusan dan keterbukaan dari seorang MA, yang beristri wanita asal Palembang.
Praktis, dari dua kali debat, suasana perlawanan kelompok Status Quo terhadap Kelompok Perubahan atau perlawanan dari kelompok perubahan terhadap kelompok status qou akan mewarnai pilkada serentak 2020,

Warga kota Surabaya, tanggal 9 Desember nanti, akan menentukan pilihannya, kepada siapakah mereka dipercaya untuk benar-benar mewujudkan Surabaya Baru yang bersih, bebas KKN dan membangun yang metropolitan tanpa gaya-gayaan pencitraan. Siapa lagi, kalau tidak memilih paslon MA-Mujiaman. (radityakhadaffi@gmail.com)