Nasabah Bank Jatim Khawatir

SURABAYA PAGI, Surabaya – Bank Jatim yang bolak-balik kebobolan, mulai dari kantor cabang hingga kantor pusat, membuat sejumlah nasabahnya khawatir. Nasabah Bank Jatim yang kebanyakan pegawai negeri Sipil (PNS) ini takut jika uangnya raib, seperti terjadi Cabang Pamekasan yang dibobol hingga Rp 2,7 Miliar. Namun mereka tak mempunyai pilihan lain, sebab gajinya langsung masuk ke rekening di Bank Jatim. Sementara Komisi C DPRD Jatim melihat manajemen Bank Jatim lemah, kurang memberikan perlindungan uang milik nasabah.
------
Novan (35) warga Gubeng, Surabaya, kepadaSurabaya Pagi, mengatakan ia khawatir jika nanti rekeningnya akan mengalami nasib yang sama seperti korban pembobolan lainnya. Namun, ia tak punya pilihan lain untuk menutup rekeningnya tersebut. Sebab, sebagai PNS atau ASN (Aparatur Sipil Negara), gajinya dibayar melalui rekening miliknya di Bank Jatim.

"Ya perasaan khawatir ada mas. Tapi mau bagaimana lagi, gaji saya ditransfer di situ. Mau buka rekening di bank lain, sayang adminnya," ujar Novan yang bekerja di Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Timur, Jalan Indrapura, Surabaya.

Senada disampaikan Desi (35), warga Kebraon. Ia menyayangkan dengan adanya pembobolan Bank Jatim yang melibatkan internal Bank Jatim. Agar uang gajiannya tak dicuri, ia punya kiat tersendiri. Ketika waktun gajian, Desi langsung mengambilnya di Bank Jatim. "Jadi aman-aman saja, karena setiap gajian, langsung saya ambil. Tapi ada perasaan was-was juga kalau nabung," kata Desi.

Selain PNS, warga Surabaya yang memiliki rekening di Bank Jatim juga merasa khawatir menjadi korban. Salah satunya Hermiwati (39), warga Lakarsantri yang sudah 10 tahun menjadi nasabah Bank Jatim. Setiap pendapatannya membuka usaha restoran, selalu menyimpannya di Bank Jatim. "Ya khawatir juga pas baca beritanya. Soalnya kan hasil kerja keras saya semua saya masukan di rekening Bank Jatim. Kalau jadi korban, waduh gak kebayang kan mas," kata Hermin.

Berbeda dengan Novan, Desy dan Hermin, ada juga nasabah yang masih merasa nyaman. Meski banyak pembobolan yang melibatkan pihak dalam Bank Jatim, ia masih berkeyakinan tidak semua personil Bank Jatim punya niat jelek untuk membobol dana nasabah. "Ya saya harap Bank Jatim lebih teliti lagi memilih pegawainya," tutur Toni, warga Darmo.

Diktirik Komisi C
Manajemen Bank Jatim dituding lemah dalam memberikan pelayanan ke masyarakat terutama perlindungan uang milik nasabah. Hal ini terbukti seringnya kasus pembobolan uang nasabah yang terjadi pada BUMD milik Pemprov Jatim tersebut. Ironisnya lagi kasus pembobolan Bank Jatim kerap melibatkan karyawan sendiri.

Menurut anggota Komisi C DPRD Jatim Suyatni Priasmoro, Pemprov Jatim dan jajaran Komisaris harusnya mencermati secara mendalam terhadap kelemahan manajemen. ”Bagi kami yang jadi masalah utama yaitu sampai detik ini jabatan Dirut Bank Jatim tak kunjung diisi. Posisi Dirut ini ada dipuncak, dan tentunya akan berimbas pada ditingkat cabang-cabang yang tentunya juga lemah,” ungkap Suyatni, Rabu (22/1/2020).

Politisi asal Partai Nasdem ini berharap, Pemprov secepatnya melakukan pembenahan-pembenahan secara mendasar pada masalah pokok di Bank Jatim, salah satunya pengisian Dirut Bank Jatim. Termasuk perlu adanya keterbukaan dan transparasi kepada publik, siapa saja kandidat yang akan diusulkan ke OJK. Jangan sampai calon dirut usulan pemegang saham, ditolak lagi seperti yang lalu.

“Kalau sudah menimbulkan preseden buruk (pembobolan dana, red) di masyarakat, tentunya mengembalikantrust (kepercayaan) masyarakat ke Bank Jatim akan sulit. Ini harus bisa ditangkap oleh Pemprov selaku pemegang saham,” lanjut pria asal Magetan ini.

Tak hanya itu, kata Suyatni pihaknya berharap juga kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperketat pengawasan terhadap Bank Jatim.
“OJK harus memperketat pengawasan kepada bank Jatim sehingga jika ada kebobolan tentunya bisa diminimalisir,” jelasnya.

Sekedar diketahui, setelah cabang DKI dan Jombang, kembali Bank Jatim mengalami kebobolan uang nasabah yang diduga dilakukan oleh teller dari Bank Jatim sendiri. Uang nasabah yang harusnya disetorkan ke bank Jatim, oleh teller disetorkan ke rekening pribadinya. Total keseluruhan uang nasabah yang diduga dibobol ’orang dalam’ tersebut sebesar Rp 2,7 M. Kini, ’orang dalam’ berinisial A dalam proses hukum oleh Polres Pamekasan.

Perbaiki Psikotes Karyawan
Anggota Komisi C lainnya, Yohanes Ristu Nugroho menambahkan, ke depan dalam proses rekrutmen kepala cabang hingga teller di Bank Jatim dilakukanfit and proper test lebih baik lagi. Perlu diperketat untuk menghindari kebocoran dan titipan yang justru merugikan bank Jatim dikemudian hari.
“Selainfit and proper test, untuk mengetahui kemampuan managerial, psikotest juga perlu untuk mengetahui kepribadian dan kejiwaan seorang calon pimpinan disebuah perusahaan,” ungkap wakil ketua Komisi C DPRD Jatim Yohanes Ristu Nugroho di kantornya, Rabu (22/1/2020).

Politisi asal PDI Perjuangan ini mengatakan test dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai bakat kepemimpinan atau tidak, apalagi dalam memimpin sebuah perusahaan. Jangan pula karyawan ini punya bakat korupsi dan main-main dalam mengelola BUMD terbesar di Jatim ini. Namun jika sudah terlanjur, terpaksa menggunakan SDM yang sudah ada, maka saat ini perlu dites ulang untuk penempatan jabatan atau posisi di internal Bank Jatim.

Klarifikasi Bank Jatim
Setelah bungkam dari upaya konfirmasi media, manajemen Bank Jatim akhirnya buka suara. Melalui surat bernomor 059/54/CSEKEX/PRM/Srt, Surabaya Pagi menerima permohonan hak jawab atas pemberitaan mengenai pembobolan Bank Jatim Cabang Pamekasan, Rabu (22/1/2020).

Dalam surat yang ditandatangani oleh Corporate Secretary Glembloh Priambodo dan PSD Komunikasi Eksternal Wardoyo, Bank Jatim menyampaikan lima poin klarifikasi. Pertama, menyatakan tidak benar Kepala Bank Jatim Cabang Pamekasan yang berinisial A, menjadi tersangka sekaligus pelaku. Kasat Reskrim Polres Pamekasan, Iptu Andri Setya Putra mengatakan, adalah teller berinisial AF (Ani Fatini) yang ditangkap polisi dan berkasnya telah dilimpahkan ke kejaksaan. Sementara Kepala Bank Jatim Pamekasan, Mohammad Arif Firdausi adalah yang melaporkan kasus penggelapan ini ke Polres Pamekasan.

Poin kedua, peristiwa fraud yang terjadi di cabang HR Muhammad, Surabaya, cabang Jakarta, cabang Jombang kasus PT SGS dan cabang Pamekasan, telah ditangani oleh aparat penegak hukum. Poin ketiga adalah Bank Jatim selalu mendukung proses hukum yang dilakukan oleh penegak hukum.

Poin keempat adalah menyatakan tidak benar sistem keamanan Bank Jatim rawan dibobol. Pasalnya, Bank Jatim telah mempunyai standar sistem keamanan yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait.

Sementara poin kelima adalah dalam hal pemberitaan agar dilaksanakan konfirmasi kebenaran informasi yang seimbang dan sesuai fakta di lapangan.

Terkait hal ini,Surabaya Pagi kembali menghubungi Corporate Secretary Bank Jatim Glembloh Priambodo untuk meminta tambahan keterangan, Rabu (22/1) sore. Namun lagi-lagi, upaya telepon tidak dijawab. Surabaya Pagi lantas mengirim pesan Whatsapp yang berbunyi, "Selamat sore, terima kasih Pak. Apakah Bapak saya hubungi?" juga tidak direspon. Sebelumnya,Surabaya Pagi sejak hari Senin (20/1) hingga Rabu (22/1) telah berupaya meminta konfirmasi. Hanya saja, upaya tersebut tidak direspon.n rga/rko/jem