•   Minggu, 8 Desember 2019
PERISTIWA

Nurul Kehilangan Pendengaran Dikenal Cerdas di Sekolah

( words)


Pacitan - Keterbatasan indera pendengaran, tak membuat Nurul Maghfiroh patah semangat menuntut ilmu di usianya 18 tahun. Bahkan gadis tuna rungu asal Pacitan ini dulu dikenal cerdas di sekolahnya.

Nurul memang bukan anak biasa. Dia tak pernah patah arang belajar apapun. Bahkan selama 6 tahun duduk di bangku MI (Madrasah Ibtidaiyah) prestasi Nurul tak kalah dengan pelajar lain. Hanya saja, dibutuhkan sedikit penyesuaian pola mengajar agar pembelajaran lebih efektif.

Kepala MI Muhammadiyah Bubakan Untung Rifai menjelaskan untuk mengajar Nurul pihaknya mengubah pola tutur ke pola tulis. Artinya, materi pelajaran disajikan dalam bentuk tulisan. Demikian pula saat bertanya kepada guru atau menjawab soal ulangan, Nurul menuliskan di atas secarik kertas.

"Anaknya cerdas. Nilainya tidak kalah dengan siswa lain," kata Untung tentang pengalamannya mengajar Nurul selama setahun di bangku kelas 6, Jumat (2/3/2018).

Kendati belum berstatus sekolah inklusi, imbuh lulusan Universitas Darul Ulum, Jombang, lembaga pendidikan yang dipimpinnya selama ini menerima pelajar berkebutuhan khusus. Sedikitnya masih ada 2 siswa penyandang disabilitas yang saat ini belajar di sekolah yang dikelola yayasan tersebut.

Sukses mengantongi ijazah MI, Nurul melanjutkan sekolah ke SLB (Sekolah Luar Biasa) di Kecamatan Ngadirojo. Di lembaga pendidikan khusus itu kehadiran Nurul langsung menyita perhatian para guru.

Selain cerdas secara akademik, bakat seninya mulai tampak. Nurul selalu antusias tiap jam pelajaran seni tari tiba. Puncaknya, pihak sekolah bermaksud mengirimnya mengikuti lomba menari tingkat provinsi.

Sepulang sekolah, Nurul tak sabar menyampaikan kabar gembira itu kepada sang ibu. Dengan isyarat, dia menyatakan kesediaannya berangkat asalkan didampingi Ginem. Sayang, karena suatu hal keluarga tak dapat ikut berangkat.

"Mulai saat itu dia tidak mau masuk sekolah lagi," ujar Ginem berkaca-kaca sambil menunjukkan arsip berisi ijazah Nurul sejak TK hingga MI.

"Sebenarnya nilainya bagus-bagus lho," imbuhnya bangga seraya menunjukkan foto masa kecil Nurul dengan beberapa pose.

Nurul baru mengikuti kegiatan belajar selama 8 bulan di SLB saat dirinya memutuskan berhenti sekolah. Sejak itu pula, ia mengisi hari-harinya dengan kegiatan layaknya warga lain. Mencari rumput untuk pakan ternak, membantu ibunya memasak, hingga mencuci pakaian milik tetangga untuk mendapat upah sekadarnya.

Suatu ketika, Nurul menyampaikan keinginannya kembali bersekolah. Namun pihak SLB tidak dapat menerimanya lagi karena alasan usia.

"Akhirnya kami ikutkan Bu Ridwan (penjahit) di Tulakan biar dia belajar menjahit," tambah Darman.

Sementara Nurul hanya menatap dan menggerakkan tangannya sebagai tanda bahasa percakapan. Pun saat ditanya cita-citanya kelak, mata dan tangan Nurul kian tegas bicara.

"Dia pingin segera lulus kursus menjahit dan bisa segera bekerja supaya bisa membantu keluarga," terang Ginem menerjemahkan bahasa tubuh anaknya.
(cr/brtjtm)

Berita Populer