•   Senin, 20 Januari 2020
Surabaya

Pemkot Diminta Belajar ke Petaling

( words)
Suasana Kya Kya Kembang Jepun, Surabaya, Rabu (23/1/2019). Kawasan Pecinan ini hanya ramai di siang hari. Pada malam hari bagai ‘kota mati’. Foto: SP/Prila Sherly


Kya Kya Kembang Jepun tak Seramai Dulu

Prila Sherly, Wartawan Surabaya Pagi
Kota tua di Surabaya utara, tak hanya diwarnai bangunan-bangunan heritage. Kawasan ini juga menjadi ikon pusat perdagangan, bahkan hidup ketika malam hari. Namun faktanya, saat ini hanya ramai di siang hari. Malamnya bagai ‘kota mati’. Seperti terlihat di Kembang Jepun yang dikenal sebagai daerah Pecinan, ditandai dengan bangunan gerbang Kya Kya dan bangunan-bangunan tua.
----
Di zaman kolonial Belanda, Kembang Jepun disebut sebagai Handelstraat yang berarti Jalan Perdagangan. Namun di masa penjajahan Jepang, kawasan ini terkenal dengan sebutan Kembang Jepun.
Banyak pedagang Tionghoa berlabuh di Surabaya dan menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan. Hingga sekarang pun, toko-toko di Kembang Jepun didominasi keturunan Tionghoa.
Kembang Jepun juga sempat terkenal kawasan kuliner malam hari, namun kini sudah memudar. Tidak ada lagi pasar malam yang menjadi salah satu pusat destinasi wisata Kya-Kya pada eranya. Pada malam hari hanya tersisa sunyi dan hening. Hanya beberapa kali kendaraan melintas, tanpa aktivitas perdagangan.
Kembangkan Nilai Historis
Prof. Tjiptohadi Sawarjuwono, guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga (Unair) mengungkapkan dua faktor penting mengapa Kya-Kya tidak seperti dulu. Pertama, lokasi yang tidak menarik untuk pengunjung bila dibandingkan dengan kawasan Surabaya barat dan timur. Faktor lainnya, aspek kebersihan.
Namun, menurut Tjiptohadi, daripada kawasan ini diarahkan pada sisi ekonomi, lebih baik dikembangkan nilai historis kawasan tersebut.
“Bila dipaksakan ke arah ekonomi, menurut saya mungkin ketika malam hari muncul permasalahan ketakutan akan keamanan sekitar. Tetapi, kalau memang ingin diarahkan ke sana lebih baik bekerja sama dengan travel agent dan masyarakat”, papar Tjiptohadi kepada Surabaya Pagi, Rabu (23/1), dengan menambahkan perlu ditekankan pada sisi kualitas layanan, produk, dan lokasi.
Terpisah, juga diungkapkan Dr. Wirawan Radianto, Dekan Fakultas Manajemen dan Bisnis Universitas Ciputra Surabaya. Kepada Surabaya Pagi, Wirawan mengungkap dari sisi pedagang sebagai faktor sepinya Kya-Kya.
Pertama, adanya perubahan mindset anak muda yang tidak ingin meneruskan usaha keluarganya. Kedua, munculnya pusat makanan yang semakin banyak di Surabaya barat dan timur.
Ketiga, lanjut Wirawan, keturunan pebisnis di Kya-Kya menyebar ke berbagai daerah. Lokasi yang macet, sekaligus jauh menjadi hal penting. Keempat, infrastruktur kurang mencukupi seperti penerangan, kebersihan, dan toilet.
Kelima, kurangnya promosi adanya spot menarik untuk berfoto ria. Keenam, kurangnya pihak yang punya ketertarikan melestarikan Kya-Kya.
Contoh Kawasan Petaling Malaysia
“Sebenarnya potensi yang bisa digali terdapat banyak seperti wisata heritage, makanan, penelitian budaya. Bila digarap serius pasti luar biasa dan menjadi ikon Surabaya kembali, bahkan bisa seperti Petaling di Kuala Lumpur, Malaysia. Maka dari itu, kurangnya lembaga komunitas, universitas, atau pihak apapun yang serius menggarap menjadi tidak ramainya Kya-Kya”, beber Wirawan kepada Surabaya pagi, kemarin.
Mengutip dari Wikipedia, Petaling atau lebih dikenal dengan Petaling Street, merupakan kawasan pecinan di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kawasan ini menjadi tempat bisnis dan pelestarian budaya dan tradisi masyarakat China di Malaysia, dengan kuil Buddha dan toko yang menjual colok, obat tradisional, dan makanan Tionghoa.
Perdagangan di sana berlangsung hingga malam hari. Kawasan ini juga dekat dengan Stasiun LRT Pasar Seni, hanya sekitar 400 meter.
Tidak hanya itu, Wirawan Radianto juga memberikan saran kepada Pemkot Surabaya untuk menjadi salah satu pariwisata unggulan, perbaikan pada infrastruktur, dan menggandeng peguruan tinggi, komunitas, maupun media untuk membranding Kya-Kya.
Namun Pemkot Surabaya sendiri ternyata telah memiliki rencana dan konsep untuk melakukan revitalisasi di kampung pecinan maupun kota tua lainnya di Kembang Jepun dan sekitarnya.
Kepala Bappeko Surabaya Ery Cahyadi mengatakan kampung pecinan di Kembang Jepun akan dihidupkan. Namun, ia menekankan agar masyarakat juga ikut andil meramaikan kembali kawasan ini. Misalnya dengan acara barongsai ketika merayakan imlek.
"Sebenarnya sebuah destinasi tidak akan hidup dan berkembang tanpa campur tangan dari masyarakat, kita hebat karena keterlibatan mereka", tutur Ery. n

Berita Populer