•   Jumat, 13 Desember 2019
Kesehatan

Penderita Autoimun Bisa Treatment Wajah

( words)
dr. Susanti Lingga Hutama, melakukan treatmen wajah pada pasiennya.


Penyakit autoimun memang banyak menyerang anggota tubuh antara lain bisa di kulit, internal organ, atau lainnya. Bagi pengidap penyakit autoimun tidak perlu berkecil hati jika ingin melakukan treatment wajah.
Wartawan SurabayaPagi, Indra

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Untuk menjawab problem kulit dan kecantikan agar menjadi lebih sehat, cerah, dan glowing pasien bisa menggunakan treatment Profira Pico Diamond Glow Laser. Treatment ini merupakan kombinasi antara Pico Genesis Laser dan Diamond Glowing Program. Aman digunakan bagi pasien pengidap autoimun.

Susanti Lingga Hutama, selaku dokter aesthetic di Profira Surabaya mengatakan jika ingin melakukan treatment wajah namun pasiennya mengidap penyakit auto imun, ada beberapa tindakan yang harus dilakukan agar hasilnya tepat.

Pertama adalah melakukan analisa dan anamnesa dahulu penyakit tersebut lebih ke arah mana auto imunnya. Apakah ada yang menyerang kulit, internal organ atau anggota badan lain yang tidak mempengaruhi kulit.

"Kalau memang tidak mempengaruhi kulit atau kulitnya sehat, tak masalah untuk melakukan treatment," katanya.

Namun kalau memang mengarah ke penyakit kulit, harus lebih hati-hati. Maka sebaiknya melakukan anestesi kemudian melakukan pemeriksaan langsung pada kulitnya apakah memang ada tanda-tanda yang tidak memungkinkan untuk dilakukan treatment.

Seperti keadaan sedang meradang, iritasi, merah-merah, gatal atau perih sebaiknya jangan melakukan treatment. Atau pasien yang punya penyakit tidak boleh terkena energi panas atau lazim di sebut lupus.

"Tapi kalau memang penyakitnya itu tidak ada masalah yang berhubungan dengan perawatan, tetap bisa melakukan treatment," imbuhnya.

Seperti ketika pasien sedang mengalami alergi atau memiliki alergi terhadap bahan-bahan atau obat-obatan tertentu sebaiknya treatment tidak dilakukan dahulu. Namun selama alerginya tidak muncul dan bahan yang digunakan tidak menimbulkan alergi terhadap pasien, maka treatment tetap bisa dilakukan.

Yang terpenting dalam melakukan treatment proses yang harus diperhatikan adalah saat pemeriksaan, riwayat penyakit, juga pemakaian cream yang sebelumnya harus benar-benar dianalisa terlebih dahulu.

Penyanyi autoimun tiba-tiba ‘terkenal’ karena diderita istri musisi Anang Hermansyah, Ashanty. , didiagnosis mengidap penyakit autoimun oleh dokter.

Penyakit autoimun adalah suatu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang tubuh kita. Sistem kekebalan biasanya melindungi diri dari kuman seperti bakteri dan virus. Ketika ada bakteri atau virus yang masuk, sistem kekebalan tubuh akan bereaksi untuk menyerang bakteri atau virus tersebut.

Biasanya, sistem kekebalan dapat membedakan sel asing dengan sel kita sendiri. Namun pada penderita autoimun, sistem kekebalan justru keliru menyerang sel tubuh kita sendiri karena menganggapnya sebagai benda asing. Lalu, sistem kekebalan tubuh akan melepaskan protein yang disebut autoantibodi yang menyerang sel-sel sehat.

Penyebab Beberapa penyakit autoimun biasanya hanya menargetkan satu organ. Namun, ada juga yang mempengaruhi seluruh tubuh seperti pada penderita systemic lupus erythematosus (SLE). Para ahli belum mengetahui apa penyebab pasti penyakit autoimun ini.

Menurut riset 2014, wanita lebih rentan mengalami penyakit autoimun dengan perbandingan sekitar dua banding satu. Seringkali, penyakit ini terjadi saat wanita telah berada di masa subur, yaitu sekitar usia 15 hingga 44 tahun.

Beberapa penyakit autoimun lebih sering terjadi pada kelompok etnis tertentu, seperti lupus yang mempengaruhi lebih banyak orang Afrika-Amerika dan Hispanik daripada Kaukasia. Penyakit autoimun tertentu, seperti multiple sclerosis dan lupus, menular dalam keluarga.

Tidak setiap anggota keluarga memiliki penyakit yang sama, tetapi mereka mewarisi kerentanan terhadap kondisi autoimun. Meningkatnya angka penderita autoimun membuat peneliti menduga faktor lingkungan seperti infeksi dan paparan bahan kimia atau pelarut juga berkontribusi pada penyakit ini.
"Diet Barat" adalah faktor risiko lain yang dicurigai mengembangkan penyakit autoimun. Makan makanan tinggi lemak, tinggi gula, dan olahan tinggi diduga terkait dengan peradangan, yang mungkin memicu respons kekebalan. Namun, hal ini belum terbukti. Riset 2015 juga membuktikan kurangnya paparan sinar matahari bisa membuat sistem kekebalan tubuh manusia cenderung bereaksi berlebihan terhadap zat-zat yang tidak berbahaya.

Berita Populer