•   Minggu, 23 Februari 2020
Pilpres 2019

Pengamat: Tampilkan Massa Pendukung, untuk Opini Publik

( words)


SURABAYAPAGI.com - Aksi saling klaim yang dilakukan paslon 01 dan paslon 02, menjelang hari coblosan pada 17 April 2019 mendatang dianggap sebagai strategi dari masing-masing tim sukses paslon. Bahkan, dengan klaim massa besar, sudah menjadi strategi bandwagon effect namun dinilai tidak signifikan dalam elektabilitas pada hari coblosan 10 hari lagi.
Hal itu yang diungkapkan beberapa pengamat politik dan peneliti Surokhim Abdussalam, ahli sosiologi politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Mahfud Fauzi, serta pakar komunikasi politik Universitas Airlangga (Unair) Yayan Sakti Suryandaru, yang dihubungi secara terpisah oleh Surabaya Pagi, Minggu (7/4/2019) kemarin.
Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC) Surokhim Abdussalam mengungkapkan, saling klaim jumlah besar massa pendukung dan publikasi kemenangan versi survei internal merupakan strategi untuk mempengaruhi opini publik.
Menurut Surokhim, klaim dukungan jumlah besar massa dan klaim kemenangan via survei internal itu masuk strategi yang disebut bandwagon effect. Bandwagon Effect itu, artinya kondisi di mana orang-orang cenderung mengikuti perilaku, gaya, bahkan cara berbicara orang lain hanya karena semua orang melakukan itu. Tidak heran kalau satu tren tertentu bisa diikuti oleh begitu banyak orang.
Jadi, dari efek bandwagon ini merupakan bagian dari bias kognitif yang dialami banyak orang secara bersamaan. Bias kognitif ini merupakan pemikiran dipengaruhi karena sesuatu tersebut dilakukan oleh orang banyak. Harapannya, dengan menunjukkan dukungan massa yang besar, calon pemilih khususnya swing voters, bakal terpengaruh untuk memilih.
Strategi Opini Publik
Selain itu, menurut teori psikologi massa, apapun yang dilakukan oleh orang dalam jumlah besar, adalah hal yang bagus. Perkara baik, buruk, benar maupun salah, ditimbang menggunakan jumlah massa, alih-alih rasional. “Massa dengan jumlah besar itu seolah-olah menunjukkan posisi yang kuat,” sebut dosen Universitas Trunojoyo ini. “Ini bagian dari strategi untuk pembentukan opini publik.”
Berdasarkan hasil survei SSC, swing voters merupakan kelompok yang paling rentan terpengaruh bandwagon effect ini. Sementara di sisi lain, undecided voters bakal memiliki pilihannya pada H-1. SSC sendiri bakal mempublikasi hasil survei mereka pada H-2.
Dikemas Sholawatan dan Konser
Terpisah, sosiolog politik asal Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Mahfud Fauzi menambahkan, pengerahan massa dengan jumlah besar demi tujuan politik itu bukan hal yang mustahil. Soalnya, kampanye modern saat ini dikemas dengan bentuk sholawatan keagamaan maupun konser-konser yang menampilkan beragam figur kesohor.
“Jadi, mobilisasi massa itu terjadi. Model-modelnya seperti sholawatan, nanti diselingi penyampaian visi dan misi. Saya lihat, yang di GBK itu pendukung setia paslon 02,” papar Agus, kepada Surabaya Pagi.
Menurut pria yang juga pernah menjabat sebagai komisioner KPU Jatim ini, pengumpulan massa dalam jumlah besar bertujuan untuk mengukur sampai sejauh mana hasil evaluasi dari survei internal masing-masing tim sukses kandidat. “Efek dari pengerahan massa ini adalah untuk mempengaruhi calon pemilih baik undecided maupun swing voters,” jelas Agus Mahfud.
Indikasi Massa Bayaran
Berbeda dengan dua koleganya, pakar komunikasi politik asal Fisip Universitas Airlangga (Unair) Yayan Sakti Suryandaru meragukan mobilisasi massa itu murni kesadaran politik dari masing-masing individu. “Itu massa beneran opo bayaran?” tanya Yayan.
Pasalnya, sebagai pengamat politik, Yayan memandang saling klaim dukungan besar massa itu tidak signifikan meningkatkan elektabilitas masing-masing kandidat. Walau disebut angka dua juta massa, Yayan menilai jumlah itu tidak sepenuhnya mewakili pilihan calon pemilih se-Indonesia.
“Tujuan show of force itu yang pertama adalah memberi tekanan pada lawan politik dan yang kedua, jelas untuk memancing pilihan massa,” sebut Yayan. “Tapi rapat terbuka itu tidak signifikan untuk mengatrol elektoral.”
Untuk survei internal, Yayan menilai adalah hal lumrah masing-masing kubu mempublikasi dan klaim kemenangan. Justru menjadi hal yang aneh kalau mempublikasi kekalahan. “Klaim kemenangan ini paralel dengan pengerahan massa supaya kelihatan beneran,” cetus Yayan. “Lagipula, mana ada pihak yang mau mempublikasikan kekalahan?”
Sementara untuk lembaga survei independen, Yayan tidak melihat ada yang berbeda. Semua memenangkan paslon 01. “Dulu selisihnya tipis-tipis. Sekarang bisa 20 persen untuk 01,” sebutnya. n

Berita Populer