Penuh Terjal, Bernadus Berhasil Bangun Tripvisto

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kesuksesan memang bukan hal yang mudah untuk diraih, banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi dengan tekad yang kuat, semangat yang meluap serta jiwa yang sehat. Seperti yang dilakukan oleh Bernadus Sumartok yang saat ini telah memegang kendali startup Tripvisto.

Berawal dari sebuah hobi berkeliling dunia, Bernadus akhirnya membuat sebuah usaha rintisan yang ia beri nama Tripvisto itu. Dalam membangun Tripvisto ini Bernadus harus merasakan berbagai halang rintang. Meski Bernadus memiliki niatan kuat untuk membantu para local guide itu serta kecintaannya pada dunia travel.

“Saya suka traveling sejak tahun 2005 dan merasa susah sekali mendapatkan local guide atau local tour operator yang bisa dipercaya ketika harus traveling ke daerah yang relatif belum mainstream,” ujar Sumartok. “Dari situ, saya melihat adanya peluang karena ketika bertemu local guide yang bagus, mereka ini kebanyakan pengusaha travel kecil tapi memiliki passion dan dedikasi yang tinggi, hanya saja belum mengerti bagaimana menggunakan internet untuk memasarkan jasa mereka.”

Sebelum Tripvistor hadir, Bernardus Sumartok sempat membangun penyedia tur online bernama Flamingo pada 2011 yang pada akhirnya harus ia tutup di akhir tahun 2012. Penutupan itu dilakukan karena Bernadus sudah tidak memiliki sumber penghasilan dan hanya tersisa kurang dari Rp1 juta di tabungan. Melihat kondisi ini, Bernadus dengan terpaksa memberhentikan karyawan-karyawannya dan berkahir penutupan agen tour and travelnya.

Ia mengakui bahwa salah satu tantangan utama menjadi seorang entrepreneur ialah memiliki mental yang siap diuji. “Pada waktu gagal, betul-betul dibutuhkan mental yang kuat untuk menghadapi masalah satu-satu, menyelesaikan dan bangun lagi,” jelas Sumartok.

Maka dari itu, ia terus bangkit dari kegagalan dan kembali mencoba peruntungannya di dunia wiraswasta hingga berbuah investasi ronde terbaru ini. Sumartok berhasil menyambung hidup dengan menjadi freelancer sebagai presentation designer.

Ia juga merasa beruntung memiliki seorang mentor yang merupakan mantan atasan Sumartok sewaktu masih bekerja di perusahaan telekomunikasi yang selalu siap dan punya waktu untuk memberikan bantuan moral, nasihat, dan bahkan sempat meminjamkan sedikit uang untuk bisa bertahan hidup.

Selama satu tahun bootstrapping, akhirnya Sumartok bisa mendapatkan omzet ratusan juta rupiah dengan modal awal kurang dari Rp2 juta. Ia lalu kembali membangun Tripvisto dari nol sembari menjalankan profesinya sebagai freelancer. “Sembari itu, saya juga belajar digital marketing, SEO, WordPress, merangkap sebagai customer service, tour guide, dan melakukan sales call ke klien potensial untuk Tripvisto.”

Dan kini, Tripvisto, penyedia paket aktivitas dan tur online berbasis di Jakarta, telah meraih investasi Seri A sebesar USD 1 juta (sekitar Rp 13,6 miliar) yang dipimpin oleh Gobi Partners. Tripvisto akan menggunakan pendanaan ini untuk mengembangkan produk, merekrut talenta, dan memperkuat pemasaran.