Novel Baswedan Kembali ke KPK, Pelaku Penyerangan

Perangi Korupsi dengan Satu Mata

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan akhirnya kembali ke Tanah Air, Kamis (22/2/2018). Sejak 10 bulan kasus penyerangan terhadap Novel, pelaku penyiraman air keras ke Novel belum berhasil diungkap. Sedang mata kiri Novel hingga kini belum sepenuhnya pulih. Dia masih harus menjalani pengobatan lagi. Akankah ini menjadi kendala dalam memerangi korupsi? Padahal, Novel Baswedan selama ini berhasil mengungkap kasus korupsi kelas kakap, seperti korupsi proyek simulator SIM yang melibatkan Irjen Pol Joko Susilo, skandal suap Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang saat itu dijabat Akil Mochtar, hingga perkara korupsi proyek e-KTP yang merugikan negara Rp 2,3 Triliun dan menyeret mantan Ketua DPR Setya Novanto sebagai terdakwa. Akankah koruptor-koruptor bakal ‘ketakutan’ dengan kembalinya Novel Baswedan ke KPK?
----------------
Laporan: Joko Sutrisno – Tedjo Sumantri

Novel Baswedan sudah tiba di Tanah Air pada Kamis (22/2) pukul 10.50 WIB. Meskipun sudah kembali ke Indonesia, Novel Baswedan tidak akan langsung menjalani tugasnya sebagai penyidik KPK. Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang sendiri mengaku masih bingung untuk menentukan tugas bagi Novel Baswedan. "Kita masih pikirkan nanti seperti apa penugasan yang akan kita berikan (untuk Novel Baswedan)," kata Saut saat dihubungi, Kamis (22/2) kemarin.
Menurut Saut, saat ini harapan KPK setelah Novel kembali adalah pemulihan total kesehatannya, sebelum nantinya menjalani kembali tugasnya sebagai penyidik di lembaga antirasuah. "(Harapannya) Novel bisa pulih seperti semula dan bergabung dengan tim (penyidik) di KPK," ujarnya.
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah mengatakan, sampai saat ini belum ada perubahan sama sekali terkait posisi Novel. "Posisi Novel masih di Direktorat Penyidikan masih dalam posisi Kepala Satgas dalam Deputi Bidang Penindakan," kata Febri.
Namun, lantaran Novel masih dalam tahap pemulihan sehingga belum bisa bekerja sebagai penyidik KPK. Selain itu, Novel juga harus beristirahat hingga menunggu operasi tahap dua yang direncanakan pada bulan April nanti. "Operasi tahap kedua dilakukan baru direncanakan sekitar bulan April ya. Kalau bisa lenih cepat tentu lebih baik itu semata tegantung pada perkembangan kesehatan Novel," ujar dia.
Terkait penyerangan terhadap Novel, menurutnya teror itu tak hanya pada individu, tapi juga pada upaya pemberantasan korupsi. Apabila pelaku teror tersebut tak kunjung terungkap, KPK khawatir hal itu menjadi preseden buruk bagi pemberantasan korupsi. "Jika tidak terungkap, tentu ini akan jadi preseden buruk bagi sejarah perang melawan korupsi. Kita tahu Novel sering kali menjadi objek serangan tersebut. Dalam bentuk lain, corruptor fight back juga diarahkan pada KPK," tandas Febri.
"KPK tentu tetap ingin pelaku penyerangan diungkap. Bagi KPK, serangan terhadap Novel adalah serangan terhadap KPK juga," imbuh Febri. Sejauh ini memang penanganan kasus teror air keras masih ditangani dan berjalan di Polri. KPK juga terus berkoordinasi lewat tim penghubung.
Ingin Segera Bekerja
Sementara Novel, dalam sambutannya saat tiba di KPK berharap mata kirinya yang rusak akibat siraman air keras bisa segera sembuh. Dia juga ingin segera kembali bekerja seperti sediakala di markas antirasuah. "Saya berharap setelah itu (sembuh), saya bisa melakukan tugas sebagaimana mestinya," kata Novel.
Meki ia masih harus lakukan operasi sekali lagi, namun Novel tak ingin menyerah. Dia menegaskan tetap akan memberantas korupsi walau hanya dengan satu mata. "Bagi saya yang terjadi kepada diri saya, saya tidak ingin menjadikannya sebagai kelemahan. Tapi semangat buat diri saya," tegas Novel.
Dia berharap apa yang dilakukannya akan menularkan semangat pada rekan-rekannya di KPK. Dia menyebut KPK harus semakin berani memerangi korupsi. "Saya tak ingin menurunkan produktivitas, jika ini terjadi itu berarti kemenangan pada pelaku penyerangan," cetus Novel yang terakhir berpangkat AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) atau setingkat Letnan Kolonel di organisasi militer TNI.
Novel pun mengucapkan terima kasih pada Presiden Jokowi dan Wapres JK atas bantuan untuk biaya pengobatan di Singapura. Novel juga berterima kasih atas seluruh dukungan dari masyarakat Indonesia.
Novel Baswedan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada tanggal 27 Juli 2017 lalu sepulang shalat subuh di masjid dekat rumahnya. Kemudian dokter mendiagnosis sekitar 95 persen bagian mata kiri Novel rusak terpapar air keras tersebut. Setelah 10 bulan, pelaku penyerangan Novel belum juga terungkap. Sampai sekarang, pihak Polda Metro Jaya belum mampu mengungkap motif di balik teror tersebut. Perkembangan kasus itu sendiri, terakhir pihak Polda Metro Jaya merilis dua sketsa wajah yang diduga pelaku teror penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.
Dari sketsa yang dipaparkan, pelaku pertama berciri-ciri pria berambut cepak dan berkulit gelap. Sementara satu terduga lainnya berambut panjang dan berkulit putih.
Utang Kapolri
Kuasa hukum Novel Baswedan, Saor Siagian mendesak Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian untuk segera mengungkap kasus penyerangan Novel. Pasalnya, setelah 10 bulan lebih penyelidikan pihak kepolisian belum berhasil mengungkap pelaku penyerangan. "Oleh karena itu, saya minta kepada saudara Tito Karnavian (Kapolri) ini utang saudara, utang kita bersama," kata Saor di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/2/2018).
Menurut Saor lambatnya penyelidikan yang dilakukan oleh tim Polda Metro Jaya adalah tanggung jawab dari Kapolri sebagai pimpinan dari Kepolisian. "Sampai sepuluh bulan ini saya kira belum ada progress-nya. Kita minta betul kepada saudara Kapolri, ini adalah tanggung jawab kepada kepolisian. Sepuluh bulan saya kira ini harus segera di tuntaskan," tuturnya.
Sementara itu, Polda Metro Jaya berharap kembalinya penyidik senior KPK, Novel Baswedan bisa memudahkan mengungkap kasus penyiraman air keras. "Tentunya untuk memudahkan komunikasi sehingga nanti lebih baik nanti kalau misalnya nanti ada informasi-informasi yang kira-kira yang dibutuhkan oleh penyidik kurang tentang informasi dari pak Novel yang masih akan pak Novel oleh penyidik itu lebih memudahkan ya," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (22/2).
Menurut Argo, tak ada target agar kasus itu bisa terungkap. Sebab, hingga kini kepolisian masih terus bekerja. Dalam kasus ini, Argo mengakui adanya tingkat kesulitan. Salah satunya adalah bukti rekaman CCTV yang tak begitu jelas meskipun sudah diperbantukan oleh kepolisian Australia. "Misalnya sudah hasil CCTV setelah kita cek kita lihat ternyata tidak bisa, tidak jelas kesulitan bukan? Sudah kita minta bantuan Australia ternyata tidak jelas, di situ kemudian kita mencari CCTV di radius rumah korban di 500 meter kita cek semua nya satu persatu kemudian setelah kita tanya ke pemilik CCTV kadang-kadang CCTV tidak bisa merekam," papar mantan Kabid Humas Polda Jatim ini.
Respon Fahri Hamzah
Mendengar kepulangan Sepupu dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke Indonesia, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengucapkan selamat datang. Dia juga menyarankan Mabes Polri untuk merekrut Novel kembali menjadi pegawai di instasi Kepolisian. "Saya imbau Mabes Polri merekrut kembali Novel Baswedan ke dalam Mabes Polri. Kalau dia sudah tak punya waktu, karena pensiun paling tidak direkrut sebagai staf ahli," kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (22/2).
Menurut Fahri, dengan kembalinya Novel bisa memperbaiki hubungan antara Polri dengan KPK. Fahri merasa, selama ini pegawai KPK terlalu banyak yang bermasalah karena itu ia minta Polri jangan tidak percaya diri untuk merekrut pegawai KPK semacam itu. "Menurut saya, pegawai KPK itu udah jadi temuan BPK karena banyak salahnya. Pensiun seenaknya, keluar seenaknya tanpa surat dari petinggimya di Polri. Jangan lupa loh, orang masuk KPK sebagai polisi itu ada UU-nya, enggak boleh sembarangan masuk dan keluar dan seterusnya itu enggak boleh," ungkap politisi yang bakal dibongkar korupsinya oleh Muhammad Nazaruddin, terpidana korupsi Hambalang.
"Karena itu menurut saya mabes polri ga usah pasif, enggak usah minder, enggak usah khwatir, rekrut aja orang-orang kayak gitu, tarik kembali Novel Baswedan ke Mabes. Lebih bermanfaat orang idealis seperti Novel ini di Polri daripada di KPK ngumpul sama LSM-LSM engga jelas," pungkasnya. n