•   Rabu, 22 Januari 2020
Kriminal

Peristiwa Penculikan Bos Tekstil Masih Misteri

( words)
Aspin Gutomo (kiri) korban penculikan yang diduga dilakukan oleh David Harianto.


Pedagang Slompretan Masih Trauma, Usai Kejadian Belasan Pria Bersenjata Tajam Datangi Toko Korban

Komunitas Tionghoa Surabaya Digegerkan Kasus Slompretan
Laporan Eksklusif oleh Rangga Putra, Hendarwanto, dan Raditya M. Khadaffi (Tim Wartawan Surabaya Pagi)
Komunitas bisnis etnis Tionghoa Surabaya, geger, atas kejadian penculikan bos tekstil Slompretan yang diduga dilakukan David Hariyanto. Keduanya sama-sama etnis Tionghoa. Mayoritas orang Tionghoa sesalkan David Haryanto (50 tahun), yang diduga pelaku mengajak belasan pria bersenjata tajam datangi toko Aspin Gutomo (67 tahun).
Sampai Kamis (2/5/2019) malam tadi, peristiwa dugaan penculikan dan pemerasan terhadap pengusaha tekstil Toko ‘Tujuh Belas’ di Jalan Slompretan, masih diliputi misteri. Meski pria keturunan Tionghoa ini telah melaporkan David Hariyanto Lukito (50), warga Kupang Baru 1/138, Surabaya, sebagai terduga pelaku. Dan hingga Kamis (2/5/2019) semalam, Polda Jatim belum memeriksa David.
Sosok David yang membawa belasan pria dan diduga memeras Aspin hingga Rp 2 miliar, akhirnya menimbulkan tanda tanya diantara pencari keadilan, terutama warga Tionghoa.
Kejadian Jumat (26/4/2019) pekan lalu di tempat usaha Aspin Gutomo, rupanya masih menyisakan trauma warga sekitar di Jalan Slompretan Surabaya. Betapa tidak, mereka bahkan tidak berani menjawab pertanyaan Surabaya Pagi seputar kejadian yang diduga didalangi David Hariyanto Lukito tersebut. Kalau pun menjawab, hanya sekedarnya.
Salah seorang pedagang kaki lima (PKL) di Slompretan yang akrab dipanggil Cak Kom mengungkapkan Toko Tujuh Belas yang bernomor 69 tutup sejak peristiwa penculikan dan pemerasan pada Jumat (26/5) lalu. Semenjak itu, sambung Cak Kom, toko tidak pernah dibuka kembali. “Yo sejak iku, wes gak tau bukak maneh,” ” jawabnya singkat saat ditemui Surabaya Pagi, Kamis (2/5) kemarin.

Image
Menurutnya, peristiwa penculikan pada hari Jumat siang itu membuat ramai. Hanya saja, orang-orang di sekitar lokasi kejadian tidak berani berbuat apa-apa. Padahal, Jalan Slompretan ini sempit. Juga padat manusia dan kendaraan. “Yo gak wani,” jawabnya sambil membuang muka.
Bahkan, orang-orang di sekitar Toko ‘Tujuh Belas’ memilih bungkam saat ditanya Surabaya Pagi. Kalau pun bersedia menjawab, itu pun cuma pendek-pendek saja. Lebih-lebih toko kanan kiri Toko ‘Tujuh Belas’, semuanya enggan menjawab pertanyaan. Boleh jadi, orang-orang ini masih trauma.
“Nggak tau, Mas,” jawab salah seorang karyawan Toko ‘Tujuh Satu’ saat Surabaya Pagi bertanya tentang kronologis peristiwa. Padahal, toko ini persis di sebelah Toko “Tujuh Belas”.
Kemudian, Surabaya Pagi bertanya apakah pemilik Toko “Tujuh Belas” mempunyai masalah utang, dia juga menjawab tidak tahu. “Lha wong karyawannya (Toko Tujuh Belas) sendiri nggak tahu,” cetusnya.
Disinggung pada ke mana para karyawan Toko “Tujuh Belas”, dia juga menjawab tidak tahu. Tapi dia mengaku mendengar jika Aspin pemilik Toko “Tujuh Belas” sedang ke luar negeri, setelah kejadian yang menimpanya.


David Sewa Ruko di Kawasan HR Muhammad
Sementara itu, sesuai laporan korban nomor LPB/336/IV/2019/UM/SPKT tertanggal 27 April 2019, David Hariyanto Lukito tercatat bertempat tinggal di kawasan HR Muhammad Ruko Golden Palace, Surabaya. Saat Surabaya Pagi bertandang ke alamat tersebut, berdiri ruko 3 lantai. Dan dari informasi yang dihimpun Surabaya Pagi, ruko itu disewa oleh David hanya sebagian, dan bisnis Travelnya milik orang lain.
Di dalam ruang lantai dasar, Surabaya Pagi hanya diterima oleh salah satu staf tiket dan reservasi bernama Lavenia Naviri. Selain Lavenia, tampak puluhan staf lain yang sibuk bekerja. “Saya dari Surabaya Pagi mau ketemu Pak David,” kata wartawan Surabaya Pagi saat ditemui staf tersebut.
“Ada keperluan apa?,” tanya Lavenia.
“Konfirmasi mengenai Pak David yang dilaporkan ke Polda,” jawab wartawan Surabaya Pagi.
Lavenia lantas menghubungi seseorang melalui telepon kantor. Sejurus kemudian, perempuan Tionghoa nan tambun ini memberitahu Surabaya Pagi, bahwa David sedang tidak berada di tempat.
Surabaya Pagi pun bertanya ke mana David, Lavenia menjawab tidak tahu. Apakah sehari-hari David datang ke ruko ini? Lavenia menjawab benar. Lalu Surabaya Pagi bertanya, menghubungi siapa untuk membuat janji dengan David, Lavenia menjawab untuk hubungi nomor kantor saja.


Jatanras
Dikonfirmasi terpisah, Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol. Frans Barung Mangera mengatakan kasus dugaan penculikan dan pemerasan dengan korban Aspin Gutomo, masih dalam penyelidikan Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim. Menurutnya, Aspin Gutomo saat diperiksa telah menyebut pelaku penculikan dan pemerasan, yakni David Haryanto Lukito sesuai dalam laporannya. "Korban telah menyebut pelaku penculikan dan pemerasan," ujar Barung di Polda Jatim, kemarin (2/5/2019).
Dengan modal ini, lanjut Barung, tinggal menunggu dari Tim Jatanras untuk mencari pelakunya. Sedangkan barang bukti masih dipelajari. "Apa yang sudah ditandatangani (pelapor Aspin Gutomo), itu masih dipelajari ," terangnya.
Seusai laporan Aspin, ia didatangi David bersama belasan pria yang diduga preman Madura. Selanjutnya, Aspin dibawa secara paksa masuk mobil dan dibawa ke Madura. Dalam perjalanan, Aspin di bawah ancaman David, disuruh mengakui atau membuat surat pernyataan. Isinya, Aspin memiliki utang mencapai Rp 2 miliar kepada David. David juga disebut meminta uang tebusan Rp 1 miliar. Kemudian Aspin diminta untuk mengambil uang di ATM sebesar Rp 24 juta yang dicairkan di salah satu minimarket di Madura. Setelah itu, Aspin dilepas di Kedinding Lor, Surabaya.

Berita Populer