Melongok Kampung Lontong Banyu Urip Lor, yang Bert

Pernah Dikelola Koperasi, kini Kapok

Laporan Noviyanti Tri, Wartawan Surabaya Pagi
MESKI cuaca kota Surabaya pada Sabtu (15/12/2018) siang terlihat mendung. Tak menyurutkan semangat warga Banyu Urip Lor gang 10, yang mayoritas ibu-ibu. Bahkan, lembaran daun pisang sudah menumpuk di teras rumah salah satu warga Banyu Urip Lor Gang 10 setiap harinya. Hal tersebut dikarenakan warga Banyu Urip Lor dikenal sebagai Kampung Lontong. Setidaknya, kurang lebih 100 lebih warganya, menjadi pembuat lontong. Praktis, Kampung Lontong, disebut sebagai kampung Usaha Kecil Menengah (UKM) terbesar di Surabaya. Bagaimana perjuangan ibu-ibu membuat lontong yang dibangun sejak tahun 1980an ini.
====
Siapa tak kenal lontong? Makanan berbahan baku beras yang dibalut daun pisang. Ibu-ibu Banyu Urip Lor gang 10, saat didatangi Surabaya Pagi, sedang asyik menyobek dan memilah daun pisang. Daun pisang itu digunakan untuk membungkus beras yang dipadatkan, menjadi lontong.
Seperti Yuli, ibu rumah tangga ini memilih meneruskan usaha pembuatan lontong dari orang tuanya karna telah memiliki banyak pelanggan. Awal ketertarikan Yuli dan pembuat lontong di Banyu Urip berasal sejak 30 tahun lalu.
Yakni bermula dari seorang nenek berusia 70 tahun, bernama Ramiyah. Ramiyah, pada awalnya, tahun 1980an, membuat lontong dan dijual di beberapa pasar.
Setelah Ramiyah semakin menua, usaha pembuatan lontong diteruskan oleh anak-anaknya dan kemudian diikuti oleh tetangga. Hingga kini meluas ke seluruh kampung.
“Jadi usaha kita ini awalnya dari bu Ramiyah. Akhirnya merembet ke beberapa tetangga dan kampung sebelah juga,” cerita Yuli, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (15/12/2018). Tak hanya di Banyu Urip Lor gang 10, tetapi gang 11 pun, warganya sangat minat memproduksi lontong.
Bisnis Turun Temurun
Yuli, awalnya hanya mencoba meneruskan usaha orang tuanya, namun setelah melihat hasil dan keuntungan berjualan lontong. Akhirnya, ia terus menekuni usaha pembuatan lontong hingga sekarang, "Daripada menganggur kan lebih baik melanjutkan usaha membuat lontong ini mbak," beber Yuli, Sabtu (15/12/2018).
Kini, Yuli dibantu dengan suaminya, Kisti yang juga membuka warung di Darmo Permai. Yuli menceritakan, membuat lontong dari pukul 15.00 WIB, terkadang ia juga dibantu anaknya agar selesai tepat waktu pukul 17.30 WIB atau saat menjelang maghrib. “Jadi disiapkan sejak sore, soalnya akan direbus hingga jam 02:30 WIB mbak. Baru setelah subuh, jam 04:00 WIB, lontong di distribusikan,” cerita Yuli.
Manfaatkan Gas Bumi
Yuli bercerita, kini dalam memasak Lontong, lima tahun terakhir memanfaatkan gas bumi dari PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Pasokan yang tak pernah berhenti serta harga yang murah menjadi alasan utamanya.
Butuh 12 jam untuk bisa melihat lontong matang. Yuli memang sengaja memasaknya lebih lama dari rata-rata 10 jam untuk mendapatkan daya tahan lontong. “Makanya mbak, kita masaknya sejak sore sampai dinihari. Untuk menjaga keawetannya,” jawab Yuli.
Lontong olahan Yuli, di distribusikan ke pasar Simokalangan, Banyu urip, Pasar Pacar Keling, Pasar Mangga Dua, hingga sejumlah pasar di Sidoarjo dan Gresik.
“Lontong ini gak pakai bahan pengawet. Jadi hanya bertahan satu hari. Alhamdulillah, setiap hari selalu habis,” cerita Yuli.
Daun Pisang Susah Dicari
Lontong buatan Yuli ini dibungkus dengan daun pisang dan tanpa pengawet. Selain karena aman bagi kesehatan, dengan daun pisang, membuat rasa lontong yang dihasilkan punya cita rasa. Berbeda dengan lontong yang dibungkus dengan plastik.
Yuli sendiri mengakui, tak mudah mendapatkan daun pisang untuk membuat pisang. Selain harga daun pisang mahal, mencapai harga Rp 150 ribu per 50 kg. Daun pisang kini sudah semakin susah dicari. “Apalagi saat musim kemaru kemarin, susah mbak. Gampang sobek, karena kering,” cetusnya.
Perharinya Yuli membuat lontong hingga 20 kg sekali masak. Namun hari Sabtu dan Minggu terkadang Yuli dan suami membuat hingga 40 kg lontong.
Keuntungan bersih yang didapatkan Yuli dan suami setiap harinya bisa mencapai Rp 100 ribu untuk 20 kg lontong. Dengan harga jual per lontong Rp 1.500 atau disesuaikan dengan ukuran.
Harga dapat naik saat lebaran 50 persen dari harga normal karna harga bahan baku pembuatan lontong saat lebaran yang ikut melonjak. “Lumayan, sehari-harinya, bisa untung lebih dari Rp 100 ribu – Rp 200 ribu.
Kini makin banyak yang buat, jadi kita pinter-pinter pasarkan. Untuk harga, rata-rata sama semua satu kampung,” jelasnya.
Yuli dan warga kampung lontong menjelaskan kunci bertahan menjadi pembuat lontong adalah dengan ketekunan dan kesabaran bukan hanya hasil yang akan diperoleh.
Dari penelusuran Surabaya Pagi, Kampung Lontong yang telah ada sejak 30 tahunan, itu pernah dikelola oleh koperasi, namun karena ada permasalahan di keuangan. Kini, warga Banyu Urip Lor itu kapok berkoperasi lagi. Mereka umumnya sudah enggan mendirikan koperasi, dan lebih memilih mandiri. n