Pilwali Surabaya, Megawati yang Mainkan “Kartu As”

Surat Terbuka untuk Calon Walikota Surabaya, 2020-2025 (7)



Pembaca yang Budiman,
Sampai Kamis (19/12/2019) semalam, nama-nama yang bermunculkan dalam bursa Pilwali Surabaya, diluar Machfud Arifin, Wisnu Shakti, Armudji, Dyah Katarina, ada juga K.H. Zahrul Azhar As’ad atau Gus Hans (Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jatim), M. Sholeh (Advokat), Haryanto, (Advokat/Ketua DPC Peradi Surabaya), Bayu Airlangga (Ketua Muda Mudi Demokrat Jatim).
Selain mereka, juga muncul nama Dimas Oky Nugroho (pegiat anak muda dan kewirausahawan sosial), Ery Cahyadi (Kepala Bappeko yang juga jago incumbent wali kota Risma), Hendro Gunawan (Sekkota Surabaya), Andy Budiman (politikus PSI), Vinsensius Awey (NasDem), Kuncarsono Prasetyo (mantan wartawan), Fandi Utomo (politisi PKB), Dedy Rachman (akademisi), Sukma Sahadewa (dokter sekaligus politikus Perindo), Didik Prasetiyono (Direktur Surabaya Consulting Group/SCG), Agnes Santoso (Presenter), Siti Nasyiah (aktivis dan penulis buku), Asrilia Kurniati (Ketua Umum Gabungan Organisasi Wanita), Dwi Astuti (pengurus Muslimat Jatim), dan lain-lain.
Nama-nama ini ada yang serius maju. Ada yang mencari perhatian dan ada yang berspekulasi di tengah banyak orang geram dengan Risma, yang selama ini dituding suka melakukan pencitraan. Termasuk urusan pamer award dari luar negeri.
Saya amati, bursa Pilwali Surabaya 2020 telah diwarnai juga dengan beragam dukungan terhadap tokoh tertentu. Mulai dukungan dari asosiasi profesi, organisasi kemasyarakatan, kiai atau pondok pesantren, aktivis, pengamat politik, ikatan alumni kampus, wartawan, paranormal, maupun dukungan dari pengusaha Tionghoa.
Padahal esensi pilwali seretak 2020 adalah rekomendasi parpol dan pemilih langsung. Jadi yang perlu saya ingatkan ke publik saat ini bukan modal dukungan-dukungan. Hal paling utama yang harus diperjuangkan oleh tokoh yang ingin maju Pilwali Surabaya 2020 adalah rekomendasi partai politik. Terutama parpol yang bisa memajukan cawalinya secara mandiri tanpa perlu mengajak koalisi dengan partai-partai lain. Dia adalah PDIP.
Maklum, hanya partai yang memiliki hak untuk mengusung calon walikota yang berkompeten bicara pilwali serentak 2020.
Artinya, nama atau tokoh-tokoh yang saya sebut diatas harus mampu meyakinkan partai politik bahwa dia layak untuk maju dan berpeluang besar memenangi Pilwali Surabaya 2020. Tanpa keyakinan itu, mustahil partai bersedia memberikan rekomendasi padanya.
Apalagi, mereka sadar bahwa ajang pilwali bukanlah perhelatan yang mudah dan murah. Partai perlu menguras energi untuk menyusun strategi pemenangan yang tepat. Bahkan partai juga mesti mengeluarkan biaya untuk menjalankan mesin politik, biaya untuk kampanye beserta alat peraganya, biaya untuk saksi-saksi.




Pembaca yang Budiman,
PDI-P, sejauh ini memiliki brand partai wong cilik. Perolehan kursi di DPRD Surabaya, dalam Pileg 2018 lalu, totalnya ada 15 kursi dari dari 5 dapil (daerah pemilihan) di Surabaya. Lalu urutan kedua, perolehan kursi diraih oleh 4 partai yang memperoleh 5 kursi. 4 partai itu masing-masing dari PKB, Partai Gerindra, Partai Keadilan Partai Golkar, PKS.
Sejauh ini, baik ideologis namun biologis, PDIP tetap bangga dengan ajaran Soekarnoisme. Apakah semua ajaran dijalankan sepenuhnya atau tidak, publik banyak yang tahu. Termasuk darah Megawati, Ketua Umum PDIP, secara biologis tidak diragukan punya kesamaan. Hanya soal aplikasinya, juga sering dipertanyakan.
Fakta menunjukkan, selama pilkada dilangsungkan di Surabaya, PDIP memiliki tradisi menang yang panjang dalam pertarungan Walikota.
Ini dihasilkan sejak periode Bambang DH dan Tri Rismaharini. Dua walikota ini yang membikin Surabaya lekat dipersepsikan sebagai ”kandang banteng”.
Tak aneh bila partai politik lain, terutama yang kini berada di urutan kedua keterwakilan di DPRD Surabaya, ada yang berambisi mendongkel dominasi PDIP di Surabaya. Pertanyaannya, akankah dalam pilkada 2020, bisa mengeser capaian prestasi PDIP, ada baiknya kita lihat setelah Desember 2019 ini.
Hal menarik yang nyaris tak mengubah tradisi kekuatan Bambang DH dan Risma, adalah saat kader dan anggota PDI Perjuangan mengantar Whisnu Sakti Buana mendaftar Calon Wali Kota Surabaya 2020 di Kantor DPC PDIP Surabaya, Jalan Setail Nomor 8 Surabaya, Agustus 2019 lalu.
Sebelum mendaftar, mereka berkumpul di kediaman Whisnu. Hampir semua kader dan simpatisan yang mengawal Whisnu mengenakan baju serba merah, sebagai identitas partai. Bahkan cukup banyak bendera partai dengan ikon banteng hitam bermoncong putih, memenuhi sejumlah ruas jalan di Surabaya.
Meski secara fisikal, dukungan terhadap Wisnu Shakti demikian gegap gempita, tidak ada jaminan anak mantan Sekjen PDIP Ir. Sutjipto, ini bisa melanggeng mudah mengantongi rekomendasi dari Ketua Umum DPP PDIP Megawati.
Apalagi, Wisnu meski kini menjabat Wakil Walikota Surabaya, tidak punya cukup dominan pengaruhnya di internal DPP PDIP. Lebih-lebih tidak memiliki jaringan luar dan memperoleh dukungan politik dari PDIP pusat .
Terbukti Ketua DPC PDIP Surabaya Adi Sutarwijono alias Awi, tidak berani bersuara lantang bahwa Wisnu Shakti berpeluang besar mengantongi tiket cawali Surabaya 2020.
Gambaran ini tidak bisa dilepaskan superioritas Mega dalam internal partai. Bahkan tidak ada yang meragukan Megawati adalah King Maker PDIP.
Teman-teman saya di DPP PDIP Jakarta menginformasikan tak sedikit bakal-bakal kandidat yang ingin berlaga pada kontenstasi politik daerah (pilkada 2020) berebut restu Mega.
Bahkan ada yang menganggap titah Mega sebagai “kunci” bagi para politisi partai berlambang banteng daerah untuk mendapatkan dukungan partai.
Restu Mega juga diibaratkan sebagai “kartu As” . Dengan ‘’kartu As’’nya, Megawati bisa memainkan truf jalan pintas semua kader dan non kader, termasuk yang muda-muda untuk maju bersaing dengan politisi senior PDIP atau non kader partai tetapi berjasa dalam Pilpres Jokowi-Ma’ruf 2019 lalu.
Contoh aktual, saat ini suara yang menyeruak adalah tampilnya Gibran Rakabuming dalam Pilkada 2020 di Solo dan balas jasa Jokowi terhadap Ketua Tim Pemenangan Daerah (TKP) Jatim Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin. Gibran dengan pedenya blusukan mencari simpati ke grassroot. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)