•   Minggu, 29 Maret 2020
Peristiwa Kriminal

Polda Diminta Gerebek Pabrik Hand Sanitizer Palsu

( words)


Jasa JNE dan Jasa Pengiriman bisa Jadi Petunjuk Menelisik Pabrikannya yang Diduga di Rungkut dan Gresik. Penjualnya Ada yang Sosialita Gunakan Instagram dengan Harga Selangit. Sementara Polrestabes Surabaya Hingga Kini Masih Lakukan Penyelidikan

Tim Wartawan Surabaya Pagi

SURABAYA PAGI, Surabaya – Polrestabes Surabaya atau Polda Jatim diminta segera turun tangan menangkap pembuat hand sanitizer gel palsu. Pabriknya diduga berada di Rungkut dan Gresik perbatasan dengan Wiyung. Pemalsu ini selain bisa dikenakan pasal pemalsuan juga bisa diancam membahayakan kesehatan manusia, karena hand sanitizer mengandung alkohol, yang bisa mematikan. Apalagi Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho, sejak awal Maret 2020 sudah mengendus praktik pemalsuan hand sanitizer gel palsu.
Beberapa ahli farmasi dan kedokteran yang dihubungi Surabaya Pagi sejak hari Sabtu hingga Rabu (25/3/2020) mengkhawatirkan, masyarakat yang butuh perlindungan kesehatan, malah tidak disehatkan, karena hand sanitizer yang dibeli palsu.

“Kasihan anak-anak kecil yang menganggap cuci tangan dengan hand sanitizer yang dibeli online bisa terbebas dari virus corona, malah terjangkit virus dan bisa malah mati, karena gelnya palsu,” jelas seorang ahli farmasi dari Unair Surabaya.

Instagram Sosialita
Beberapa ibu-ibu yang ditemui di Pakuwon Mall mengatakan, mereka mencari hand sanitizer yang asli, sudah kosong. Temannya menyarankan membuka di media social instagram sosialita atau kalangan ibu-ibu.

“Ironisnya, sosialita itu menjual dengan harga tinggi, tapi tidak jelas perusahaan yang memproduknya, karena tanpa ijin dari Kemenkes. Otomatis kualitasnya tidak jelas juga, apakah bisa membunuh kuman dan virus?,” kata seorang ibu yang berusia 50 tahunan.

Beberapa konsumen yang terlanjur membeli hand sanitizer merek-merek berbahasa Inggris mengatakan, harganya selangit. Meski demikian, karena di apotik dan supermarket tidak ada, mereka membeli melalui online.

“Cara menangkapnya pemalsu hand sanitizer mudah. Tangkap jasa pengiriman JNE dan lain-lain. Mereka yang mendapat order pengiriman. Kan tidak mungkin jasa transportasi sekelas JNE tidak punya alamat pengirim?,” tambahnya.

Wartawan Surabaya Pagi bersama seorang ahli farmasi menelusuri dari beberapa instagram. Ciri hand sanitizer palsu, tidak ada keterangan ijin dari Kemenkes. Kemasannya mewah dalam bahasa Inggris. Cara kemasan ini untuk mengecoh konsumen yang tidak teliti mengecek keasliannya, sebab hanya menunjukan botol atau jirigen di istagram. Berbeda bila beli di apotik atau supermarket, konsumen bisa meneliti nomor ijin dari Kemenkes dan nama perusahaan serta alamat pengaduan, sekaligus masa kadaluwarsa.

Pabrik Legal malah Dirazia
Minggu yang lalu, hand sanitizer jirigen dengan isi 5 liter dijual sampai Rp 10 juta. Padahal bila membeli yang asli di apotik tidak sampai semahal itu. “Sudah palsu, harga selangit. Ini namanya orang mengail di air keruh sebanyak-banyaknya. Seperti orang tidak beragama, tak menghargai kemanusiaan, hanya cari untung ditengah orang diguncang virus Corona,” komentar pegawai Apotik di kawasan Dukuh Kupang Surabaya.

Sementara itu seorang pengacara ternama di Surabaya memberi informasi, ada perusahaan legal yang dirazia aparat. Semula dituding menimbun hand sanitizer. Bahkan diperiksa pajak-pajaknya. “Ini ada oknum polisi yang malah cari-cari kesalahan pabrikan asli, tetapi pembuat hand sanitizer palsu, belum saya dengar ada yang digerebek,” kata advokat papan atas di Surabaya.

Lapak Online Marak
Sementara, dari penelusuran Surabaya Pagi di beberapa lapak online, seperti Shopee, Tokopedia, masih ada yang menjual hand sanitizer dengan harga-harga yang tak wajar. Seperti di Shopee, ada beberapa seller nakal yang mematok harga Rp 350.000 untuk 1 liter dan Rp 975.000 untuk 5 liter.

Sementara di Tokopedia hampir sama dengan Shopee. Bahkan untuk hand sanitizer ukuran 500 ml ada yang dijual Rp 380.000-Rp400.000. Seperti toko lapak Veve, yang mendapat tanda bintang tiga dari Tokopedia ini.

Saat Surabaya Pagi mencoba berkomunikasi melalui pesan di Tokopedia, untuk merek Aseptic Gel yang 500 ml dibandrol Rp 380.000. “Ini yang lagi ready Aseptic Gel. Bukan gel sih, tapi agak cair gitu. Kalau mau saya ambilkan ke distributorku,” tulis penjual itu.

Harga Mahal, Barang Menipu
Dari penampakan foto yang diberikan, sepintas asli dan legal. Namun setelah diperhatikan dari foto pada keterangan stiker yang menempel, tak tampak tulisan Kemenkes.

Bahkan, ada salah satu konsumen yang sedikit kecewa saat beli hand sanitizer melalui lapak online. Ratnasari, 29 tahun, warga asal Kutisari Indah Selatan ini, mengaku kepada Surabaya Pagi, pernah membeli hand sanitizer ukuran 500 ml dengan harga hampir Rp 650.000. Namun, yang diterima, tidak seperti gambar.

“Saya memang disuruh kantor saya untuk beli. Disuruh beli 2. Karena di apotik-apotik sudah banyak yang habis. Ada di Shopee. Bilangnya asli. Dari foto terlihat memang apa yang sesuai. Lhaa 2 hari barang sampai, kok berbeda. Waktu itu yang jual juga di daerah Surabaya, cuma saya gak tau lokasi penjual. Yah gimana lagi,” cetus Ratnasari. Menurutnya, harga di lapak online, sangat tidak wajar dan membuat masyarakat terpaksa membeli untuk mengantisipasi penyabaran virus corona tersebut.

Stok di Apotek Langka
Terpisah, hal itu pun terjadi di salah satu apotek di daerah Sawahan, Apotek CnC tersebut menawarkan hand sanitizer dengan harga Rp.250.000 untuk 500 ml. "Ada yang 1 litter harga Rp.250.000 juga, tapi yang agak encer, yang bisa buat spray. Kalau yang 500 ml tadi itu yang gel, jadi agak mahal," ujar widya salah satu kasir apotek.

Kelangkahan hand sanitizer juga terjadi di Giant supermarket , meskipun di supermarket tersebut menjual dengan harga yang standart, tapi kekosongan stok terjadi di beberapa bulan yang lalu.

Indah karyawan Giant supermarket menjelaskan, semenjak wabah virus Corona menyebar hingga ke Surabaya, produk hand sanitizer habis di buru oleh pengunjung. "Stoknya kosong di borong customer, biasa kita jual harga Rp 14.000 - 19.000 untuk ukuran kecil. Tapi sekarang barangnya gak ada," terang indah.

YLKI Banyak Terima Aduan
Langkanya hand sanitizer, ternyata membuat masyarakat juga mengadu ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Hal itu dibenarkan oleh Said Sutomo, Kepala YLKI, paska merebaknya virus Corona ini. Menurut Said Sutomo, dalam sehari bisa 3-5 masyarakat yang mengadu.

“Yang mengadu banyak, kebanyakan via telpon, 3-5 orang. Penawaran via SMS dan aplikasi Whatsapp juga banyak dengan harga murah tapi itu cuma trik. Kalau kita hubungi harganya tiba-tiba melonjak tidak seperti harga yang ditawarkan. Itu yang kebanyakan dikeluhkan masyarakat yang menghubungi kami,” jelas Said Sutomo.

Diduga Ada Permainan Bisnis
Ketika disinggung soal sulitnya masyarakat mengakses untuk mencari dan membeli hand sinitizer, Said Sutomo mencurigai bila ada persaingan bisnis dalam industri hand sanitizer. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, antar kompetitor juga bisa saling bermain.

“Saya curiga bahwa semua itu permaina industri hand sinitizer, karena umumnya publik konsumen tidak mengerti dan tidak akrab dengan nama produk itu. Di telinga masyarakat atau konsumen, terutama konsumen lapisan menengah ke bawah, tapi tiba-tiba jadi booming bersamaan dengan penyebaran virus covid-19. Akibatnya terjadi distorsi hukum ekonomi antara supply dengan demandnya” pungkasnya.

Polrestabes dalam Penyelidikan
Terpisah, Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya, AKBP Memo Ardian mengatakan jika satgas khusus bentukan Polrestabes Surabaya yang terdiri dari Satresnarkoba dan Satreskrim Polrestabes Surabaya masih melakukan pemyelidikan dan memburu penimbun masker dan Hansanitizer.

Satresnarkoba sendiri, difokuskan untuk membongkar penimbun handsanitiser yang akan dijual lagi dengan harga tinggi. “Kami masih terus melakukan penyelidikan untuk itu, satresnarkoba sendiri, kita fokuskan untuk menangkap penimbun handsanitizer yang akan di jual lagi dengan harga mahal,” kata Memo, Rabu (25/3/2020).

Ia juga menegaskan akan menindak para pelaku yang memanfaatkan situasi wabah covid 19 untuk kepentingan pribadi seperti mencari keuntungan pribadi yang tidak wajar. “Intinya kita akan menindak bagi yg memanfaatkan situasi yg ada untuk kepentingan pribadi sendiri dengan harga yang tidak wajar,” tegasnya.

Sebelumnya, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho juga pernah mengungkapkan, masih menyelidiki kasus dugaan pemalsuan produk seterilisasi tangan atau hand sanitizer, yang dilakukan oleh perusahaan rumahan di Surabaya. Perusahaan tersebut juga diduga memalsukan cairan pencuci darah.

“Benar kita sudah mendalami kasus pemalsuan cairan pembersih tangan atau hand sanitizer. Kasusnya masih pendalaman. Tunggu perkembangannya,” jelasnya kepada wartawan usai Safari Jumat di Masjid Ceng Ho, Surabaya, Jumat 6 Maret 2020 lalu.

Lebih lanjut, Sandi menjelaskan, pihaknya membentuk tim Satuan Tugas (Satgas) untuk menyelidiki dugaan adanya penimbunan masker dan pemalsuan hand sanitizer di Surabaya. Para pelaku diduga memanfaatkan momentum kasus penyebaran virus Corona. Sehingga membuat masker dan hand sanitizer menjadi langka. byt/jem/tyn/pat/rmc

Baca selengkapnya dihttp://epaper.surabayapagi.com/
Temui juga Surabaya Pagi di instagramhttps://www.instagram.com/harian.surabayapagi/?hl=id
Dan juga di facebook Surabaya Pagihttps://www.facebook.com/SurabayaPagi/

Berita Populer