•   Senin, 9 Desember 2019
Peristiwa Nusantara

Politisi Gerindra Nyaris Tertembak, Diduga Terkait Pilpres

( words)


SURABAYAPAGI.com, Jakarta – Nyawa Wenny Warouw, anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, nyaris melayang setelah ruang kerjanya di lantai 16 Gedung Nusantara 1 DPR RI ditembak orang tak dikenal, Senin (15/10/2018). Beruntung proyektil yang menyasar ruang kerjanya tidak mengenai dirinya. Begitu pun peluru yang menembus ruangan Bambang Heri dari Fraksi Partai Golkar di lantai 13. Polisi menyebut tembakan itu peluru nyasar dari senjata api milik anggota Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin) yang tengah latihan. Namun Wenny Warouw yang Brigadir Jendral Polisi (Purn) itu tak percaya polisi dan berkeyakinan penembak seorang sniper. Kejadian ini pun menyulut panasnya politik jelang Pilpres 2019, setelah kasus hoax Ratna Sarumpaet yang berbuntut diperiksanya sejumlah politisi tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno.
Wenny Warow menceritakan kejadian bermula saat dirinya menerima tamu dari pendeta Hesky Roring dan AKBP Ronal Rumondor di ruang kerjanya pada pukul 14.35 WIB. Tiba- tiba, muncul suara tembakan dari arah yang sejajar dengan Gedung Kompas, sehingga membuat Wenny dan tamunya tiarap untuk menghindari tembakan. "Kejadiannya 14.35 WIB, saya ada di ruangan dengan 2 orang tamu, tiba tiba ada suara ledakan dari arah gedung Kompas sana hanya satu tembakan," ujarnya di DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (15/10) kemarin.
Wenny mengatakan, selama ini tak pernah mendapatkan ancaman dari siapa pun. Namun ia merasa, kejadian ini masih ada kaitannya dengan eskalasi politik yang sekarang meningkat jelang Pilpres 2019. Wenny merupakan politisi Partai Gerindra yang mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebagai pasangan capres-cawapres nomor urut 02.
"Kami bertiga baru ngobrol 2 sampai 3 menit, kaca meledak, lihat ada pecahan. Kemudian dia (tamu) lihat ada bocor di plafonnya, kemudian saya disuruh tiarap," ungkap mantan Direktur Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal (Direksus Bareskrim) Polri (2006-2008).
Wenny meyakini peluru yang menyasar ke ruangannya dilakukan oleh penembak profesional. "Tembusan ke plafonnya itu sempurna banget, jadi betul-betul tembakan yang profesional," tandas Wenny.
Pendeta Heski Roring menimpali peluru itu meleset hanya sekitar 10 cm di atas kepalanya. "Saya kan lagi asyik ngobrol-ngobrol dengan Pak Wenny Warouw. Ngobrol-ngobrol gitu tiba-tiba sudah ada tembakan. Pletak, desing. Mungkin satu jengkal dari kepala saya. Saya langsung ngomong, ’Pak Jenderal, tiarap, ini tembakan,’" sebut Heski.
Wenny tak percaya peluru yang masuk ke ruangannya hasil salah tembak anggota Perbakin yang tengah latihan. Ia menduga penembakan dilakukan oleh sniper dengan laras panjang. "Kalau lihat yang seperti itu saya belum bisa mengatakan jelasnya bagaimana, tapi kalau menurut saya itu senjata dari laras panjang ya mungkin, yang sering digunakan oleh sniper tapi itu bukan jawaban, pasti saya serahkan kepada penyidik jenis senjatanya itu apa," ungkap anggota Komisi III DPR RI ini.
Dia mengatakan, dugaan tersebut berawal dari pernyataan salah satu pengurus Perbakin yang sudah lebih dulu tiba di ruangannya sebelum tim kepolisian datang memeriksa ruangan kerjanya. Dia mengatakan anggota Perbakin itu sudah mengukur garis lurus dan menyatakan asal garis tersebut bukan dari lapangan tembak tempat Perbakin latihan.
"Karena mereka (Perbakin) sudah ukur dan kebetulan tadi sudah tarik benang dari plafon sampai ke lubang kaca, terus daya lurusnya di mana tidak ada hubungan dengan lapangan tembak, itu baru benar itu baru kerja benar, jadi sekarang mereka sedang bawa proyektilnya mau disesuaikan. Silakan dengan pernyataan Perbakin kalau itu cocok, buktikan gitu loh, baru itu memuaskan nggak boleh langsung divonis peluru nyasar," ungkapnya.
Versi Polisi
Sementara itu, Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Polisi Setyo Wasisto langsung memberikan keterangan pers di Media Center DPR. Menurutnya, tembakan yang menyasar ke ruang kerja anggota DPR Weny Waraow dan Bambang Heri Purnomo diduga dilakukan oleh anggota Perbakin dari Tangerang Selatan berinisial I dengan pistol kaliber 9 mili. Saat itu, mereka tengah latihan tidak jauh dari gedung DPR, yaitu di Lapangan Tembang, Senayan, Jakarta.
"Jenis senjatanya kaliber 9 mili, tentang apakah dia sudah lama atau tidak nanti akan didalami oleh penyidik," kata Setyo didampingi Ketua DPR RI Bambang Soesatyo.
Hanya saja, Setyo yang juga Ketua Perbakin Provinsi DKI Jakarta itu enggan memastikan soal sanksi apakah yang mungin dikenakan kepada pelaku. "Saya sampaikan (pelaku) inisial I, merupakan anggota Perbakin Tangerang Selatan. Urusan sanksi hukum saya serahkan ke Polda Metro Jaya, secara organisasi ke Perbakin Pemprov Banten," tukasnya.
Terkait dengan kasus peluru nyasar, Setyo menyampaikan pihaknya bakal meminta keterangan ahli guna menjelaskan kekuatan peluru hingga mencapai lantai 16 gedung DPR. Namun yang pasti, kata Setyo, selama jarak jangkau sempurna bisa saja. "Kalau jarak jangkaunya sempurna masih bisa. Nanti pak Nico (Direskrimum Polda Metro) akan panggil ahli ya untuk minta keterangan ahli. Dari Perbakin juga kita berikan ahli," terang Setyo.
Banyak Spekulasi
Pengamat politik Universitas Airlangga, Yayan Sakti Suryandaru mengatakan kasus penembakan di Gedung DPR RI itu bisa memunculkan banyak dugaan. Bisa jadi, itu karena settingan belaka dari korban. Artinya sasaran tembak ingin mencari popularitas karena punya kepentingan untuk nyaleg lagi pada 2019. Namun bisa jadi itu juga memang dilakukan orang lain untuk meneroronya. Semua kemungkinan bisa terjadi mengingat tahun ini tahun politik.
“Bisa jadi itu dilakukan politisi, minimal popularitas naik, dikenal orang. Apalagi sosiologi masyarakat kita kalau melihat orang dianiaya pasti akan dipilih,” ujarnya.
Yayan juga menyayangkan terjadinya penembakan di gedung DPR. Pasalnya gedung DPR sebagai objek vital mestinya memberlakukan kemanan yang ketat. Sehingga tidak bisa dipungkiri jika semua kemungkinan bisa berkembang di masyarakat. “Semua orang nanti akan menyalahkan pihak keamanan, kenapa ini bisa terjadi kan begitu,” ungkapnya lagi.
Sedang pengamat politik Universitas Negeri Surabaya, Agus Mahfud Fauzi mengatakan perlu adanya klarifikasi yang jelas terkait penembakan itu, karena pernyataan Ketua DPR Bambang Soesatyo hanya menyebut bahwa itu tembakan salah sasaran dari anggota Perbakin. “Apakah hal tersebut salah sasaran betul atau memang ada kesengajaan,” herannya.
Lebih lanjut, dalam momen politik ini semua hal bisa dihubung-hubungkan dengan ranah politik. Maka agar tidak menjadi polemik berkepanjangan sebaiknya pihak Kepolisian bisa segera menyelidiki kasus ini secara detail. “Akan lebih bagus melihat sesuatu berhati-hati. Maka penegak hukum bisa segra mengungkapnya,” pungkasnya.
Polisi Lengah
Pakar hukum, Sumarso mengatakan kalau insiden itu merupakan kelengahan pihak keamanan di gedung DPR. Maka harus diselidiki secara dalam, siapa korban yang ditembak, motifnya apa. Apakah hal ini hanya untuk main-main meramaikan gedung DPR. “Saya kira motifnya itu yang perlu diungkap. Biar polisi yang mengungkap,” katanya.
Lebih lanjut, Sumarso menegaskan penembakan itu pasti ada maksud yang dituju. Kalau hanya salah sasaran rupanya terlalu sepele. Nah, disini kepolisian bisa segera membuka tabir dibalik itu. “Seperti kasus teror kan begitu. Siapa orang ini, arahnya kemana, yang nyuruh siapa. Kalau sudah ketangkep polisi akan segera mengungkap,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ketua Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jawa Timur, Abdul Malik yang juga pengurus DPD Partai Gerindra Jatim. Ia mengatakan kalau ada penembakan apalagi di gedung DPR harus diselediki secara menyeluruh. Karena jelas gedung DPR itu rumah rakyat, dari itu polisi harus melihat motifnya apa. Karena penembakan itu pasti ada proyektilnya. Nah, proyektil ini yang bisa ditinjau bagaimana posisinya.
“Proyektil itu dari arah mana, jenisnya apa. Nah polisi disini diuji lagi. Polri harus tanggap. Pecahan kaca itu mendatar, lurus atau seperti apa itu Polisi tahu. Gedung dewan kan banyak CCTV. Polisi wajib menemukan,” paparnya. n jk/qin

Berita Populer