•   Senin, 18 November 2019
Pilwali 2020

Politisi Sudah Lazim Buka Kartu

( words)
Surokhim Abdussalam


SURABAYAPAGI.com - PENGAMAT Politik Universitas Trunojoyo Madura Surokhim Abdussalam menilai, menjelang agenda akbar politik, suasana politik selalu diketahui kian panas dan dinamis. Pasalnya, agenda politik tidak lepas dari kepentingan-kepentingan pelakunya.

Sebagai informasi, agenda politik akbar yang terdekat adalah pemilihan umum kepala daerah (pilkada) serentak yang dijadwalkan berlangsung pada tahun 2020 mendatang. Kota Surabaya sendiri merupakan salah satu dari 270 pilkada se-Indonesia yang digelar pada tahun yang sama.

Kota Surabaya sendiri dikenal sebagai kandang banteng. Betapa tidak, dalam empat kali pilwali, PDIP selalu berhasil mengantar jagoannya duduk sebagai orang nomor satu di Surabaya. Bambang DH dua periode, begitu pula suksesornya, yaitu Tri Rismaharini.

Namun, dua tokoh Surabaya itu belakangan disebut-sebut saling berebut pengaruh untuk mengangkat jagoan mereka masing-masing menjadi cawali Surabaya berikutnya. Hal ini lantas berujung pada diungkit-ungkitnya kisah masa lalu yang belum selesai.

Terkait hal ini, Surokhim berpendapat, menjelang agenda politik akbar seperti Pilwali Surabaya, di kalangan politisi sudah lazim saling buka kartu sekaligus kunci-mengunci. Fenomena ini juga tampak di Surabaya.

"Surabaya ini termasuk battleground (medan perang) politik yang paling keras se-Indonesia. Persaingan tidak saja terjadi antapartai, tetapi juga di internal partai," cetus Surokhim kepada Surabaya Pagi, Jumat (26/7/2019).

Menurut dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya ini, internal PDIP Surabaya selalu memunculkan dinamika yang menarik perhatian, tak terkecuali hubungan antara Bambang DH dan Tri Rismaharini. Sebagai dua tokoh yang mempunyai akses langsung ke Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, wajar jika publik menduga, cawali yang bakal diusung PDIP dalam Pilwali Surabaya 2020 mendatang, bakal berada di tangan kedua tokoh ini.

Namun demikian, Bambang DH dan Tri Rismaharini mempunyai rekam jejak hubungan yang tidak harmonis. Bambang DH sendiri acap kali mengkritik kinerja Pemkot di bawah kepemimpinan Risma. Setali tiga uang, wali kota perempuan pertama Surabaya ini sebelumnya juga tidak mendukung Bambang DH maju sebagai calon gubernur Jatim pada 2013.

Publik pun bertanya-tanya, siapakah yang paling kuat di antara keduanya. Dalam hal Pilwali Surabaya, calon siapa yang bakal memperoleh tugas dari DPP untuk maju sebagai cawali. Padahal, mereka berdua berada di bawah satu panji yang sama yaitu PDIP. Menurut Surokhim, konflik politisi dalam satu partai itu jelas ada agenda maupun kepentingan yang ingin dicapai.

"Dalam politik, itu namanya berebut relasi kekuasaan," tutur Surokhim. "Dalam tubuh PDIP, calon siapa yang bakal dipilih Bu Mega, maka dialah orang yang lebih dipercaya."

Terkait manuver Musyafak Rouf yang condong berpihak pada Risma dan mengungkit kembali Kasus Japung (Jasa Pungut), Surokhim punya opini sendiri. Musyafak Rouf dinilai mengetahui seluk beluk peta perpolitikan di Kota Pahlawan. "Pak Musyafak sedang cek ombak," papar peneliti senior Surabaya Survey Center ini.

Berita Populer