•   Senin, 16 Desember 2019
Pilpres 2019

Prabowo-Jokowi, Adu Kekuatan Galang Ulama

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan Witjaksono (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Prabowo- Sandiaga Uno, yang Ikut Pilpres 2019 (24)

Pak Prabowo Yth,
Anda, ternyata telah menandatangani pakta integritas yang dibuat para ulama dalam Ijtima Ulama II di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Minggu ( 16/9/2018).
Terdapat 17 poin pakta integritas yang Anda tandatangani dengan ulama. Antara lain, Anda sanggup melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Anda juga siap menjaga dan menjunjung nilai-nilai religius dan etika yang hidup di tengah masyarakat, Siap menjaga moralitas dan mentalitas masyarakat dari rongrongan gaya hidup serta paham-paham merusak yang bertentangan dengan kesusilaan dan norma-norma yang berlaku lainnya di tengah masyarakat Indonesia.
Disamping itu Anda sanggup memperhatikan kebutuhan dan kepentingan umat beragama, baik umat Islam, maupun umat agama-agama lain yang diakui Pemerintah Indonesia untuk menjaga persatuan nasional.
Bahkan Anda sanggup menjaga dan mengelola Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam) secara adil untuk menciptakan ketenteraman dan perdamaian di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.
Termasuk Anda siap menggunakan hak konstitusional dan atributif yang melekat pada jabatan presiden untuk melakukan proses rehabilitasi, menjamin kepulangan, serta memulihkan hak-hak Habib Rizieq Shihab sebagai warga negara Indonesia, serta memberikan keadilan kepada para ulama, aktivis 411. 212 dan 313 yang pemah/sedang mengalami proses kriminalisasi melalui tuduhan tindakan yang pernah disangkakan. Penegakan keadilan juga perlu dilakukan terhadap tokoh-tokoh lain yang mengalami penzaliman.
Dan menghormati posisi ulama dan bersedia untuk mempertimbangkan pendapat para ulama dan pemuka agama lainnya dalam memecahkan masalah yang menyangkut kemaslahatan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Anda dituntut mengawal pemeriksaan pemuka agama atau aktivis agama yang kini diperiksa oleh aparat kepolisian. Ini bukan tugas mudah. Tetapi tugas mulia, terkait rasa keadilan tanpa diskriminasi.
Satu minggu sebelum Anda menandatangani pakta integritas, Anda sempat mengunjungi Pondok Pesantren Darussalam Blokagung, di Desa Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi. Anda datang bersama rombongan.
Saat di Banyuwangi, Anda sempat bertamu ke kediaman Habib Ahmad Albahar di Kampung Mandar Banyuwangi. Pertemuan dalam rangka haul Syekh Abubakar bin Salim, Kampung Mandar, Banyuwangi.
Anda juga berkesempatan bertemu dengan ulama kharismatik, KHR Kholil As’ad Syamsul Arifin, Pengasuh Ponpes Walisongo, Situbondo. Selain bertemu dengan KH Suyuti Thoha, kiai sepuh Banyuwangi.
Sebelum ke Banyuwangi, Anda juga sudah mengunjungi kediaman istri mendiang Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018). Anda didampingi anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Fuad Bawazier, Maher Algadri, dan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sugiono.


Pak Prabowo Yth,
Apa yang Anda lakukan, menurut akal sehat saya, bukan sekedar silahturahmi biasa, tetapi upaya rangkul-merangkul untuk Pilpres 2019 mendatang.
Kegiatan serupa juga diterapkan oleh bakal capres Jokowi, yang kini masih menjadi Presiden.
Saya mencatat, urusan rangkul-merangkul, Jokowi, tidak bisa Anda anggap remeh. Fakta yang tidak bisa diabaikan adalah saat menjalani pemerintahan selama empat tahun, Jokowi mampu menggandeng sejumlah partai politik yang mulanya oposan, bersama Anda, seperti PAN dan Partai Golkar.
Bahkan dalam kapasitas sebagai Presiden, Jokowi acap bertemu para ulama. Bahkan berkunjung ke berbagai daerah-daerah, selalu disertai menemui sejumlah ulama, sekaligus menyambangi sejumlah pesantren.
Pertemuan Jokowi dengan ulama dan pondok pesantren, tidak melakukan penandatangani Pakta Integritas seperti Anda, tetapi membahas banyak aspek. Maklum, Jokowi, saat ini masih Presiden. Jadi bisa saja Jokowi membicarakan Pilpres 2019 hingga terkait masalah yang dihadapi bangsa.
Malahan Jokowi juga mengadakan pertemuan dengan ulama ternama dari Universitas Alzhar, Kairo, Mesir. Ia adalah Imam Besar Syeikh Al Azhar, Ahmad Muhammad Ath-Thayeb. Pertemuan berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta. Selain itu, Jokowi bertemu dengan ulama Jawa Barat. Bahkan Jokowi, terang-terangan meminta dukungan dalam Pemilihan Presiden 2019.
Termasuk, Jokowi juga sudah melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di NTB, Jokowi mengunjungi Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin Nahdlatul Wathan Anjani (NW) di Kecamatan Suralaya.
Bahkan awal tahun 2018, Jokowi mendapat suntikan moral dari solidaritas Ulama Muda untuk Jokowi (Samawi). Oganisasi Samawi berkomitmen memenangkan Joko Widodo pada Pilpres 2019. Alasan, karene Samawi bertekad membela keutuhan bangsa dan negara dengan menjaga keragaman budaya, adat istiadat, serta agama.

Pak Prabowo Yth,
Sebelum ini, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin berharap pencalonannya sebagai calon wakil presiden dapat meredam suara ulama-ulama yang selama ini berseberangan dengan pemerintahan Joko Widodo. Termasuk dengan ulama kelompok Alumni 212. Maklum kelompok ini selama ini dikenal berseberangan dengan Jokowi.
Hal yang mengejutkan yaitu pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal (Purn) TN Moeldoko menyatakan Ijtimak Ulama II yang mendukung Anda akan tak akan mempengaruhi dukungan terhadap Jokowi-Maruf Amin. Moeldoko menilai ulama yang melakukan Ijtimak II suaranya kecil.
Moeldoko, malah menytakan, Jokowi memiliki ulama yang lebih banyak. Maka itu, Jokowi tak mempermasalahkan adanya ijtimak ulama jilid II digelar

Pak Prabowo Yth,
Siapapun termasuk saya jurnalis yang lebih banyak bertugas di Surabaya, mencatat bahwa Pilkada Jakarta tahun 2017 lalu, menjadi ramai sesungguhnya karena ada sekelompok elit politik, tokoh agama, dan pedagang besar. Tentu tidak bisa dilepas dengan nafsu menguasai Jakarta dengan beragam motif dan kepentingan tentunya.
Ada keinginan dari sekelompok elit agama, terutama elit Muslim, ingin Jakarta menjadi kota yang menerapkan norma-norma atau standar-standar keagamaan keislaman sesuai yang mereka imajinasikan. Ternyata sampai kini belum terealisasi.
Sejarah Indonesia yang saya pelajari, koalisi atau persekongkolan elit politik-bisnis-agama adalah bukan hal baru. Akal sehat saya, bukan tidak menutup kemungkinan Anda akan merangkul Ulama kelompok alumni 212 untuk turut menggalang pemilih. Apakah hiruk-pikik seperti saat Pilkada DKI Jakarta, tahun 2017, mari kita tunggu.
Hal yang menurut saya mengejutkan dampak dari politik identitas seperti di Pilkada Jakarta 2017 lalu, maraknya sejumlah kelompok yang saling menghujat dan memaki lawan. Bahkan ada yang memanfaatkan sarana peribadatan untuk ajang kampanye dan memojokkan lawan, serta memanipulasi simbol, wacana, tradisi, ajaran, sejarah, dan teks-teks keagamaan. Arahnya untuk kepentingan politik praktis-pragmatis dan mendukung pasangan calon yang saat itu berkompetisi.
Ironisnya, ada yang melakukan penggunaan masjid-masjid di Jakarta terutama pada waktu khotbah Jum’at. Pada khotbah Jumat, ada yang menggunakan untuk kampanye dan propaganda memenangkan pasangan calon (paslon) tertentu serta alat untuk merendahkan dan memojokkan paslon lain.
Isi kampanye menyinggung tentang larangan mengurus, mendoakan, dan menyolati jenazah yang sewaktu masih hidup bagi yang mendukung paslon tertentu.
Ada yang menilai, kampanye semacam ini bagian dari "teror teologis” kepada paslon tertentu untuk memenangkan paslon lain.
Demikian pula seruan ancaman masuk neraka bagi yang mendukung dan memilih paslon tertentu atau harapan masuk surga bagi yang mendukung dan memilih paslon tertentu juga merupakan bagian dari "akal bulus” dan siasat busuk sejumlah kelompok guna meraih kemenangan dalam Pilkada.

Pak Prabowo Yth,
Saya bukan santri. Apalagi ulama. Saya adalah jurnalis yang mencoba taat mengikuti ajaran Rasulullah. Terkait upaya rangkul-merangkul ulama menjelang Pilpres 2019, saya teringat wejangan guru ngaji saya.
Guru ngaji saya mengatakan dalam sejarah Islam, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya seumur-umur belum pernah ikut pemilu, apalagi membangun dan mengurusi partai politik. Realita seperti ini sudah disepakati oleh semua orang, termasuk para ahli sejarah, ulama dan juga semua umat Islam.
Dengan realita seperti ini, sebagian ulama mengharamkan Pilpres dan mendirikan partai. Alasannya, karena tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW. Disamping juga tidak pernah dilakukan oleh para shahabat belia yang mulia. Bahkan sampai sekian generasi berikutnya, tidak pernah ada pemilu dan pendirian partai politik dalam sejarah Islam.
Saya ingat guru ngaji saya menjelaskan sebagian dari mereka sampai mengeluarkan statemen unik, yaitu bahwa ikut pemilu dan menjalankan partai merupakan sebuah bid’ah dhalalah, di mana pelakunya pasti akan masuk neraka.
Ditambah lagi bahwa sistem pemilu, partai politik dan ide demokrasi merupakan hasil pemikiran orang-orang kafir. Sehingga semakin haram hukumnya.
Bagi saya yang bergaul dengan sejumlah ulama percaya, pendapat seperti ini bukan satu-satunya buah pikiran yang muncul di kalangan umat. Sebagian lain dari elemen umat ini punya pandangan berbeda.
Ada ulama yang tidak mempermasalahkan bahwa dahulu Rasulullah SAW dan para shahabat tidak pernah ikut pemilu dan berpartai. Maklum, pemilu dan partai hanyalah sebuah fenomena zaman tertentu dan bukan esensi.
Bahkan penjelasan bahwa tidak ikutnya Nabi Muhammad SAW dan tidak mendirikan partai, bukanlah dalil yang sharih dari haramnya kedua hal itu. Bahwa asal usul pemilu, partai dan demokrasi yang konon dari orang kafir, tidak otomatis menjadikan hukumnya haram.
Hal pasti, guru ngaji saya menegaskan, Islam merupakan sebuah agama yang mengatur semua aspek kehidupan manusia. Bahkan Islam tidak hanya mengatur hubungan hamba dengan Rab-nya, tapi juga mengatur hubungan sesama manusia.
Termasuk masalah yang dihadapi manusia baik yang berkaitan dengan dunia atau akhirat mereka, Alquran dan hadis menjadi pedoman bagi kehidupannya.
Antara surga-neraka dengan Pilkada. Tidak ada relevansinya antara memilih paslon tertentu dengan kualitas keimanan atau kekafiran seseorang.
Saya mencatat, sampai pertengahan September 2018 ini, Anda maupun Bakal capres Jokowi, sama-sama beradu kekuatan mengalang ulama NU, Muhammadiyah dan alumni 2012.
Ini membuat saya ingat sabda Nabi Muhammad SAW ; “Hendaknya kalian duduk bersama ulama dan mendengarkan perkataan hukama’ (orang bijak), karena sesungguhnya Allah ta’ala menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaiman menghidupkan bumi yang mati dengan air hujan.” Dalam riwayat Thabarani dai Abu Hanifah disebutkan :
“Duduklah bersama kubara’ (ulama besar) dan bertanyalah kepada para ulama serta bergaullah dengan para hukama’ (orang bijak).”
Sejak Sekolah Dasar, guru agama saya mengajarkan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi. Mengingat, ulama, jama’ dari ‘alim, adalah “orang yang memiliki ilmu”. Wajar Anda dan Jokowi, kini beradu kekuatan merangkul ulama berpengaruh di Indonesia. Siapa yang kuat, mari kita ikuti terus. (tatangistiawan@mail.com, bersambung)

Berita Populer