Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta

Prabowo, “Serang” Basis Jokowi, Gunakan Strategi Teritorial

“Senjata paling ampuh dalam sebuah perang adalah strategi.”
(Sun Tzu, 544-470 SM).

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Minggu lalu, Anda calon presiden Prabowo, mulai menyasar Jawa Tengah yang dikenal kantong suara PDIP. Dalam Pilpres 2019, Anda bersama tim sukses ingin merebut suara di provinsi yang sejak dulu merupakan basis PDIP.
Terkait ini, Anda malah mendirikan posko pemenangan di Solo, kota kelahiran Anda Jokowi. Padahal kota Solo, dikenal basis pendukung Jokowi
Tidak tanggung-tanggung, Anda Capres Prabowo menamai ’pos pertempuran’. Publik membaca Anda menunjukkan keseriusan Prabowo, meraup suara di Jateng.
Pada Pilpres 2014 lalu, Anda Capres Jokowi meraih 12.959.540 atau hampir 2 kali lipat suara yang Anda peroleh yaitu hanya meraih 6.485.720 dari 19.445.260 total suara.
Tetapi dalaml Pilgub Jateng 2018 lalu,di Cagub Sudirman Said ’berhasil’ meraih 41,22 persen atau selisih 17,56 persen dari Cagub Ganjar Pranowo. Bagi Anda perolehan Sudirman yang mewakili Gerindra, ini meski kalah, Anda anggap bukan hasil yang mengecewakan.
Saat ini, wilayah Jateng masuk dalam urutan ke-3 kantong perebutan suara Jokowi dan Prabowo dengan 27.430.269 pemilih. Sedangkan di Provinsi Jawa Timur, terdapat 30.155.719 pemilih yang terdiri dari 15.315.352 pemilih perempuan dan 14.840.367 pemilih laki-laki, Dan Pemilih Tetap di Jawa Barat tercatat sebanyak 32.636.846 pemilih. Jumlah ini terdiri atas 16.401.010 pemilih laki-laki dan 16.235.836 pemilih perempuan.
Pilihan Anda Capres Prabowo mendirikan Posko Pemenangan, menurut akal sehat saya strategi territorial dalam memperluas zona pertarungan dengan petahana, di wilayah yang selama ini dikuasai PDIP, pengusung Anda Capres Jokowi.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Publik kini mengetahui bahwa Anda berdua didukung pensiunan perwira tinggi TNI-AD, Laut dan Udara.
Menurut Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, dalam sebuah unggahan di akun Twitternya @fadlizon, menyebut deklarasi dukungan para jenderal purnawirawan TNI kepada Anda Capres Prabowo, ada yang berbintang 1, 2, 3, hingga bintang 4.
Kubu Anda ada Jenderal (PUrn) Djoko Santoso; Jenderal (Purn) TNI AD Widjojo Soejono, Ketua Dewan Kehormatan Partai Berkarya Laksamana TNI (Purn) Tedjo Edhy Purdijatno, dan Letjen TNI Purnawirawan Johannes Suryo
Sedangkan Kubu Anda Capres Jokowi, memasang para Jenderal dalam Tim Pemenangan. Antara lain Mantan Panglima TNI Moeldoko, Laksamana (Purn) Marsetyo dan Lodewijk F. Paulus, Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan dan Jenderan (Purn) AM Hendropriyono. Selain Letjen (Purn) Agum Gumelar, Irjen Sidarto Danusubroto, Jenderal (Purn) Ryamizard Riyacudu, Jenderal (Purn) Subagyo Hadi Siswoyo, dan Letjen (PUrn) Yusuf Kartanegara
Mereka ini dikenal sebagai pentolan Jenderal yang menjadi arsitek penting di balik sukses kepemimpinan Jokowi.
Strategi yang dilakukan Anda Capres Prabowo, meski kelak di Jawa Tengah masih tetap kalah, tetapi ada kenaikan suara dibanding Pilpres 2014 dan Pileg 2018. Kenaikan suara di Jawa Tengah, Anda anggap Capres Prabowo, sudah pembuka peluang menang seccara nasional.
Anda Capres Prabowo optimistis, dengan masa kampanye yang masih menyisakan lima bulan ke depan, Anda minimal bisa mengusik kandang banteng.
Akal sehat saya mengatakan Pilpres 2019 bisa menjadi battlefield yang menarik dalam pertarungan para pensiunan Jenderal.

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Teman-teman saya di TNI mengatakan bahwa karakter wilayah dan demografi yang kompleks, masih menjadi faktor utama kekuatan dan fungsi Militer dalam suksesi politik di Indonesia.
Marcus Mietzner dalam sebuah Working Paper yang berjudul The Politics of Military Reform in Post-Suharto Indonesia : Elite Conflict, Nationalism, and Institutional Resistance, mengatakan doktrin teritorial dapat membentuk kebudayaan baru. Termasuk dalam tradisi politik teritorial tertentu yang bersinggungan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan politik
Di bidang politik, menurut seorang jenderal kenalan saya di Departemen Pertahanan, strategi territorial pernah diterapkan pada saat menyelesaikan konflik internal dengan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Peristiwa Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, misalnya dianggap sebagai “Blessing in Disguise”,. Mengingat TNI saat itu datang untuk bertempur, kemudian beralih menolong rakyat.
Hasilnya, perlawanan GAM berubah menjadi kepasrahan, sehingga kedua belah pihak menghentikan pertempuran. Dan pada tanggal 15 Agustus 2005, bertempat di Helsinki, Finlandia, Indonesia dan GAM menandatangani MoU untuk mengakhiri konflik di Aceh. GAM pada akhirnya menerima otonomi khusus yang ditawarkan pemerintah Indonesia.
Benarkah kemampuan strategi dan penguasaan wilayah yang dimiliki oleh para jenderal purnawirawan TNI bisa menjadi nilai plus dalam proses pertarungan politik Anda Berdua. Mari kita tunggu.
Apalagi pernah dinyatakan oleh Wamenhan Letjen Safrie, dalam paparannya tentang “Sun Tzu’s War Strategy: Indonesia’s Perspective”.
Wamenhan menguraikan bahwa di dunia militer Indonesia, dalam memenangkan hati dan pikiran rakyat di suatu wilayah, TNI melaksanakan strategi yang disebut pembinaan teritorial.
Kegiatan pembinaan teritorial ini, sama sekali tidak menggunakan peralatan perang. Tercapainya sasaran pembinaan teritorial menurut doktrin militer, penguasaan suatu wilayah geografi lengkap dengan penduduknya menunjukkan justifikasi terhadap aplikasi teori Sun Tzu “A Great General Wins Without Battle”.
Saat saya menjadi wartawan Kodam V yang mengikuti latihan militer di Asembagus tahun 1978 masih ingat pesan seorang komandan pasukan tempur.
Komandan ini mengatakan operasi teritorial harus diikuti dengan pendekatan humanis. Mengingat dalam militer, operasi Teritorial adalah operasi yang dijalankan oleh satuan militer dengan sasaran, waktu, tempat, dan dukungan logistik yang telah ditetapkan sebelumnya.
Operasi teritorial disusun dengan perencanaan terinci untuk mencapai misi khusus atas perintah dari komando atasan. Nah, kita tunggu, benarkah strategi territorial Anda Capres Prabowo, di Provinsi Jawa Tengah, bisa mendapatkan sasaran jitu meraih suara mengalahkan Capress Jokowi.
Ada yang mengatakan Anda Capres Jokowi, menggunakan analogi taktik militer, bumi hangus dan blockade. Khususnya strategi bombardir pencitraan ke seluruh segmen pemilih, Sementara strategi Prabowo-Sandi gerilya revolusi melawan Jokowi. Walahualam. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)