•   Sabtu, 29 Februari 2020
Internasional

Presiden Jokowi Akan Sambangi Pengungsi Rohingya

( words)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir


Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun bermaksud mengunjungi para pengungsi yang sebagian besar etnis rohingya itu di Cox's Bazar. Hal ini terkait dengan kunjungan kenegaraan ke Bangladesh pada 27-28 Januari 2018 mendatang. JAKARTA, M. Burhanudin.

"Kunjungan ini juga akan terkait diplomasi kemanusiaan dan perdamaian yang dilakukan Indonesia, khususnya terkait kunjungan di Bangladesh, akan kunjungi Cox's Bazar.
Kunjungan ini akan menjadi bagian, visi Indonesia 2018 dan ke depan terkait upaya pengembangan kawasan Indo Pasifik yang damai stabil sejahtera. Ini adalah upaya mendukung rencana tersebut,
" ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di kantor Kemenlu RI, Jakarta.

Sementara menurut Direktur Asia Selatan dan Tengah Kementerian Luar Negeri RI Ferdy Piay, tidak hanya Bangladesh, tetapi Presiden Jokowi juga mengunjungi Afghanistan. Di kedua negara ini Indonesia ingin memperkuat diplomasi kemanusiaan dan perdamaian.

"Di Bangladesh, Pemerintah Indonesia berperan dalam upaya mengatasi solusi masalah Rohingya. Kunjungan Presiden merupakan hal spesifik yang akan disampaikan oleh Presiden kepada pemimpin Bangladesh," ucap Ferdy.

"Rencananya, jika situasi memungkinkan,-karena kamp pengungsi sangat jauh dan tidak mudah untuk digapai-, kita sedang upayakan untuk Presiden bisa melakukan kunjungan ke kamp pengungsi dan melihat secara langsung. Pemerintah Bangladesh akan fasilitasi dan diharap terlaksana," imbuhnya.

Isu pengungsi Rakhine yang berada di tempat pengungsian di Bangladesh saat ini menjadi perhatian PBB. Terlebih lagi Bangladesh dan Myanmar sepakat untuk mengatur kembalinya para pengungsi itu ke Rakhine.

Jubir Kemenlu Arrmanatha Nasir menambahkan bahwa Bangladesh dan Myanmar duduk bersama dan sepakati mekanisme pemulangan, sejalan dengan upaya Menlu Retno Marsudi untuk mendorong kedua negara duduk bersama dan membahas isu pengungsi dan keamanan di perbatasan.

"Mereka (Myanmar dan Bangladesh) akhirnya sepakat adanya pemulangan pengungsi yang ada di Bangladesh. Kita juga sadari proses ini tidak mudah akan memakan waktu karena salah satu contoh masalah yang dihadapi adalah membangun kembali kampung yang rusak dan terbakar saat pengungsi pindah ke Bangladesh jadi ini proses lama dan aspek ini terus kita perhatikan, sampai saat ini masih bahas jumlah (pengungsi) yang balik per minggu dan per bulan," pungkas Arrmanatha.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebelumnya sudah mengutarakan kekhawatirannya atas rencana pengembalian pengungsi ini.

Guterres, yang bertugas sebagai komisaris tinggi PBB untuk pengungsi selama 10 tahun, mengatakan bahwa badan pengungsi PBB telah berkonsultasi mengenai kesepakatan tersebut.

Kesepakatan berlaku bagi sekitar 750.000 orang Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh. Mereka menyelamatkan diri menyusul dua kali penumpasan tentara di negara bagian Rakhine, Myanmar utara, pada Oktober 2016 dan Agustus tahun lalu.

Guterres mengatakan penting bahwa pengembalian tersebut berupa sukarela dan orang Rohingya diizinkan kembali ke rumah asalnya bukan ke kamp-kamp penampungan. 01

Berita Populer