Properti Harus Berorientasi Konsumen

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya — Sektor properti secara global masih menunjukkan pertumbuhan dan imbal balik yang kuat. Meski dihadapkan pada sejumlah kendala dan banyaknya divestasi dalam setahun terakhir, masih banyak dana mengalir di sektor properti.

Siklus properti yang terjadi belum sepenuhnya berbalik, tetapi dampaknya tidak sebesar yang terjadi pada 2008—2009. Lebih dari 80 persen pemilik real estat percaya diri, pada prospek pertumbuhan usahanya hingga tiga tahun ke depan.

“Kepercayaan diri itu umumnya bakal menjadi indikator utama pertumbuhan ekonomi. Meskipun masih banyak juga yang mengkhawatirkan ketidakpastian kebijakan, seperti Brexit salah satunya, hal itu tidak begitu mempengaruhi aliran investasi ke aset utama,” ungkap Craig Hughes, Global Real Estate Leader PwC UK, Kamis (25/7).

Cara “bermain” di real estat sudah berubah. Ada aturan tak tertulis yang pengaruhnya besar pada kesuksesan pengembangan real estat.

Pertama, bisnis real estat harus berkompetisi lebih konsisten sebagai perusahaan yang berorientasi pada konsumen.

Kedua, bahwa sesungguhnya pengisi properti seperti kantor dan ritel sangat peduli akan tempat yang mereka huni untuk bisa makin menarik, mempertahankan usaha, dan meningkatkan produktivitas.

Ketiga, perilaku pengisi properti itu yang nanti memengaruhi pertumbuhan real estat, jika penyewa dan lingkungannya baik, reputasi gedung yang ditempati juga akan ikut terbawa.

Keempat, kualitas layanan dan infrastruktur serta kualitas bangunan makin dianggap penting dibandingan desain dan luasan ruangan.

Terakhir, yang kelima, risiko cepat usang, seperti pada properti ritel, mulai menjalar ke sektor properti yang lainnya.