PSI Cari Perhatian

SURABAYAPAGI.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memberikan penghargaan Kebohongan Award kepada Pasangan Capres dan Cawapres 01 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, serta Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief.
"Baru saja awal tahun 2019 tetapi kita sudh diserang oleh tsunami hoax, tsunami fitnah dan dalam konteks itu DPP PSI merasa perlu untuk memberikan kebohongan award kepada tiga orang produser hoax di negeri ini," kata Sekjen PSI Raja Juli Antoni di DPP PSI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (4/1/2019).
PSI menjatuhkan penghargaan kebohongan paling lebay kepada Prabowo atas pernyataannya soal selang cuci darah RSCM dipakai 40 kali. Sandiaga mendapat penghargaan kebohongan hakiki karena menyebarkan pernyataan membangun Tol Cipali tanpa hutang.
Sementara, Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief mendapat penghargaan karena lewat cuitannya di sosial media yang membuat geger publik dengan kabar ada 7 kontainer berisi 70 juta surat suara yang telah tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok.
Respons Partai Demokrat
Terkait hal ini Ketua Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mengatakan, timnya bakal menyampaikan pendapat hukum itu kepada Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief. "Kalau Andi Arief mau mempidanakan silakan, kami akan laporkan. Kami akan koordinasi dengan Andi Arief apakah perlu dilaporkan atau tidak," kata Ferdinand, kemarin.
Ferdinand mengatakan penghargaan itu memenuhi unsur pidana pencemaran nama baik terhadap Andi Arief. Partai anyar itu, kata Ferdinand, juga bisa dikenai pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) lantaran menyebarluaskan kabar soal penghargaan itu di media sosial.
Tanggapan Pengamat Politik
Sementara itu pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio, menilai langkah PSI itu adalah cara mereka mencari perhatian dan meningkatkan popularitasnya. "Ya kan PSI lagi tahap cari perhatian untuk meningkatkan popularitas. Tapi ya caranya lucu gitu," ujar Hendri, kepada wartawan.
Menurutnya, setiap orang atau tiap partai bebas dan boleh memberikan penghargaan kepada siapa pun. Namun demikian, Hendri menyoroti efek yang ditimbulkan. "Tapi kan efeknya mendidik atau tidak, itu dia kan. Kalau partai politik kan harusnya ada edukasi politik ke masyarakat," kata dia. "Apakah ini nantinya tidak meng-create problem lainnya, misalnya perbuatan yang tidak menyenangkan atau apalah gitu," sambungnya.
Tidak mau ambil pusing, Hendri menyebut mungkin saja cara inilah yang disukai partai besutan Grace Natalie tersebut. Dan bukan dengan memberikan solusi, mendiskusikan, bermain di ranah pendidikan intelektual atau edukasi-edukasi intelektual. Apalagi, ia melihat tren sekarang adalah ’lomba nyinyir’. "Mungkin itulah garis politik partai PSI ya, cara PSI ya gitu itu. Ya terserah dia aja, kan efeknya PSI semua yang nanggung. Saya sih yakin mungkin memang itu cara-cara yang disukai oleh PSI," jelasnya.
"Sekali lagi saat ini kan PSI lagi cari perhatian supaya popularitasnya naik, mungkin supaya bisa nembus threshold 4 persen itu. Mungkin ini salah satu caranya, kan sekarang (jadi, - red) diperbincangkan," pungkas Hendri.