•   Jumat, 28 Februari 2020
Surabaya

Pusaka Leluhur Risma Disimpan di Museum NU

( words)
Ndok Bledhek, pusaka leluhur Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini


SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini alias Risma ternyata punya garis keturunan dari tokoh Nahdlatul Ulama. Buyutnya dari garis ayah, Mbah Jayadi, disebut Risma adalah pendiri NU di Desa Pagotan, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Sebagai tokoh NU, pusaka peninggalan Mbah Jayadi pun kini tersimpan di Museum NU Surabaya. Risma menjelaskan, Mbah Jayadi adalah buyutnya dari garis ayah, yang dahulunya seorang kiai di Pagotan, Madiun.
Saat kecil, Risma mengaku sering berkunjung ke desa leluhurnya itu. Nah, di rumah Mbah Jayadi itulah, ia menemukan banyak benda peninggalan.
"Karena enggak terawat, saya simpan di Museum NU saja," kata Risma saat berkunjung ke Museum NU Jalan Gayungan Surabaya, Jawa Timur, pada Senin sore, 8 Januari 2018.
Lebih dari satu benda peninggalan buyut Risma yang disimpan di Museum NU Surabaya. Benda peninggalan milik Buyut Risma itu kebanyakan berupa keris, senjata tradisional Jawa. Tetapi ada satu benda peninggalan yang menarik, namanya Ndok Bledhek. Ndok artinya telur dan bledhek bahasa Jawa dari petir atau guntur.
Ndok Bledhek atau Telur Petir itu tersimpan di sebuah ruang kaca di lantai dua Museum NU. Di sisinya, lebih dari satu pusaka berupa keris milik Mbah Jayadi juga tersimpan. Telur Petir berbentuk seperti telur ayam kampung.
Risma tidak menyebut terbuat dari apa benda berwarna gelap itu. Dilihat sekilas, Telur Petir terbuat dari batu.
Dalam keterangan di museum, Ndok Bledhek atau Telur Petir itu, 'Digunakan oleh para pejuang sebagai alat kekebalan (dengan izin Allah) untuk memerangi PKI di Madiun pada tahun 1960-an'.
"Kata ayah saya, Ndok Bledhek itu akan bergetar kalau marabahaya atau bencana akan datang," ujar Risma.
Satu lagi benda pusaka milik Mbah Jayadi yang sepertinya istimewa bagi Risma. Benda itu disimpan terpisah dari benda lain, yakni di sebuah laci di ruangan tertentu museum. Pengelola museum tidak berani membuka pusaka berupa keris itu dari sarungnya.
"Panjenengan (Ibu Risma) saja yang buka," kata pengelola Museum NU, Ahmad Muhibbin Zuhri kepada Risma.
Risma menjelaskan, benda-benda peninggalan leluhurnya mulai disimpan di Museum NU sejak tahun 2006. Ada beberapa, yang masih disimpan sendiri di rumahnya.
"Ayah saya dulu juga pejuang. Saya dulu pernah diperlihatkan celananya ayah yang bolong kena tembak Belanda. Tapi hanya celananya yang bolong, badannya tidak," kata Risma.

Berita Populer