•   Senin, 18 November 2019
Catatan Hukum Tatang

Ratih, antara Serahkan Diri dan Hukuman Sosial

( words)
Raditya Mohammer Khadaffi


Catatan Pojok untuk Ratih Retnowati, Politikus Partai Demokrat yang Terjerat Korupsi Jasmas DPRD Surabaya 2016

Catatan Hukum
Raditya Mohammer Khadaffi
Wartawan Milineal Surabaya Pagi

Sharon Coen, seorang psikolog dari Inggris, menulis artikel berjudulThe Age of Celebrity Politics.

Ia mencatat bahwa saat ini pergeseran menuju era politik selebritas. Pergeseran ini telah berlangsung kira-kira 2-3 dekade belakangan ini.

Dulu, partai politik masih merupakan aktor dominan di ranah politik. Artinya, program partai menjadi tawaran utama, dan politikus sukses diukur berdasarkan kompetensinya.

Sementara sekarang, sosok pribadi seorang politikus lebih memikat daripada partai politik yaitu kinerja lebih disoroti daripada programmya. Ironinya, otentisitas lebih disukai daripada kompetensi.

Pergeseran ini tak lepas dari peran media dalam menyoroti dunia politik. Media (televisi, dan belakangan internet) telah menjadi ruang publik tempat masyarakat memperbincangkan dan memperdebatkan isu yang berkaitan dengan kepentingan umum.

Menurut Sharon, "Berita politik di media cenderung semakin mengalami ’personalisasi’ yaitu menyoroti isu sebagai pendapat politikus tertentu daripada sebagai suara ideologis partai.

Begitu juga, penerimaan atau penolakan terhadap suatu argumentasi politik, juga semakin sering ditautkan dengan orang yang melontarkan argumentasi itu, bukan pada landasan ideologis argumentasi tersebut.

Sharon Coen, juga mencatat bahwa fenomena ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, personalisasi politik ini berpotensi memulihkan keterlibatan publik dalam politik. Artinya orang relatif lebih mudah menautkan diri dengan sesosok pribadi politikus daripada dengan ide atau institusi politik yang abstrak.

Warga juga memiliki kesempatan lebih luas untuk menyuarakan pendapatnya sehubungan dengan kepentingan publik.

Sekarang, urusan kepribadian dan perilaku privat seorang politikus tidak senantiasa selaras dengan kemampuan dan efektivitas politiknya.

Kadang ada anggota publik yang asyik membicarakan jaket dan sepatu seorang tokoh politik dan keakrabannya dengan cucu. Ini mereka mengira seakan semua itu berbanding lurus dengan kecakapannya memimpin dan relevan dengan tugas politiknya. Sebaliknya, ketika politikus idola, ternyata retak kehidupan domestiknya, kita pun terguncang. Padahal, hal itu berada di ranah yang berbeda, dan belum tentu saling menunjang.

Sementara berfokus pada politikus secara individual, bisa jadi membuat orang alpa bahwa keputusan politik diputuskan secara kolegial. Sharon menegaskan, "Dalam sistem demokratis, kesempatan seseorang untuk berbuat sesuatu secara pribadi hanyalah sedikit.

Karena itu, menampilkan politik sebagai pertarungan antara orang baik versus orang jahat, bukannya sebagai suatu proses kolektif, tapi penggambaran realitas proses politik secara menyesatkan."

Dan kadang tak jarang orang malah terbalik-balik dalam menyikapinya. Politikus dianggap sebagai sesosok pribadi yang mandiri, dan sebutan sebagai "petugas partai" untuk Jokowi dari Ketum PDIP, bahkan dianggap sebagai sebutan yang tercela.

***

Saya kutip artikel dari Sharon Coen diatas, menyimak perilaku politisi Demokrat, Dr. Ratih Retnowati, dra., M.Si, (55 tahun) yang kurang lebih sama. Ratih, yang pernah menjabat Ketua DPC Partai Demokrat Surabaya, saat ini terkesan tidak menunjukan garis partai Demokrat yang dikenal santun. Dalam kasus dugaan korupsi, ia lebih menunjukan personalisasi dirinya. Bisa seorang terpelajar (meraih doktor) sekaligus istri seorang jenderal polisi yang baru pensiun.

Dan Ratih, pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Surabaya. Suka atau tidak, kini dia menyandang status tersangka dalam kasus dugaan penyelewengan dana hibah Jasmas Pemkot Surabaya tahun 2016.

Ada hal yang aneh dari sosok politisi yang pernah menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Surabaya.

Kehadiran Ratih di dalam acara di Gedung DPRD Kota Surabaya minggu lalu, sempat menjadi sorotan utama peserta yang hadir.

Dia juga turut serta dalam pengambilan sumpah pelantikan bersama anggota dewan terpilih lainnya.

Ratih terus diuber wartawan, lantaran dirinya langsung bergegas meninggalkan ruangan pasca pengambilan sumpah, kendati acara masih berlangsung.

Ratih langsung meninggalkan ruangan sidang paripurna melalui pintu samping.

Sembari bergegas, politisi Partai Demokrat itu tak mengeluarkan sepatah kata pun, saat awak media berusaha mengejarnya.

Saat ini, penyidik sedang merampungkan pemeriksaan saksi-saksi untuk ketiga anggota dewan yang sudah ditahan lebih dulu sebelum Ratih Retnowati dan Dini Rijanti, yang sama-sama asal partai Demokrat. Bersama Syaiful Aidy asal partai PAN. Ketiganya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejari Tanjung Perak (19/8).

Ketiganya disangka terlibat mark up pengadaan barang dan jasa program Jasmas Pemkot Surabaya 2016 dengan total kerugian hingga lima miliar rupiah.

Dugaan korupsi ini dilakukan oleh Agus Setiawan Tjong, dengan modus mengkoordinir 230 RT yang ada di Surabaya untuk mengajukan proposal pengadaan tenda, kursi, dansound system .

Sebelumnya ada tiga anggota DPRD Surabaya yang sudah ditahan di cabang Rutan klas I Surabaya di Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Mereka adalah Sugito asal partai Hanura, Darmawan alias Aden asal partai Gerindra dan Binti Rochma asal partai Golkar.

Status tersangka Ratih, diberikan, karena dirinya tercatat beberapa kali mangkir dari panggilan penyidik Pidsus Kejari Tanjung Perak.

Meski beberapa kali mangkir, penyidik Kejari Tanjung Perak tidak menangkap Ratih Retnowati, saat pelantikan anggota DPRD Kota Surabaya berlangsung Sabtu, (24/8/2019).

Rencananya jaksa akan memanggilnya pada pekan ini (awal September).
Bahkan, penyidik tidak berminat menangkap Ratih saat pelantikannya sebagai anggota dewan. Apakah karena ada jaminan dari suaminya yang juga seorang penegak hukum?

***
Saat Ratih diberitakan tak kooperatif pada Kejaksaan, apakah dia lupa tentang sanksi sosial?
Sebagai politisi, Ratih, insha Allah tahu bahwa sanksi sosial tidak berupa tulisan hitam diatas putih. Sanksi sosial terkadang mulai muncul ditataran kerabat/tetangga terdekat dan teman separtainya atau sesama anggota DPRD Surabaya.

Namun jika seseorang sudah melakukan berbagai kesalahan yang diulang sekian lama, maka sanksi sosial ini akan semakin meruncing. Seseorang termasuk Ratih, akan mendapat sanksi sosial dari kelompok terkecil yaitu keluarga. Bahkan keluarga akan menjadi tameng untuk untuk kesalahan.

Malahan, keluarga pun bisa ikut menjauh bahkan terkadang menjadi menyerang. Dan pada saat itulah, dinamika keluarga terjadi, ada yang merasa iba dan ada pula yang sudah tak tahan untuk mendukung secara moril dan meteriil.

Pendeknya, sanksi sosial, bisa terjadi lama kelamaan akan menjadi bom waktu, jika Ratih, tetap pada egonya tidak koperatif kepada Kejaksaan. Berbeda bila Ratih, setelah pelantikan menyerahkan diri mengikuti Aden Darmawan cs, menghuni Rutan Kejati Jatim. Konon saya dengar Senin (2/9/2019), Ratih akan datang ke Kejari Tanjung Perak, menyerahkan diri untuk ditahan.

Dalam catatan pojok saya, ada beberapa cara tips buat Ratih, politisi Partai Demokrat, untuk meredam sanksi sosial bagi dirinya. Pertama, setelah dilantik menjadi anggota legislatif di Surabaya periode kedua, belum telat Ratih membuat permohonan maaf kepada publik. Minimal ke pemilihnya dalam Pileg 2019 lalu.

Selain berpikirgentlemen seperti Wakil Ketua DPRD Darmawan alias Aden, yaitu mengikuti proses penahanan oleh Kejari Tanjung Perak.

Kepada Ratih, saya ingin segarkan suatu pikiran religi bahwa ada fase sanksi non-duniawi yaitu sanksi kubur, diluar sanksi hukum dan sosial. Sanksi ini berarti seseorang sudah tidak ada urusannya dengan orang-orang sekitar, namun dengan makhluk Tuhan yang lain yaitu malaikat.

Aden dan Sugito, misalnya, sering saya jumpai ketika saya mampir ke Rumah Tahanan Kejaksaan Tinggi. Aden dan Gito, sapaan Sugito, masih bisa tersenyum meski ditahan. Terakhir, Rabu minggu lalu, Aden dikunjungi Ketua DPRD Surabaya Armudji bersama rombongan. Bahkan selama di Rutan Kejati, saya mendapat informasi, Aden, politisi Partai Gerindra telah khatam Qur’an, sehingga minggu yang lalu, Aden syukuran dengan nasi kuning bersama penghuni Rutan Kejati Jatim.Subhanallah. (radityakhadaffi@gmail.com)

Berita Populer