•   Jumat, 28 Februari 2020
Kriminal

Ratusan Juta Pengguna Internet di Indonesia Berpotensi Radikal

( words)


SURABAYAPAGI.com - Sejak pertama kali terjadi bom di sejumlah gereja di Surabaya, Jawa Timur, ada 1.285 akun medsos yang sudah diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Menurut Tenaga Ahli Menteri Bidang Literasi Digital dan Tata Kelola Internet Donny Budi Utoyo, sangat sulit membendung paham radikal yang tersebar di internet.

1. Banyak propaganda paham radikal di medsos
Diketahui, kini ada 143 juta pengguna medsos yang berpotensi terkena virus radikal. Hal itu melebihi jumlah pengguna internet di Thailand dan Sigapura.

Bersamaan dengan itu, propaganda kelompok radikalisme dan terorisme kerap dilakukan di dunia maya atau media sosial (medsos).

"Memang gak akan ada habisnya jika mengatasi kasus per kasus. Di sisi hulu, kami ada literasi meliputi konten dan pemanfaatan digital, juga kerja sama dengan platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Google, YouTube, Twitter, Telegram, Line, BigoLive, dan lain-lain," ujar Donny di Kantor Kemenkominfo, Rabu (16/5).

2. Ada film ISIS berbalut cerita anak
“Sekitar dua tahun yang lalu tanpa sengaja saya bersama teman-teman tim sedang masuk ke YouTube. Tiba-tiba ada video yang baru di-upload. Menurut saya bagus sekali. Judulnya, ’Ayahku Teladanku’. Kami sempat download,” ujarnya.

Donny menjelaskan, di film itu mengadegankan, anak-anak yang berkelompok disatukan dalam satu rumah, ruangannya gelap, mereka bergerak seperti pasukan dengan menggunakan infrared, mengejar sesosok musuh yang mereka kejar.

“Ternyata, musuh yang dikejar mereka adalah warga negara asing yang sedang diikat matanya. Kemudian di adegan berikutnya musuh yang mereka kejar itu dieksekusi. Terlihat sangat real,” ulas Donny.

Donny menilai, film ini jelas memiliki tujuan sebagai bagian dari proses mendorong orang menjadi radikal melalui sosial media. Dan, dengan kemasan yang mereka buat di film itu, sangat mungkin sekali ada yang terpengaruh. Khususnya anak-anak.

“Jika film ini ditonton oleh anak-anak, sudah bisa dipastikan akan terpengaruh. Karena menurut saya, kemasan dalam film ini dibuat secara profesional dan mudah dicerna anak-anak,” ujarnya.

Film ISIS itu tidak lama ada di YouTube karena langsung ditakedown. Namun, dampaknya tentu luar biasa jika banyak yang mendownload dan dibagikan ulang.

3. Proses pemblokiran konten radikal terus dilakukan
Donny membeberkan, pemblokiran konten radikal terus dilakukan kendati konten serupa terus bermunculan. Menurut dia, masyarakat juga berperan penting dalam mengedukasi anak-anak agar tak terpapar paham radikal.

Salah satu upaya terkait itu, menurut Donny, adalah dengan membuka aduan konten, internet sehat, siber kreasi dan lainnya. “Isinya dengan melakukan literasi digital, cara menghindari paham radikal,” ungkapnya. idn

Berita Populer