•   Kamis, 12 Desember 2019
Pilwali 2020

Rekom Cawali Desember, Risma – WS Bisa Kompromi

( words)
Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana


Rangga Putra,
Wartawan Surabaya Pagi,

--------------------------
FAKSI Tri Rismaharini dan faksi Whisnu Sakti Buana (WS) disebut-sebuthead to headmemperebutkan rekom dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, untuk maju di Pilwali Surabaya 2020. Namun kepada siapa rekom DPP PDIP diberikan tergantung tiga hal, yakni memperhatikan usulan DPC, hasil survey dan komunikasi para calon.

Sedang rekom itu sendiri diperkirakan baru keluar pada Desember 2019 nanti. Ketua DPD PDIP Jatim Kusnadi menyebut pihak DPP bakal mengumumkan rekom Pilkada serentak 2020 pada bulan Desember mendatang.

Menurut Kusnadi, pihaknya telah dipanggil oleh DPP pada Oktober lalu, dan diberitahu kalau rekom bakal terbit pada akhir tahun. Meski begitu, pihak DPP tetap memilah daerah mana saja yang sudahfix. “Insya Allah bulan Desember. Tapi tetap dilihat dulu daerah mana saja yang sudah siap,” kata Kusnadi yang dihubungiSurabaya Pagi, Selasa (12/11/2019).

Pengamat politik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Agus Mahfud Fauzi menilai, rekom DPP PDIP tergantung tiga hal. Pertama adalah memperhatikan usulan DPC, kemudian hasil survei dan yang terakhir komunikasi para calon.

“Bisa saja dari jalur lain, karena keputusan DPP itu mutlak,” cetus Agus Mahfud.

“Jika terjadi kebuntuan, maka bisa saja Whisnu Sakti Buana dipasang sebagai cawawali, atau sebaliknya,” prediksi dia.

Apabila berkaca pada Pilwali Surabaya 2015, ketika itugrassrootPDIP Surabaya juga bulat mendukung Whisnu Sakti. Tetapi hasil survei menunjukkan elektabilitas untuk Tri Rismaharini. Akhirnya, terjadilah kompromi dengan DPP menunjuk Risma sebagai cawali, sementara Whisnu Sakti sebagai cawawali.

Meski begitu, sambung Agus Mahfud, ke arah mana rekom cawali dari DPP untuk menghadapi Pilwali Surabaya 2020 masih berselimut kabut. Pasalnya, baik cawali usulan Risma maupun Whisnu Sakti sama- sama punya modal kuat untuk mengantongi rekom.

“Semua masih berproses. Apalagi, DPP belum menggelar survei,” ungkap Agus Mahfud. Terpisah, Direktur

Surabaya Consulting Group (SCG) Didik Prasetiyono menyebut, PDI Perjuangan diketahui sebagai partai yang khas dalam menunjukkan pengambilan keputusannya yang demokratik terpimpin. Maka, usulan usulan dari struktur partai bawah diserap sedemikian rupa lewat mekanisme rapat kerja di berbagai tingkatan kepengurusan.

“Tetapi pada akhirnya, DPP PDIP-lah yang akan memutus secara fi nal siapa yang akan diberikan rekomendasi mandat untuk menjadi calon kepala daerah,” cetus Didik kepadaSurabaya Pagi, Selasa (12/11) kemarin. Lantas siapa penerusRisma? Menurut Didik, bisa diketahui dari aspirasi yang dibawa oleh dua kunci penting PDIP di Surabaya. Pertama adalah sosok Risma. Sebagai Walikotaincumbent dan dikenal dekat dengan Ketum PDIP Megawati, preferensi Risma akan menjadi pertimbangan penting bagi pengambilan keputusan Megawati.

“Siapa yang mendapatapproval(persetujuan) dari Risma tentunya mendapat perhatian Megawati, dan sebaliknya siapa yang mendapat disapproval (penolakan) dari Risma, tentunya juga tidak akan mendapatkan tempat mudah di hadapan Mega,” ungkap Didik.

Faktor kedua adalah hasil survei. Menurut Didik, pengambilan keputusan DPP akan mendasarkan pada siapa yang secara elektabilitas mempunyai pijakan yang cukup dalam menjamin kemenangan. “Karena hal yang sudah dipahami partai-partai adalah selain variabel efektifitas mesin partai dalam menjamin kemenangan, tentunya adalah variabel figur kandidat harus kuat di akseptabilitas dan popularitas di mata pemilih,” tutur Didik

Berita Populer