•   Kamis, 17 Oktober 2019
Pilpres 2019

Reuni Aksi 212, Ada Gejala Alumninya Cari Panggung Politik Pilpres 2019

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Surat Terbuka untuk Capres Jokowi-Prabowo, Peserta Pilpres 2019 (86)

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,Tak lama lagi kita akan disuguhi suatu kegiatan yang debatable yaitu reuni 212. Debatablekegiatan ini aksi politik praktis menggunakan label agama atau reuni yang benar untuk mewujudkan ukhuwah Islamiah?Sebagai jurnalis yang muslim, akal sehat saya reuni 212 tidak bernilai dan tidak mencerahkan. Cenderung diselenggarakan dengan ‘silat lidah’. Menko Polhukam Wiranto, menilai reuni 212 tidak relevan. Pasalnya Ahok, sendiri telah ditahan dan permasalahan penistaan agama sudah diputus pengadilan dan berkekuatan hukum tetap. Jadi perbuatan penistaan agama oleh Ahok, secara hukum sudah layak dianggap selesai."Gerakan itu kan sudah punya tujuan, sudah jelas sasarannya, ke saudara Ahok dan itu sudah selesai. Kalau sudah selesai nanti mau demontrasi lainnya ya silahkan saja, Tapi kan kalau demontrasi soal Ahok tak relevan lagi," tegas Wiranto, di Bandung, Selasa (28/11/2018).Sementara Ketua GNPF-Ulama, Yusuf Martak, sebagai salah satu panitia reuni aksi 212 mengatakan, reuni ini diisi salat tahajud dan membaca doa."Membaca doa sampai salat subuh, salat duha, sampai tilawah, semua di Monas. Acara kira-kira sampai pukul 11.00 WIB, “ kata Martak sambil menegaskan acara reuni 212 ini memang hanya dilakukan di kawasan Monas dan tidak di Istiqlal.Ternyata advokat Kapitra Ampera, menggagas aksi tandingan saat reuni 212 digelar di Monas. Sebagai alumni peserta aksi bela Islam 212, juga menggagas aksi reuni 212 di lokasi yang sama. Mantan pengacara Habib Rizieq ini keberatan dengan diselenggarakannya reuni 212, makanya ia dan sesama alumni 212 juga menggelar aksi tandingan bernama kontemplasi 212."Kami ingin mengatakan bahwa kami keberatan aksi itu diselenggarakan. Kami sudah mengajukan surat kepada Kepolisian RI melalui Direktorat Intelkam Polda Metro, akan juga mengadakan aksi yang sama, aksi kontemplasi 212," kata Kapitra, di Mapolda Metro Jaya, Rabu (26/11/2018). Kapitra kini calon legislator dari PDIP."Massa kami terdiri atas segala organisasi yang ikut, juga di sini banyak tokoh-tokoh, pesantren, kelompok pemilik-pemilik pesantren, dan kami sudah berkomunikasi sampai NTB dan mereka siap hadir untuk memberi pencerahan kepada umat Islam bahwa kita berhentilah mengeksploitasi Islam, mempolitisasi agama ini untuk kepentingan politik tertentu," tambah Kapitra.Nah, sejumlah aktivis aksi 212 melakukan demo untuk menghukum Gubernur Ahok, saat itu, kini telah pecah. Akal sehat saya aksi 212 ini bukan organisasi kemasyarakatan. Aksi 212 tak ubahnya organisasi sosial tanpa bentuk. Dan umumnya organisasi semacam ini mudah pecah, karena tak ada tujuan jelas. Beda dengan aksi 212 tahun 2016 yang goalnya jelas yaitu gerakan memenjarakan Ahok, dengan tudingan penista agama. Pada saat kampanye Pilpres 2019, apa tujuan sesungguhnya reuni aksi 212? Akal sehat saya menilai alumni 212 praktis sudah terbelah sebelum reuni aksi 212 diselenggarakan.
Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,Diakui atau tidak, gerakan 212 ini pernah membetot sentimen agama dengan mobilisasi massa ke Monumen Nasional (Monas), lewat sejumlah demonstrasi pada panggung Pilkada DKI Jakarta Tahun 2017 lalu. Nama aliansi ini pasca Ahok dipenjara sudah tidak memakai lagi embel-embel Majelis Ulama Indonesia. Konon gerakan ini resmi mengubah nama sejak Oktober 2017.Perubahan nama aliansi ini juga mengubah struktur kepemimpinan. Yusuf Martak menggantikan Bachtiar Nasir. Kapitra, menclokke PDIP, dicalonkan menjadi anggota parlemen.Aliansi ini dikabarkan "menggerakkan jaringan Salafi-modernis” di kantong kelompok muslim perkotaan.
Majalah SALAFY, edisi 5 Tahun 2005, hal. 13, menulis salah satu gerakan Islam modern adalah mereka sebagai Salafi atau Salafiyah. Salah satu peristiwa fenomenal gerakan ini yang sempat “menghebohkan” adalah kelahiran Laskar Jihad yang dimotori oleh Ja’far Umar Thalib, pada 6 April 2000 pasca meletusnya konflik bernuansa SARA di Ambon dan Poso.Guru ngaji saya mengatakan Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada al-Salaf. Sementara kata al-Salaf sendiri secara bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup sebelum zaman kita. Sedang makna al-Salaf, secara terminologis adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan Rasulullah saw dalam haditsnya:“Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka…” (HR. Bukhari dan Muslim)Berdasarkan hadits ini, maka yang dimaksud dengan al-Salaf adalah para sahabat Nabi saw, kemudian tabi’in, lalu atba’ al-tabi’in. Karena itu, ketiga kurun ini kemudian dikenal juga dengan sebutan al-Qurun al-Mufadhdhalah (kurun-kurun yang mendapatkan keutamaan).
Sebagian ulama kemudian menambahkan label al-Shalih (menjadi al-Salaf al-Shalih) untuk memberikan karakter pembeda dengan pendahulu yang lain.Artinya, Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada al-Salaf. Maka itu, sejumlah ulama menyebut seorang salafi berarti seorang yang mengaku mengikuti jalan para sahabat Nabi saw, tabi’in dan atba’ al-tabi’in dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka.Dan pada tahun 80-an, seiring dengan maraknya gerakan kembali kepada Islam di berbagai kampus di Tanah air, muncul gerakan Salafiyah modern di Indonesia. Adalah Ja’far Umar Thalib, salah satu tokoh utama yang berperan. Dalam salah satu tulisannya yang berjudul “Saya Merindukan Ukhuwah Imaniyah Islamiyah”, Ja’far Umar menceritakan kisahnya mengenal paham ini dengan mengatakan:“Ketika saya belajar agama di Pakistan antara tahun 1986 s/d 1987, saya melihat betapa kaum muslimin di dunia ini tercerai berai dalam berbagai kelompok aliran pemahaman. Saya sedih dan sedih melihat kenyataan pahit ini. Ketika saya masuk ke medan jihad fi sabilillah di Afghanistan antara tahun tahun 1987 s/d 1989, saya melihat semangat perpecahan di kalangan kaum muslimin dengan mengunggulkan pimpinan masing-masing serta menjatuhkan tokoh-tokoh lain.(Majalah SALAFY, hal. 3 (Edisi 5, Tahun 2005).Oleh karena, bagi mereka, pemilu berpotensi besar menanamkan fanatisme jahiliah terhadap partai-partai yang ada. (Buku Beberapa Kerusakan Pemilu, Muhammad Umar As-Sewed, Majalah SALAFY, edisi XXX, hal. 8-15. Lihat juga wawancara dengan Eko Rahardjo, ketua divisi penerangan FKAWJ tanggal 10 Agustus 2004 dalam Gerakan Salafi Radikal di Indonesia, hal. 121).

Yth Pak Jokowi-Pak Prabowo,
Dalam rencana reuni aksi 212, beberapa hari lagi, Anda berdua diundang. Akankah Anda datang? Bila menghadiri, undangan darimana, apakah kelompok Yusuf Martak atau Kapitra?Menurut saya dua kelompok ini sedang mencari panggung politik.Makanya, saya lebih membaca reuni aksi 212 maupun kontemplasi aksi 212, sama-sama aksi politik praktis yang dikemas kegiatan keagamaan.Kemasan seperti ini tak ubahnya silat lidah yang nuansanya ‘berdalih atau memutarbalikkan maksud maksud politik praktis’.Akal sehat saya, bila diajak berbicara atau berdiskusi dengan orang yang pandai bersilat lidah, dapat diibaratkan seperti menonton atraksi ’tong setan’ dimana seorang pengendara sepeda motor berputar-putar dalam sebuah bulatan kerangka besi. Berbicara dengan orang yang suka bersilat lidah seperti kehilangan logika.Mengingat orang yang suka bersilat lidah umumnya pandai menyembunyikan fakta-fakta yang merugikan dirinya dan menonjolkan hal-hal yang menguntungkan dirinya. Praktis, mereka punya segudang ’amunisi’ argumentasi bahwa reuni aksi 212 bukan aktivitas politik praktis mendukung salah satu capres diantara Anda berdua. Guru saya meminta orang berakal sehat tak mudah percaya pada poilitisi yang pandai silat lidah.Maklum ajaran almarhum ayah saya, politik sesungguhnya adalah persahabatan, persaudaraan dan persatuan.
Akal sehat saya memprediksi pertemuan reuni aksi 212 tidak membawa pesan persahabatan, persatuan dan persaudaraan. Buktinya, sesama alumni kini telah pecah, memilih jalan berbeda.Bagi saya, yang sejak kecil diajarkan untuk selalu melakukan ukhuwahIslamiyah, feeling saya reuni aksi 212, tak akan menciptakan ukhuwah islamiah. Mengingat, Ukhuwah Islamiyah merupakan hubungan persaudaraan antar umat islam yang berlandaskan keimanan guna menciptakan, menumbuhkan, dan menguatkan perasaan persaudaraan, rasa cinta, serta kekuatan islamiyah.Saya diajarkan oleh guru ngaji saya sikap yang menunjukan ukhuwah islamiyah dalam kehidupan sehari – hari, diantaranya Saling menghormati dan menghargai antar manusia dan Ikut mendonasikan sebagian harta, tenaga, maupun doanya Mendamaikan saudara yang sedang berselisih.Bisa jadi reuni aksi 212 akan menjelma menjadi politisasi agama, dimana sejumlah alumni aksi 212 ini ada yang ingin mencari panggung politik dalam pilpres 2019.Dalam sejarah Islam disebutkan beberapa Nabi, seperti Nabi Muhammad, Nabi Daud dan lain-lain merupakan politisi yang berfungsi menyebarkan ajaran Al-Quran kepada para umat seperti menegakan hukum dengan kebenaran kepada manusia.Sementara penyelenggara reuni aksi 212 juga mengikuti para nabi yaitu membangun semangat menegakan hukum dan kebenaran kepada semua manusia.
Maka itu, saya bertanya adakah jaminan bahwa reuni aksi 212, tidak akan menimbulkan kerusuhan yang merugikan rakyat Indonesia secara keseluruhannya. Terutama di Jakarta? Kepentingan apa yang sesungguhnya dilakukan penyelenggara reuni aksi 212 menarik publik datang ke Jakarta secara berbondong-bondong? Sudahkah dipikirkan pergi bersama untuk reuni 212 ke Jakarta nanti akan lebih banyak mudharotnya (kerugiannya) atau kemanfaatannya. Mari kita lihat tanggal 2 Desember 2018, dua hari lagi. (tatangistiawan@gmail.com)

Berita Populer