•   Sabtu, 23 November 2019
Bisnis Makro

RI Antisipasi Dampak Krisis Ekonomi Turki

( words)
Krisis ekonomi di Turki diharapkan tidak berdampak buruk terhadap perekonomian di Tanah Air.


SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Sebagaimana dilansir Reuters, mata uang lira mencapai titik terendah sepanjang sejarah, yakni 7,24 lira per dolar AS. Nilai mata uang lira mengalami penurunan hingga 40% terhadap dolar sepanjang tahun ini.
Krisis ekonomi di Turki diharapkan tidak berdampak buruk terhadap perekonomian di Tanah Air. Munculnya kekhawatiran akibat krisis di negara Eropa yang berbatasan dengan Asia itu hendaknya tidak disikapi secara berlebihan.
Meski demikian, sebagai antisipasi pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuang an (OJK) dan Bank Indonesia (BI) akan terus berkoordinasi guna mengurangi dampak krisis Turki yang berawal dari gejolak mata uangnya, lira. Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, kondisi perekonomian Indonesia berbeda dengan Turki yang tengah dilanda kekhawatiran krisis ekonomi akibat gejolak pasar keuangan. Indonesia punya hal-hal positif yang di lihat dalam sepekan terakhir.
“Pertumbuhan kita kuat, inflasi rendah, dan defisit APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) diperkirakan lebih rendah,” kata Sri Mulyani di Tangerang, Banten, kemarin.
Menurutnya, dampak dari adanya kekhawatiran krisis ekonomi di Turki akibat penurunan mata uang lira masih sebatas persepsi. Akan tetapi, kata Sri, pemerintah akan tetap mewas padai dan berkoordinasi dengan pihak lain seperti BI dan OJK.
Pada Jumat (10/8), nilai tukar lira terhadap dolar AS bahkan anjlok 20%. Penurunan nilai tukar lira itu memicu ke khawatiran nasib pemerintahan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang berjanji menurunkan bunga bank.
Banyak pihak menilai, memburuknya nilai lira berkaitan dengan memanasnya hubungan Turki dengan Amerika Serikat (AS). Hal itu membuat investor Eropa dan AS mengamati dengan teliti fenomena tersebut. Kehancuran lira juga memengaruhi mata uang lain di Asia dan mata uang lain seperti franc (Swiss), dan yen (Jepang).
Selain itu, mayoritas indeks saham di Asia dan Eropa juga mengalami penurunan. Indeks Nikkei 225 di Tokyo turun 440,65 poin atau 1,98% dibanding penutupan Jumat (10/8). Indeks Hang Seng juga turun 430 poin (-,52%). Kemudian Kospi Korea melemah 34,34 pon (-1,5%). Di dalam negeri, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia juga anjlok ke zona merah dengan kehilangan 216 poin atau -3,55% ke level 5.861,2.jk

Berita Populer