•   Sabtu, 14 Desember 2019
Pilwali 2020

Risma Dicurigai

( words)


Gerakan #RismaSelamanya diduga karena Praktik Kartel Politik yang Punya Kepentingan di Pilwali Surabaya 2020. Faksi Risma dan Whisnu Sakti Head to Head untuk Dapat Rekom Megawati

Rangga Putra – Farid Akbar,
Tim wartawan Surabaya Pagi

---------------------------------
Aksi politik relawan Tri Rismaharini yang mengusung gerakan #RismaSelamanya, menuai curiga. Risma yang juga Ketua DPP PDIP itu diduga berupaya membangun politik dinasti dan oligarki, lantaran tak bisa lagi menjadi Walikota Surabaya setelah menjabat dua periode. Hanya saja, modusnya bukan mengajukan bakal calon walikota (Cawali) dari anak atau keluarganya, seperti terjadi di Kediri, Probolinggo dan Bangkalan.


Image

Diduga Risma akan mengajukan orang dekatnya, yan disebut sebut sudah didaftarkan melalui DPP PDIP. Kondisi ini membuat faksi di internal PDIP kian kentara. Pasalnya, mayoritas Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP di Surabaya, dikabarkan masih setia ke Whisnu Sakti Buana, mantan Ketua DPC PDIP Surabaya yang digantikan oleh Adi Sutarwijono alias Awi.

Public pun kini bertanya – Tanya, siapa yang bakal mendapat rekom dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk maju di Pilwali Surabaya 2020. Whisnu Sakti (WS) ataukah jagoannya Risma?

PENELUSURANSurabaya Pagi, Senin (11/11/2019), suara sejumlah PAC di Surabaya ternyata masih berharap WS direkom Megawati. Selain telah mendampingi Risma sebagai Wakil Walikota Surabaya, putra tokoh PDIP almarhum Sutjipto ini juga punya pengalaman memimpin DPC PDIP Surabaya selama dua periode. WS juga pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Surabaya. Bahkan di era WS, mengatarkan PDIP menguasai 15 kursi di DPRD Kota Surabaya.

“Kami simpel saja, beliau (Whisnu Sakti, red) sudah pengalaman jadi Wawali dan pengabdiannya tak diragukan, juga tanggap permasalahan di lapangan,” ujar Ketua PAC PDIP Mulyorejo, Agus Basuki saat dihubungiSurabaya Pagi, kemarin (11/11),

Sedang jabatan Tri Rismaharini sebagai Walikota Surabaya, lanjut dia, sudah mencapai batasnya (dua periode). Maka, menurut Agus, perlu pengganti yang berpengalaman. “Masa keemasan Risma sudah berakhir, biarkan diganti dari internal (PDIP),” lanjut dia. Ketua PAC PDIP Sukomanunggal, Triyarso, juga mengungkapkan hal sama.

Bahkan, ia mengklaim sebanyak 31 PAC di Surabaya masih mendukung WS sebagai cawali di Pilwali Surabaya 2020. “Saya termasuk yang mendukung (Whisnu Sakti Buana, red),” tandas Triyarso dihubungi terpisah.

Terkait gerakan#RismaSelamanyadan maneuver Risma yang mendaftarkan jagoannya di DPP PDIP, Triyarso memilih tidak komentar. Ia hanya bisa pasrahterhadap rekom yang keluar nanti. Baginya semua menjadi keputusan Ketum DPP PDIP. “Sebagai kader militant itu tidak akan pernah melawan keputusan partai. Harus tegak lurus,” ungkapnya.

Hariaji dari PAC Krembangan dan Jupri dari PAC Genteng, juga mengaku tetap mendukung WS, meski hingga saat ini belum ada kejelasan rekom dari DPP PDIP. Ditanya alasannya mendukung WS, Hariaji enggan membeberkannya. Ia hanya mengirimkan sticker bergambar Whisnu yang sedang mengepalkan tangan dengan tulisan “Sepakat WS Saja” ketika dihubungi melaluiWhatsApp.

Soal Gerakan Risma

Sementara itu, elit PDIP yang duduk di DPRD Kota Surabaya juga enggan menanggapi aksi relawan Risma yang akan mendukung siapapun yang diinginkan Risma sebagai Cawali nanti. Ahmad Hidayat, misalnya. Anggota Fraksi PDIP ini mengaku tidak berani memberikan komentar tentang cara Risma menyiapkan penggantinya melalui jalur DPP.

“Kita semua menunggu apa yang jadi keputusan DPP, jangan sampai kita dari pengurus DPC punya interpretasi pribadi. Jadi kita nunggu rekom DPP turun saja,” cetus Hidayat yang juga Wakil Sekretaris DPC PDIP Surabaya ini saat ditemui di gedung DPRD Surabaya, Senin (11/11) kemarin.

Mengenai gerakan#RismaSelamanya saat Car Free Day (CFD), Minggu (10/11), ia tidak mempermasalahkan. “Itu bentuk keberhasilan Bu Risma sebagai wali kota, sehingga masyarakat masih mencintainya,” tutur dia.

Anas Karno, anggota Fraksi PDIP lainnya, juga bersikap sama. Menurutnya, yang berhak memberikan penjelasan terkait Pilwali adalah Ketua DPC PDIP Surabaya Adi Sutarwijono yang juga Ketua DPRD Surabaya.

Sedang Ketua Fraksi PDIP Syaifudin Zuhri yang dimintai tanggapannya terkait manuver Tri Rismaharini, ia justru mengaku tidak mengetahui jika Risma memiliki jagoan yang akan diusung di Pilwali Surabaya 2020.

“Saya nggak tahu itu, kalau ada beritanya tolong sampean kirimkan,” kelit dia saat dikonfi rmasi melalui ponselnya, kemarin.

Ia juga enggan menanggapi terkait aksi relawan Risma di CFD dengan alasan dia sedang rapat. “Sek yo mas,engkok ae aku sek rapat. Gakenak lek aku ngomong dewe,” ujar politisi yang akrab disapa Ipuk ini seraya mematikan ponselnya.

Fenomena Rismasentris

Terpisah, pengamat politik Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Abdul Chalik menilai, fenomena Rismasentris dengan mengusung sosok yang bisa meneruskan kebijakannya membangun Surabaya, bukan oligarki politik. Yang mungkin terjadi, sambung Abdul Chalik, adalah praktik kartel politik.

Menurut Abdul Chalik, kartel politik adalah ketika seorang pemimpin daerah dikendalikan oleh segelintir orang untuk kepentingan pribadi. “Gejalanya adalah, terdapat orang-orang yang maju bersaing dalam pilkada dengan hanya bermodal popularitas semata, bukan visi dan kualitas kerja,” papar Abdul Chalik.

Menurut pendiri Sunan Giri Foundation ini, dari faksi- faksi yang ada di internal DPC PDIP Surabaya, kubu Risma lebih unggul daripada Whisnu. Pasalnya, di antara tokoh-tokoh faksi yang ada, hanya sang wali kota yang menjadi pejabat struktural di DPP. Boleh jadi, cawali usulan Risma lebih dipertimbangkan daripada usulan yang dating berjenjang dari DPC dan DPD.

“Risma lebih di atas angina lantaran jadi pengurus pusat,” cetus Abdul Chalik.

“Selain itu, PDIP ingin mengamankan kemenangan di Surabaya, dan melanjutkan pembangunannya.”

Berebut Rekom

Pengamat politik Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Galang Geraldy juga melihat faksi-faksi yang ada di internal PDIP Surabaya, memang faksi Risma dan faksi Whisnu Sakti yang saat ini sedanghead to head berebut rekom DPP. Seperti yang sudah diketahui, Risma sekarang menjadi salah seorang pengurus DPP PDIP. Di lain pihak, Whisnu Sakti mendapat dukungan kuat darigrassrootpartai.

“Namun, saya menilai Risma lebih kuat posisinya di mata DPP. Soalnya, Risma telah menunjukkan prestasinya membangun Surabaya. Jadi, usulan Risma lebih mungkin dipilih,” tutur Galang. “Di lain pihak, Whisnu Sakti pun juga bisa mengklaim kalau dia turut andil dalam membangun kota,” lanjutnya menegaskan.

Sebelumnya, Whisnu Sakti Buana memaparkan visi dan misinya membangun Surabaya pasca Walikota Tri Rismaharini di Hotel Bumi Surabaya, Minggu (10/11). Diantaranya memperbanyak spot kepahlawanan, gagasan soal taman hiburan rakyat lewat pusat budaya teknologi dan demokrasi, wisata Surabaya timur manggrove spot, Gelora Bung Tomo (GBT) sport center, ruang terbuka hijau, hingga upaya mewujudkan subway di Surabaya.

Apakah konsep besar ini akan disampaikan ke DPP PDIP untuk mendapatkan rekomendasi maju di Pilwali Surabaya 2020? “Ya otomatis. Ini akan kita bawa, baik ke DPP PDIP maupun ke Surabaya nanti. Kalau misalkan rekom turun ya kita sampaikan ke KPU sebagai janji kita, visi-misi kita ke depan,” sebut Whisnu.

Berita Populer