•   Senin, 16 Desember 2019
Pilpres 2019

Rocky Gerung, Dapat Panggung ILC, Suka Tafsirkan Urusan Publik

( words)
Catatan Politik oleh Dr. H. Tatang Istiawan (Wartawan Senior)


Catatan Akal Sehat Demokrasi Indonesia Pilpres 2019 (4)

Siapa sebenarnya Rocky Gerung?. Beberapa politisi yang diundang dalam forum Indonesia Lawyers Club (ILC) di TVone, banyak yang terkecoh memanggil pria berkacamata minus ini dengan sebutan Profesor.
Pria shio Babi (kelahiran Menado, 1959), ternyata bukan profesor. Padahal RG, singkatan nama Rocky Gerung, sering dipanggil profesor. Meski bukan profesor, nalar berpikirnya mengalahkan orang-orang dungu. Memang RG, selama ditanggap penyelenggara ILC, terlalu gampang menyebut dungu. Sepertinya RG, tahu bahwa orang yang tidak sejalan dengan pikirannya adalah orang bodoh, bebal dan tidak cerdas.
Ucapan RG ini berbeda dengan orang jawa umumnya. Nenek moyang orang jawa suka menasihati anak-cucunya agar jangan suka mengatai seseorang dengan sebutan bodoh. Dengan mengatain orang bodoh, nenek moyang orang jawa mengingatkan, diri orang seperti ini tidak akan terlihat lebih pintar hanya karena menyebut orang lain bodoh. Tapi saya maklum, RG, bukan orang jawa.
Dalam kultur jawa, sebelum menyebut orang lain bodoh, kita disarankan untuk instrospeksi diri dan bertanya siapa diri saya? “Kita siapa sih sampai bisa bilang bahwa orang lain itu bodoh?“
Apakah kita sudah sepintar Albert Einstein atau sesukses Bill Gates, sampai dengan mudahnya menyebut orang lain dungu?

***
RG, pernah mengajar secara tidak tetap di Departemen Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia.
Setelah lulus, RG mengajar di jurusan itu sebagai dosen tidak tetap dan hanya bergelar sarjana. Tahun 2005, RG berhenti disebabkan keluarnya UU No. 14 tahun 2005 yang mensyaratkan seorang dosen harus minimal bergelar magister. Setelah ini, RG mendirikan Setara Institute, sebuah lembaga pemikir non pemerintah yang bergerak di bidang demokrasi dan hak asasi manusia. Di lembaga ini ia salah satu pendiri, bukan satu-satunya.
Sebagai seorang akademisi, salah satu bidang spesialisasi RG adalah filsafat feminisme. Ini karena RG banyak menulis di Jurnal Perempuan, sebuah terbitan ilmiah yang dikelola oleh Yayasan Jurnal Perempuan dan didirikan oleh Gadis Arivia, koleganya di Universitas Indonesia.
Pakar itu rujukan dengan referensi yang obyektif, bukan cenderung memojokkan seseorang atau rezim. Kebetulan kali ini yang dikritisi Presiden Jokowi dan rezimnya.

***
Sebelum terkenal karena sering tampil di forum ILC TVone, RG memang sering menulis di Jurnal Perempuan, sebuah terbitan ilmiah. Tetapi namanya, tidak seterkenal seperti sekarang.
Akal sehat saya mengatakan, popularitas RG, tak bisa dilepaskan dari wadah debat yang semula kumpulan para advokat.
Sebagai medium, TVone dengan ILC, berandil membesarkan nama RG di kalangan masyarakat Indonesia, terutama pemirsa TV.
Akal sehat saya, popularitas RG, setidaknya karena dua hal. Pertama, TVone sebagai media televisi yang dikenal kritis dan berbeda. Kedua, sosok RG, yang nyentrik, berani membuat penafsiran urusan publik.
Menurut akal sehat saya, penafsiran RG, cenderung seenaknya sendiri. Hampir setiap program ILC, saya mengamati cara RG, memberi komentar, berargumentasi dan memotong pembicaraan panelis. Akal sehat saya, RG, tak ubahnya orang yang tidak pernah bicara mengutip referensi filsuf atau penelitian tentang keilmuan.
Dalam pemahaman saya yang pemeluk agama Islam, tafsir diambil dari kata fassara – yupassiru–tafsiran yang berarti keterangan, penjelasan atau uraian.
Jadi, tafsir ialah dari ilmu-ilmu syari’at yang paling mulia dan paling tinggi. Tafsir adalah ilmu yang paling mulia, sebagai judul, tujuan, dan kebutuhan. Maklum, judul pembicaraan ialah kalam atau wahyu Allah SWT yang menjadi sumber segala hikmah dan sumber segala keutamaan.
Maka itu, saya termasuk penyuka tafsir-tafsir Al Qur’an yang dibahas oleh M. Quraish Shihab. Bagi saya, Quraish, adalah salah satu pakar tafsir kontemporer jebolan Universitas Al-Azhar Mesir yang dimiliki Indonesia.
Ada karya yang dikenang orang dari Quraish yaitu tafsir Al-Mishbah . Tafsir ini dikenal sebagai karya Quraish Shihab, yang paling monumental dalam bidang tafsir.
Dalam menafsirkan Alquran, Quraish, selalu membandingkan satu pendapat dengan pendapat lain. Di antara beberapa pakar yang sering ia kutip ketika menafsirkan Alquran adalah Ibnu Faris pengarang Maqâyis al-Lughah. Selain Tabatabai, pengarang Tafsir al-Mizan, dan beberapa Syaikh Al-Azhar Kairo.
Sedangkan RG, meski dikenal sebagai dosen filsafat, dalam siaran ILC, saya nyaris tak menemukan ia mengutip filsuf-filsuf sebelumnya, sebagai rujukan.
Bila kejadian yang saya tulis ini diakui oleh publik, siapa yang salah dengan penampilan RG di ILC? apakah RG sendiri yang merasa tersanjung dengan sering diundang oleh penyelenggara ILC atau TVone pemilik program ini, ingin menyedot pemirsa, melalui pikiran – pikiran seenaknya dari RG?

***
Apakah dengan sering tampil di program ILC menafsirkan berbagai urusan publik dan sering dikritik oleh sejumlah panelis, layaknya RG dipanggil filsuf Indonesia era milenial?
Akal sehat saya teringat saat kuliah filsafat ilmu dan hukum. Dari dua mata kuliah ini, saya dibekali dosen-dosen saya bahwa filsuf itu dikenal karena memiliki pemikiran analitis .
Tipe ini terdiri orang-orang pendiam dan tidak banyak bicara. Sifat dan sikap filsuf seperti ini, karena mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Lalu tepatnya apa status RG? Apakah filsuf, pengamat politik atau bahkan salah satu tim sukses salah satu capres yang berbedak pemikir kebenaran?
Saat saya kuliah dulu, dosen filsafat ilmu dan hukum mengajarkan bahwa ciri-ciri orang berpikir filosofi adalah mereka yang mau berpikir secara menyeluruh. Artinya, pemikirannya luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satu sudut pandang tertentu.
Dosen filsafat ilmu saya mengajarkan bahwa pemikiran kefilsafatan adalah keinginan untuk mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain. Termasuk hubungan ilmu dan moral, seni dan tujuan hidup.
Dengan suka menyebut dungu, saya ingat pesan guru agama saya saat masih di SD. Diingatkan bahwa setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Orang yang sok pintar, sulit untuk melihat kelebihan orang lain.
Bahkan orang yang menganggap dirinya bukan dungu, sering menganggap dirinya jauh lebih pintar daripada orang lain. Akhirnya, orang terdidik yang suka bicara dungu, ciri orang yang cenderung gemar meremehkan orang lain.
Akal sehat saya sering bertanya mengapa ada orang suka meremehkan orang lain dengan sebutan dungu? Dalam pikiran bahwa sadar saya, orang yang suka meremehkan orang lain juga bisa berdampak untuk dirinya sendiri. Antara lain bisa kehilangan banyak teman. Apa bukan begitu pembaca?(tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

Berita Populer