RSUA Tak Layani Pasien Corona Lagi

Petugas medis menurunkan pasien yang diduga terpapar Covid-19 di Tenda darurat Museum Kesehatan Jl. Indrapura, Surabaya, Kamis (28/5/2020). Setelah diresmikan sudah 2 pasien terpapar Covid-19 yang telah dirawat di tenda tersebut. Foto: SP/Arlana Byob

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Diluar dugaan, Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) dalam minggu ini kewalahan merawat pasien positif virus Corona (Covid-19). Padahal, RSUA menjadi salah satu rumah sakit rujukan dengan fasilitas lengkap dan tenaga medis professional. Kini, sejak tanggal 26 Mei 2020, RSUA pun terpaksa menutup tidak menerima rujukan pasien positif Covid-19.

Informasi yang dihimpun Surabaya Pagi sejak Kamis (28/5/2020), penutupan RSUA dengan tidak menerima pasien positif Covid-19, diduga karena banyak tenaga medis di RSUA ikut terpapar Covid-19. Apalagi, sejak jumlah pasien Covid-19 di Surabaya dan Jawa Timur, membludak mencapai angka 2.300 kasus positif Covid-19 (total se Jawa Timur, mencapai 4.271 kasus).

“Banyak tenaga medisnya yang terpapar mas. Apalagi makin lama, makin kebuka semua yang positif. Teman-temanku, dan beberapa senior juga ada yang kena juga. Makanya, gak sebanding dengan pasien yang positif,” cetus salah satu seorang dokter muda kepada Surabaya Pagi, yang meminta namanya dirahasiakan, Kamis (28/5/2020).

Apakah benar karena tenaga medis RSUA yang dikenal salah satu yang terbaik, ikut terpapar juga?

Dari undercover Surabaya Pagi di RSUA, Kamis (28/5/2020) siang hingga sore, aktivitas di RSUA baik di ruang Instalasi Gawat Darurat terlihat tetap beraktivitas normal.

Hanya saja, ada secarik pengumuman yang tertempel di ruang informasi, bahwa rumah sakit Pendidikan milik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini tidak menerima rujukan pasien Covid-19.

Hal itu juga diperkuat dengan petugas sekuriti yang berjaga, saat ditemui Surabaya Pagi, Kamis (28/5/2020). “Sementara mas (tidak menerima pasien Covid-19. Katanya tempat sudah penuh,” jelas petugas sekuriti yang mengenakan pakaian safari itu. Namun, sekuriti itu tak menjelaskan, apakah tenaga medis banyak yang terpapar Covid-19.

Surabaya Pagi pun sempat melihat pengumuman dan pemberitahuan yang terpasang, terkait RSUA tidak menerima pasien Covid-19. Surat pemberitahuan itu tertanggal 25 Mei 2020  tentang pembatasan layanan yang ditandatangani Dr. Hamzah, dr., Sp.An., KNA, Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan.

Isi surat pemberitahuan tersebut memuat tentang keterbatasan kapasitas perawatan pasien Covid-19 dan penyesuaian layanan.  Pada surat tersebut juga tertulis tentang penutupan sementara layanan pasien baru Covid-19.

 

Penataan Internal

Berkait dengan penutupan RSUA, diluruskan oleh Dr. Suko Widodo, Ketua Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Universitas Airlangga. Suko Widodo menjelaskan, RSUA tidak melakukan penutupan, namun hanya penataan internal. “Bukan penutupan, tetapi penataan internal, RSUA harus mengantisipasi dengan kemungkinan terjadinya peningkatan pasien baru Covid-19. Karena itulah, perlu dilakukan penyesuaian kebutuhan mendesak agar kualitas layanan tetap terjaga" jelasnya.

Berkait adanya kabar tentang tenaga kesehatan yang terdeteksi positif Covid-19, Ketua PIH Unair ini membenarkan adanya serangkaian pemeriksaan kesehatan pada nakes di RSUA.

“Pemeriksaan itu sebetulnya rutin. Tapi karena ini banyak kasus Covid-19, nakes sekalian diperiksakan”, ujar Suko. Atas dasar itu, pihak RSUA, diakui Suko, sedang kewalahan.

Saat ini memang RSUA terus berbenah karena dipercaya menjadi tempat merawat pasien Covid-19. Secara rutin, manajemen RSUA juga terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

 

Tambah 100 Ranjang Pasien

Pernyataan Suko Widodo pun dipertegas Rektor Unair, Prof Mohammad Nasih, Kamis (28/5/2020). Prof Nasih mengatakan, pihak RSUA menutup layanan sementara bagi pasien Covid-19 karena saat ini ada 100 pasien Covid-19 yang sedang dirawat di rumah sakit pendidikan tersebut.

“Kalau terus menambah pasien, kami tidak mampu. Fasilitas tempat tidur yang kami miliki juga tidak cukup. Kami ingin memberikan layanan maksimal. Tidak ingin pasien-pasien nantinya tidak mendapatkan fasilitas yang memadai,” ujar Prof Nasih.

Prof Nasih berasalan, pihaknya saat ini sedang melakukan perbaikan dan penataan internal. Terutama dengan menambah fasilitas-fasilitas yang kurang agar nantinya bisa menerima pasien Covid-19 dengan lebih banyak lagi. “Saat ini kami sedang proses penambahan 100 tempat tidur lagi, tapi itu butuh waktu dan proses. Mohon sekiranya dimengerti,” tukasnya.

 

Ruang Isolasi Penuh

Sementara, Inge Dhamanti selaku Ketua Pusat Riset Keselamatan Pasien Universitas Airlangga membenarkan bila pasien kasus positif Covid - 19 di instalasi gawat darurat RSUA membludak karena tidak kebagian ruangan isolasi. RSUA kemudian membuat kebijakan baru dengan tidak menerima pasien rujukan dan menutup sementara pelayanan kasus Covid - 19 di RSUA.

Inge Dhamanti kemudian menjelaskan bila adanya permasalahan di RSUA yang berkaitan dengan banyak faktor serta dukungan pemerintah yang dinilai kurang kuat atau ambigu, yang menimbulkan beban pelayanan kesehatan RSUA semakin berat.

"Amat sangat banyak faktor yang berkontribusi di rumah sakit, ada faktor pasien, ada faktor individu atau stafnya, faktor pengerjaan, komunikasi, team work dan sebagainya. Semua ini masih bermasalah di rumah sakit kita sekarang terkait dengan pandemi. Dengan kondisi seperti ini, misalnya dengan dukungan pemerintah yang kurang kuat atau dengan pemerintah yang ambigu, itu akan membuat beban pelayanan kesehatan kita semakin berat, karena mereka harus tetap melayani pasien dengan APD yang seadanya. Karena memang itu bagian tuntutan dan profesinya karena mereka terus memberikan pelayanan. Pelayanan kesehatan tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia itu sudah kolap karena Covid ini," pungkasnya.

 

Layanan Poli Tetap Buka

Terpisah, Satgas Corona Rumah Sakit Universitas Airlangga, Dr. Alfian Nur Rosyid Sp.P juga menjelaskan bila RSUA melakukan pembatasan pelayanan dan penataan internal.

"Bukan ditutup, tapi pembatasan pelayanan dan penataan internal. Pasien yang masih dirawat di RS Unair tetap dilayani. Diobati sampai baik. Beberapa layanan poli seperti HD, TB, HIV, pengambilan obat kronis masih dilayani," ujarnya kepada Surabaya Pagi.

Ia menuturkan bila hingga saat ini terus melakukan running pemeriksaan untuk para tenaga medis untuk keamanan dan keselamatan pegawai serta menjelaskan bila masih banyak rumah sakit rujukan lain sebagai alternatif untuk menangani pasien dengan kasus positif Covid - 19.

"Saat ini kita masih terus running pemeriksaan untuk pegawai, sehingga jumlahnya masih kita data. Untuk kepentingan keamanan dan keselamatan pegawai, keluarga dan pasien yang dilayani. Pemeriksaan ini bagian rutin dari Rumah Sakit untuk para staf. Ada banyak RS Rujukan lain se surabaya yang bisa jadi alternatif untuk menangani pasien terkait Covid, sehingga tetap dapat terlayani" pungkasnya.

Situasi kritis di propinsi Jawa Timur pun dibenarkan oleh juru bicara khusus Pemerintah pusat dalam penanganan Covid-19, Achmad Yurianto. Yuri, sapaan Achmad Yurianto, beberapa RS rujukan di Jatim sedang kewalahan. Untuk itu, kini sudah memperkuat dengan RS darurat. Hal ini karena lonjakan kasus Covid-19 di Jatim melonjak drastis dan tertinggi di Indonesia.

"Di Jatim angkanya meningkat memang menjadi fokus perhatian kita. Kini, di Jatim, sudah mulai diopersionalkan rumah sakit darurat Covid-19," ujar Yuri dalam konferensi yang disiarkan langsung dari Gedung BNPB, Kamis (28/5/2020).

 

Tinjau RS Darurat

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mendampingi kunjungan kerja Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan II (Pangkogabwilhan II), Marsekal Muda Imran Baidirus meninjau secara langsung Rumah Sakit (RS) Lapangan atau RS Darurat Covid-19 yang berada di halaman Puslitbang Humaniora, Jl. Indrapura No. 17, Surabaya, Kamis (28/5).

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, saat ini total kapasitas RS Darurat atau Lapangan Covid-19 tersebut mencapai 200 orang, dan bisa di maksimalkan hingga 500 orang. RS Lapangan ini diperuntukkan bagi pasien Covid-19 kategori ringan hingga sedang.

Namun demikian, kelengkapan alat medis, keamanan dan keselamatan tenaga medis tetap menjadi perhatian. Di sisi fasilitas kesehatan telah disiapkan 4 buah ventilator dan ribuan APD guna memaksimalkan layanan pada masyarakat. Bahkan, untuk tenaga kesehatan dan keluarganya, telah disiapkan pula kamar-kamar khusus di area RS Lapangan tersebut.

“Kita siapkan juga ICU, Ventilator, hingga sarana pemulasaraan di belakang juga kita siapkan,” imbuh Khofifah. n adt/byt/alq/erk/cr9/rmc