•   Minggu, 15 September 2019
Pilpres 2019

Selisih Suara Diprediksi Tipis

( words)


Rangga Putra, Jaka Sutrisna
Wartawan Surabaya Pagi
Rabu (17/4/2019) hari ini, 192.866.254 warga yang masuk Daftar Pemilih Tetap (DPT) bakal memberikan hak pilihnya di 809.500 Tempat Pemungutan Suara (TPS). Ini menjadikan Pemilu 2019 menjadi pesta demokrasi terbesar, mengingat Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilu Legislatif (Pileg) digelar bersamaan. Suhu politik makin menyengat, lantaran calon presiden yang bertarung rematch antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto.
---------
Berkaca hasil Pilpres 2014, Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla mendapat total suara 70.997.851 (53,15%). Sedang Prabowo-Hatta Rajasa 62.576.444 (46,85%). Dalam Pilpres 2019, Jokowi berpasangan dengan KH Ma’ruf Amin. Sedang Prabowo menggandeng Sandiaga Uno.
Melihat tren hasil survei sejak Agustus 2018 hingga awal April 2019, elektabilitas pasangan capres-cawapres nomor 01, Jokowi-Ma’ruf, mengalami stagnan dan cenderung menurun. Sementara Prabowo-Sandi cenderung naik.
Meski begitu, Jokowi-Ma’ruf masih unggul. Survei paling terbaru dilakukan Charta Politika. Survei yang dilakukan pada 5-10 April 2019 itu, Jokowi-Ma’ruf unggul 16,9 persen. Pasangan ini mendapat 55,7 persen suara. Sedang Prabowo-Sandiaga 38,8 persen.
Akankah Prabowo-Sandi mampu mengejar pada coblosan hari ini, 17 April 2019? Peneliti senior Surabaya Survey Center (SSC) Surokhim Abdussalam tidak yakin pasangan capres-cawapres 02 akan unggul. Dalam kondisi normal dan tidak ada gejolak apa-apa, Jokowi-Ma’ruf masih menang.
“Potensinya kecil perolehan suara Prabowo-Sandiaga bisa melampaui Jokowi-Ma’ruf. Diperlukan kejadian luar biasa yang bisa mengubah suara undecided voters maupun swing voters menjadi milik paslon 02 (Prabowo-Sandiaga),” ungkap Surokhim kepada Surabaya Pagi, Selasa 916/4/2019).
SSC sendiri sebelumnya merilis, 56% - 44% untuk paslon 01 Jokowi - Ma’ruf Amien. Menurut penelitian itu, detik-detik terakhir jelang coblosan menjadi momen krusial untuk menentukan ke mana berlabuhnya undecided voters 7 persen dan swing voters 18 persen.
“Selain itu, masih ada 25 persen suara liar yang masih bisa diperebutkan oleh kedua paslon,” ungkap Surokhim. “Jika tidak ada dinamika politik ekstra, paslon 01 akan unggul karena pergerakan dukungan suara berjalan lambat dengan jarak satu digit,” lanjutnya.
Menurut dosen Universitas Trunojoyo ini, solusi yang ditawarkan paslon 02 dalam debat terakhir masih kurang membumi dan masih terlihat sebagai retorika belaka. Bagi pemilih rasional, lanjutnya, mereka masih menimbang dan butuh solusi-solusi yang lebih progresif.
Playing Victim
Terpisah, pakar sosiologi politik dari Unesa Agus Mahfud Fauzi juga mengatakan hal yang sama. Mengetahui serangkaian hasil rilis lembaga survei independen pada masa tenang yang mengunggulkan paslon 01, hanya sebuah kejadian besar yang diperlukan untuk mengubah hal itu menjadi sebaliknya.
Menurut pengamatannya, dua kubu sejatinya saling mewaspadai manuver-manuver pada hari-hari jelang coblosan. Oleh sebab itu, belakangan ditemukan berbagai insiden yang seolah-olah dilakukan pihak tertentu dengan korban dari pihak lawan.
Cara-cara playing victim seperti ini, sambung Agus, adalah untuk mengambil simpati calon pemilih. Sebaliknya, pihak yang lain mencoba membuktikan kalau sebenarnya adalah pihak korban sebagai dalang. “Seperti yang saya katakan sebelumnya, para undecided voters dan swing voters ini kan menunggu ada momen-momen tertentu untuk menguatkan pilihan mereka nantinya. Nah, rasa kasihan itu bakal mempengaruhi pilihan,” cetus Agus.
Belum Tentu Kisruh
Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Fisip Unair Yayan Sakti Suryandaru menyebut, hasil lembaga survei yang dipublikasi pada masa tenang atau pascadebat terakhir, boleh jadi merupakan representasi hasil perolehan suara di lapangan.
Namun, dia justru sangsi kalau pascapemilu nantinya bakal kisruh. Soalnya, Indonesia sudah punya lembaga Mahkamah Konstitusi (MK) yang kuat. Selain itu, tidak ada kesamaan rasa terzalimi pada sebagian besar rakyat kepada yang menang. “Selain itu, sejarah bangsa tidak pernah mencatat kisruh pemilu karena calon presidennya gak kepilih. Yang ribut itu cuma riak-riak kecil pendukungnya saja,” papar dia.
Menurut Yayan, siapa pun yang menang harus menggandeng yang kalah. Sebaliknya, yang kalah juga harus mendukung yang menang. Dengan demikian, wajah pendidikan politik Indonesia menjadi elok. n

Berita Populer