•   Kamis, 14 November 2019
Skandal Perusahaan Curang

Setia Budhijanto, Bak “Bidak” Pembangunan Frontage

( words)
Karikatur The Frontage


Menguak Skandal The Frontage yang Dikelola PT TGU yang Diduga Kroni Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan Senilai Rp 123 Miliar (4)

Tim Investigasi Wartawan Surabaya Pagi

Saat promosi superblok apartemen kondotel (kondominium hotel) The Frontage pada tanggal 10 Juni 2015, yang tampil sebagai pembicara adalah Setia Budhijanto. Ia tidak hanya mengklaim Direktur Utama PT Trikarya Graha Utama (TGU), tetapi juga owner The Frontage. Saat itu, sebelum menjadi skandal, sebagian calon pembeli apartemen dan kondotel, percaya klaim Budhi. Maklum, publik belum tahu sosok Budhi sebenarnya. Publik sepertinya tertegun dengan model marketing The Frontage, yang wahhh.

Pada saat launching, Budhijanto dengan pede menyatakan proyek dipercayakan kepada PT Waskita Karya Tbk, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sudah go publik. Budhi, panggilan pria kelahiran 1962 ini menjelaskan, BUMN PT Wakita Karya ditugaskan mengerjakan pembangunan konsep Mixed Used Kontemporer. Penugasan ini dalam satu wilayah, sehingga menjadi satu superblok yang bakal menjadi ikon baru di Surabaya.

Strateginya ini oleh Budhi, dikaitkan dengan penawaran office building yang ia jadwalkan setelah hari Raya Idul Fitri 2015, Agustus atau September 2015. (Idul Fitri 2015, jatuh pada tanggal 16 Juli 2015).

Budhijanto dengan meyakinkan berkata office building akan memakai konsep green building. Konsep ini dianggapnya sangat ramah lingkungan dan asri dengan didukung technologi yang cukup canggih yaitu akan terintegrasi dengan system dari bisnis itu sendiri.

Bahkan, Budhijanto berani meyakinkan publik,office building ini full support IT terbaik di Indonesia. Harapannya office building The Frontage akan menjadi salah satu gedung yang memiliki akses internet dan lain sebagainya, yang tercepat di Indonesia.

Budijanto bercuap-cuap soal impian The Frontage sendirian. Azrul Ananda, komisaris PT TGU, tidak pernah ikut jumpa pers. Termasuk Arif Afandi, Direktur Utama PT PWU, yang mengklaim penggagas proyek The Frontage. Apalagi Dahlan Iskan. Mantan bos Jawa Pos ini, secara terbuka baru mengekspos ketikaground breaking , satu tahun sebelumnya, tepatnya tanggal 23 Agustus 2014.



***

Pria warga Dukuh Kupang Barat yang sering nginap di apartemen kawasan Surabaya barat ini menyebut Kehadiran The Frontage adalah kompleksone stop shopping yang terdiri dari mall, office, hotel dan apartemen. Didukung lokasinya yang berada di jantung kota Surabaya yaitu Jalan A. Yani yang sebelumnya oleh Pemkot Surabaya telah dilakukan pembenahan frontage road (konsep pengembangan jalan dengan basis jalur cepat dan jalur lambat).

Budhijanto, yang saat launching dan promosi suka berbaju batik tulis lengan panjang mengaku, ketertarikan Bank BTN untuk turut menjadi partner dalam pembangunan The Frontage, karena satu visi dengan PT TGU. Visi PT TGU, membantu kepemilikan individu sekaligus memberikan lapangan kerja .

Benarkah klaim Budhi ini? Kalangan pejabat BTN Kanwil Jatim mengatakan tidak kenal dengan Budhijanto. Justru yang dikenal adalah Dahlan Iskan. Maklum, saat itu Dahlan Menteri BUMN dan BTN adalah Bank plat merah BUMN.

Seorang pejabat BTN mengatakan syarat utama kredit konstruksi bukan soal visi, tetapi performance PT TGU. Pertama, berpengalaman minimal 1 tahun di bidang properti. Kedua tidak cacat urusan kredit, dan yang urgent adalah PT TGU harus menunjukan kemampuan membayar dengan pasti. Maklum, sifat kredit konstruksi adalah kreditrevolving. Artinya maksimal kredit yang bisa dicairkan 80% dari nilai SPK (Surat Perintah Kerja).

Saat itu, PT TGU, belum memenuhi syarat itu. “Ini karena ada pengaruh Pak Dahlan, yang menteri. Makanya, saat tidak jadi Menteri BUMN, Pak Dirut BTN, tak jadi kucurkan kredit konstruksi ke PT TGU,” jelas pejabat tersebut.

***

Itu gambaran 4-5 tahun yang lalu tentang Setia Budhijanto, yang oleh mantan wartawan Jawa Pos, dikenal sebagai orang kepercayaan Dahlan Iskan, urusan keuangan non koran Jawa Pos. Ternyata mulai Januari 2019 lalu, Budhijanto, tidak lagi berbaju batik tulis dan bermobil mewah seperti saat launching The Frontage.

Sehari-hari ia naik mobil lusuh warna hitam. Kemana-mana, suka bersandal, celana katun dan baju hem lengan pendek. Orang menatap, sosok Budhijanto yang sekarang, tak menujukan pengembang property.

Teman seetnis Tionghoa, Budhijanto yang lama tinggal di Hongkong, menyebut, Budhijanto, sudah tak laku di kalangan orang Tionghoa. Namanya sudah rusak. Utangnya dimana-mana. ‘’Benar, utang saya dimana-mana. Jaminan utang adalah sertifikat,” kata Budhijano, saat ditemui tim investigasi Surabaya Pagi, bulan Februari 2019.

Bahkan usahanya mencari investor baru yang ingin meneruskan proyek The Frontage, sejak Februari 2019 sampai awal Juli 2019, tak kunjung datang. Padahal, janji mencari investor merupakan kartu as-nya untuk meredam emosi kastemer pembeli apartemen dan kodotel The Frontage. “Saya sedang dibantu tokoh pemuda Jatim. Doakan mulus,” harap Budhijanto, minggu lalu kepada tim investigasi Surabaya Pagi, di resto “Ramayana” Darmo Park Surabaya.

Beberapa pengembang berpengalaman di Surabaya, tidak yakin ada investor mau menanam investasi di The Frontage, yang sudah rusak nama dan reputasinya. Bahkan pengembang yang pernah menjadi pengurus REI Jatim ini tertawa kecut saat mendengar, Budhijanto mencari investor. ‘’Apa gak salah? Apa Budhi, bmasih dipercaya pemodal?’’ katanya bernada tanya.

***

Sementara dari keterangan Arif, pejabat BTN, pengembang REI, teman seetnis, kastemer Frontage yang lapor di kepolisian serta pertemanan dengan tim Investigasi Surabaya Pagi, Setia Budhianto, dengan jabatan mentereng yaitu Direktur Utama PT Trikarya Graha Utama (TGU) seperti salah satu dari 6 (enam) bidak catur.

Dalam permainan catur, Setio Budhianto, mirip bidak pion, bukan Raja, Menteri, Kuda, Benteng dan Gajah. Nah, hasil investigasi Surabaya Pagi ini bisa dikembangkan oleh aparat hukum sekelas Kejaksaan dan KPK. Mengingat kepolisian, sejak di Polda, laporan kastemer ditolak, dan dialihkan ke Polrestabes. Tetapi di Polrestabes, laporan kastemer seperti berjalan lamban.

Dalam permainan catur, bidak hanya bisa berjalan selangkah ke depan. Artinya, kemampuannya hanya melangkah ke arah barisan lawan, tapi tidak bisa menyerang buah catur lawan.

Langkah pertama, bidak dapat maju dua kotak dan tidak ada yang menghambat jalan ini. Untuk memakan, bidak harus mengambil arah diagonal sekali. Di samping itu, bidak dapat menyerang menurut gerakan khususen passant ("menyilang")

Gambarannya, bidak hanya dibolehkan melakukan promosi. Bila ia mencapai kotak terakhir di sisi lawan, bidak dapat memilih buah catur yang sudah lebih dulu dimakan lawan, kecuali raja.

Perumpamaan permainan catur, Azrul sebagai komisaris PT TGU, bak benteng. Maklum, komisaris bertugas mengawasi jalannya usaha. Sedangkan Arif Afandi, bisa diibaratkan Menteri, karena ia mengklaim menjadi penggagas proyek PT Frontage, sekaligus yang mengkomersialkan aset Negara berupa tanah bekas pabrik kulit milik Negara ke PT TGU, yang digawangi oleh temannya sendiri yang juga anak buah Dahlan Iskan, Setia Budhijanto.

Beberapa wartawan Jawa Pos yang dihubungi tim investigasi mengatakan Setia Budhijanto ini bukan karyawan Jawa Pos, tapi sering ketemu Dahlan Iskan. Terutama di rumah Dahlan Iskan dan kantor PWU “Budhi ini orang suruhan Dahlan urus proyek-proyek non koran,” ungkap dua wartawan senior Jawa Pos.

Peran Budhi, dimata mereka tak ubahnya seperti Hedy Laurent alias Heding, perempuan keturunan Tionghoa, yang dikenal suka berjudi. Heding juga dekat dengan Dahlan, tapi tidak masuk dalam struktur di organisasi PT Jawa Pos, seperti Setia Budhijanto.

Sementara beberapa staf di PT PWU mengenal Budhi, sebagai orang kepercayaan Dahlan urusan proyek-proyek terkait masalah keuangan. Dimata mereka, Budhi, sosok pria sederhana dan santun.”Mungkin dia ikut aliran kejawen, bisa dianggap jujur oleh Pak Bos, “ tambah mantan wartawan Jawa Pos tentang sosok Setia Budhijanto, pria kelahiran Surabaya, 29 Juni 1962. Dahlan Iskan, oleh mantan wartawan Jawa Pos, dipanggil Pak Bos.

***

Budhi, dalam kurun lima bulan ini, dua kali ditemui Surabaya Pagi. Penampilannya makin sederhana dan cenderung kasual. Juga mobilnya. Bahkan 12 bulan lalu, Surabaya Pagi, bersua di sebuah rumah kenalannya. Ia mengaku suruhan Dahlan Iskan, kelola The Frontage.

Pernah makan malam dengan tim investigasi Surabaya Pagi, di sebuah rumah makan Ciputra World, Budi mengajak istrinya. Ternyata suami istri ini sangat sederhana. Budi, memakai sandal. Padahal, acara malam itukongkouw bahas proyek bisnis di China.

Penampilannya malam itu, tidak mewakilichino totok (kuno) maupun taipan berpenampilan perlente seperti Henry J Gunawan, Teguh Kinarto atau Alim Markus.

Sehari-hari, Setia Budhianto, juga tidak tampak potongan pengusaha yang memiliki bisnis properti yang diiklankan proyek kodotel mewah bertagline properti luxure di Surabaya Selatan.

Deweke (Maksudnya Budi-red),sakiki wis gak dipercoyo Cino-cino sakjeke Proyek Frontage macet,” kata seorang pedagang keturunan Cina, yang kenal dengan Budhi.

Pedagang yang lama tinggal di Hongkong ini mengaku, hampir semua orang cina Surabaya tahu, Budhi itu kepercayaan DI, sebutan Dahlan Iskan. Nama Budi, mulai dikenal saat disuruh kelola bangun proyek apartemen Petra. “Proyek Apartemen Petra, modal Rp 10 m,isok cuan (untung) Rp 40 m,” ungkap pria yang berpotongan cino totok ini.

Budhi sendiri mengaku dipercaya Dahlan Iskan, karena dirinya mempraktikkan keterbukaan dan kejujuran.

Budhi, sekarang mengaku hidupnya susah yaitu ditagih kastemer. Dia disuruh bertanggungjawab atas uang kastemer sebesar Rp 123 miliar. Tapi Budhi, tidak mau tahu dengan urusan kekurangan bayar soal BOT tanah dengan PT PWU maupun penanganan proyek perintisan yang dikerjakan PT Waskita Karya Tbk.

Sekarang, Budhi mengaku pusing tujuh keliling diuber-uber kastemer, yang nagih uangnya dikembalikan. “Sebagai orang bisnis, saya janji akan kembalikan. Tapi nunggu investor yang mau take over proyek The Frontage. Saya janji tidak akan lari menghindari kastemer,” jelas warga berKTP Jl. Dukuh Kupang Barat 24/15 Surabaya.

Ditanya siapa investor yang mau meneruskan The Frontage termasuk bayar uang kastemer Rp 123 miliar?, Budhi, minta doa. “Sudahlah saya masih merasa ada,” kata Budi, saat bertemu di Resto “Ramayana”, Darmo Park Jalan Mayjen Sungkono, Selasa (9/7/2019) malam lalu.

Janji Budhi cari investor yang mau bayar uang kastemer Rp 123 miliar, ditertawain oleh pejabat PT PWU, Pemprov Jatim dan DPRD Jatim. “Setahu saya, investor itu harus tahu feasible tidaknya sebuah proyek. Lha The Frontage sudah ajur-ajuran di publik , saya tak yakin ada investor mau bayar uang kastemer Rp 123 m. Katakan pengembalian di kompensasi ke kodotel. Terus duit ke Waskita Karya dan PWU siapa yang bayar,” tanya pengusaha yang dekat dengan petinggi PT PWU, minggu lalu.


Image

Tim Investigasi Surabaya Pagi, pasca The Frontage mangkrak, memantau kantor pemasaran The Frontage di Jalan Ronggolawe dan kantor sekaligus rumah Budhi, di Jalan Dukuh Kupang Barat XXIV No. 15.

Saat Surabaya Pagi mendatangi alamat tersebut tampak sepi tidak terlihat ada mobil atapun sepeda motor yang terparkir didepannya. Dari luar, rumahnya tampak artistik. Lebar rumah 8 sampai 9 Meter. Teras depannya terdapat tiga pohon besar yang menjulang. Rumah tampak agak singup (angker) karena dicat warna hitam kecoklatan. Apalagi terdapat pagar dari kayu tebal dengan tinggi kira-kira sekitaran satu meteran

Surabaya Pagi mencoba langsung menemui Setia Budhijanto untuk mengkonfirmasi terkait perkembangan mencari investor baru atas mangraknya proyek The Frontage, akan tetapi Setia Budhijanto, tidak ada dirumah.

Menurut penuturan Elsi, pegawai Setia Budijanto yang menjaga rumahnya, Budhi di kantor. "Bapaknya nggak ada mas, masih dikantornya sana, saya pekerja di kos-kosannya mas, tapi sekarang jaga disini,” ucap Elsi, saat diwawancarai Tim Investigasi Surabaya Pagi di depan Pagar rumah Setia Budhijanto Kamis (11/7/2019).

Sementara menurut pemilik warkop di depan belokan dekat rumah Setia Budijanto, pria yang sudah beruban inigrapyak. Ia sering menyapa masyarakat, khususnya pengurus kelurahan. Dengan Abdul Ghani, pemilik warkop, Budhi pernah menanyakan dagangan Abdul ghani

"Orangnya baik mas, ya sering nyapa ke orang kelurahan, kalau ke saya biasanya ya pernah sekedar tanya dagangan saya, cuman itu aja, orangnya itu jarang sekali ngopi disini, tapi kalau dulu pernah,” tutur Abdul Ghoni

Ghoni menambahkan, biasanya Setia Budhijanto, sering tak pakai alas kaki bila keluar mengantar temannya.

Terpisah, petugas linmas Kelurahan Dukuh Kupang, menyebut bahwa Setia Budijanto dikenal ramah dan suka menyapa petugas kelurahan. Bahkan pernah membantu pembangunan gapura sebelum kelurahan Dukuh Kupang pindah di eks kantor kecamatan.

Setia Budijanto dianggap tidak sombong. Meski jadi Dirut PT TGU, ia sering ngopi di Cafe House Padamaning bersama teman-temannya. Tempat café ini rumah Setia Budijanto yang disewa oleh Cafe Padamaning. (bersambung)

Berita Populer