Sikap Prabowo Dinilai Tak Sebanding Dengan Masa Debat Capres Pilpres 2019

SURABAYAPAGI.COM,-Mengenai kasus kapal China yang wara-wiri di perairan Natuna. Prabowo dinilai lembek dalam menangani persoalan ini. Sikap Prabowo soal Natuna juga bertolak belakang dengan kegarangannya saat Pilpres 2019. Dalam Debat Capres Pilpres 2019 soal pertahanan, Prabowo berkali-kali menyebut militer Indonesia tak dikelola dengan baik oleh pemerintahan Joko Widodo.

Sikap dan ucapan Prabowo berkebalikan dengan sikap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Retno telah memanggil Dubes China di Jakarta untuk memberikan nota protes terhadap klaim Natuna.

“Saya kira ada solusi baik. Kita selesaikan dengan baik ya, bagaimanapun China negara sahabat.” tutur Prabowo usai rapat di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi, Jakarta, Jumat (3/1).

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad membela sikap Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan (Menhan) yang dinilai lembek dalam merespons persoalan di perairan Natuna Utara. Pernyataan itu disampaikan Dasco menjawab pernyataan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman yang meminta Prabowo bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mencontoh ketegasan sikap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi terkait persoalan dengan China di Natuna.

Menurutnya, sikap Prabowo soal menjaga kedaulatan teritorial perairan Natuna dari klaim China sudah pas dan tidak harus ditunjukkan lewat pernyataan di media massa.

"Apakah mesti ucapan di media menunjukkan kinerja? Kan enggak juga. Kinerja seorang Menhan sudah dilakukan dengan pas menurut saya. Kemudian pelaksanaan di lapangan kemudian oleh TNI juga sudah dilakukan," kata Dasco kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/1).

"Kan percuma kita ngomong keras-keras, gebrak meja tapi enggak ada action," imbuhnya.

Dia membantah bahwa Prabowo menyikapi masalah perairan Natuna dari klaim China dengan lembek. Di sisi lain, Dasco meminta para pengamat agar melihat posisi Indonesia dalam kasus perairan Natuna dengan tepat.

Ditambah lagi, Kementerian Pertahanan China sudah tegas mengklaim kepemilikan atas Natuna. Sikap Prabowo, ucap Alvin, hanya akan membuat Indonesia terlihat lemah di mata internasional.

Wakil Ketua DPR itu juga menyampaikan bahwa langkah yang dilakukan Retno agar masalah perairan Natuna diselesaikan melalui jalur diplomasi sudah cukup keras dan sudah pas.

Pengamat Intelijen dan Keamanan Stanislaus Riyanta menilai Prabowo melunak karena sadar kekuatan militer Indonesia tak sebanding dengan China.

SitusGlobalfirepower.com mencatat kekuatan militer Indonesia berada di peringkat 16 dunia. Indonesia memiliki personel militer sekitar 800 ribu orang. Terdiri dari 400 ribu personel aktif dan 400 ribu personel cadangan. Namun demikian, ada 108 juta penduduk yang siap perang jika keadaan mengharuskan.

Sementara China menjadi negara terkuat ketiga dengan memiliki 2,6 juta personel militer yang terdiri dari 2,1 juta aktif dan 510 ribu personel cadangan. Sebanyak 621 juta penduduknya siap perang jika kondisi mengharuskan. Belum lagi membandingkan alutsista kedua negara.

Presiden PKS itu menyatakan bahwa sikap Retno terhadap klaim nine dash line (klaim atas sembilan titik imaginer) pemerintah China di perairan Natuna sangat tegas. Pesannya pun sangat jelas.

Beda dengan Prabowo yang menyebut permasalahan di perairan Natuna bisa diselesaikan dengan baik. Apalagi Prabowo melihat China merupakan negara sahabat bagi Indonesia.

"Nggak usah jauh-jauh, ikuti saja seperti yang disampaikan Ibu Retno. Jelas. Ibu Retno message-nya jelas, diksi yang dipakai juga bagus. Jadi kalau diksinya ’dia sahabat’, ’jangan dibesar-besarkan’, itu nggak ada ketegasan sama sekali," kata Sohibul di Kantor DPP PKS, Jakarta, Senin (6/1).