•   Senin, 20 Januari 2020
JawaTimur

Sistem PPDB Batasi Persaingan Siswa

( words)
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Agatha Retnosari menilai perlu ada kajian ulang terhadap Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 (Foto: SP/IST)


SURABAYAPAGI.com - Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) mendapat sorotan. Sistem ini dianggap membatasi kesempatan bersaing siswa untuk masuk di sekolah favorit.
Aturan PPDB sendiri tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Agatha Retnosari, menilai ada kekhawatiran orang tua yang dilandasi pada kelanjutan jenjang pendidikan usai SMA. Orang tua murid menilai sekolah favorit memiliki akses undangan ke perguruan negeri favorit di Indonesia.
“Sebab banyak universitas negeri pilihan memberikan pemberitahuan penerimaan jalur prestasi langsung ke sekolah yang dianggap unggulan,” ungkap politisi asal Surabaya ini, Senin (1/4).
Oleh karena itu, Agatha menilai perlu ada kajian ulang terhadap Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tersebut. Di Permendikbud terdapat tata cara yang mengatur tentang PPDB. Ada tiga jalur yang disediakan, yakni zonasi dengan kuota 90 persen dari daya tampung sekolah. Kemudian, prestasi lima persen, dan pindah tugas orang tua lima persen. Untuk zonasi, siswa berhak memilih sekolah yang dituju sesuai zona dekat tempat tinggal.
Agatha punya alasan mengapa sistem penerimaan menggunakan Tes Potensi Akademik (TPA) tetap perlu. Hasil audiensi dengan sejumlah orang tua siswa yang tergabung dalam Komite Peduli Pendidikan Kota Surabaya mengeluhkan sistem zonasi.
Mereka gelisah karena banyak anak di SMP favorit yang terkoneksi dengan SMA favorit terancam tidak bisa mendaftar. Padahal, selama ini para orang tua mengaku telah menerapkan strategi belajar agar dapat masuk ke jenjang sekolah favorit selepas lulus.
“Orang tua murid keberatan karena peraturan ini tidak dibuka sejak awal masuk. Inilah yang menyebabkan orang tua tidak memiliki cara lain memilih sekolah,” tuturnya.
Menurutnya, metode TPA bisa dipakai dulu. Sedangkan zonasi tetap perlu untuk membantu mendapatkan sekolah terdekat. Khususnya masyarakat tidak mampu.
“Saya sebenarnya sudah meminta ke Dinas Pendidikan Jawa Timur agar membuat aturan terkait metode penerimaan kemampuan akademik. Supaya siswa yang punya potensi luar biasa dapat bersaing secara prestasi,” ungkap politisi PDIP ini.
Skema yang ditawarkan Agatha, ada tes masuk ke SMA favorit. Nilai tes itu digabung dengan hasil ujian nasional. Langkah ini paling tepat untuk menjaring siswa yang benar-benar berkualitas untuk masuk ke sekolah favorit.

Berita Populer