Startup Tanda Tangan Digital Siap Hadapi OJK Batch II dan Optimis Lolos

SURABAYAPAGI.com - PrivyID merupakan sebuah startup yang memiliki spesialisasi di bidang identitas digital. Layanan tanda tangan digital yang ada di aplikasi PrivyID telah memenuhi seluruh peraturan dan standar industri yang berlaku di Indonesia juga di berbagai negara lainnya di dunia, seperti negara-negara Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, India, dan Cina.

Di Indonesia, PrivyID telah diakui oleh pemerintah Indonesia melalui Kominfo. Hingga saat ini, PrivyID telah dipercaya untuk menjalin kerjasama dengan berbagai perusahaan perbankan dan startup fintech ternama di Indonesia, seperti Bank Mandiri, BNI, Bank CIMB Niaga, KlikCC, dan AwanTunai.

Meski terdaftar di Kominfo, PrivyD juga harus terdaftar di OJK. Maka dari itu, PriyyD tengah menyiapkan strategi hadapi Sandbox OJK Tahap II.

PT Privy Identitas Digital (Privy ID) merupakan salah satu financial technology (fintech) yang masuk list sandbox regulatory batch 2 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Kami baru terima surat dari OJK sekitar dua minggu lalu, sekarang kami sedang mencoba menyusun skenarionya dengan mitra bank," ujar Marshall Pribadi, CEO & Founder Privy Identitas Digital (PrivyID) pada Sabtu (3/8).

OJK sendiri memberikan waktu satu bulan kepada setiap fintech untuk membuat skenario bisnisnya.

Dalam Inovasi Keuangan Digital (IKD), PrivyID merupakan pemain tunggal di klaster elektronic Know Your Customer (e-KYC). Seperti namanya, klaster ini berisi fintech yang bisa membantu verifikasi calon pelanggan secara elektronik.

Marshall menjelaskan sejak awal mulai tahun 2016, PrivyID masih terus mengembangkan bisnis e-KYC. Usaha ini memungkinkan orang dapat menyelesaikan urusannya dengan dokumen secara cepat.

Saat ini PrivyID sudah bekerja sama dengan berbagai bank, multifinance, asuransi, dan fintech peer to peer (P2P) lending.

Selain strategi, PrivyD optimis lolos hadapi proses sandbox regulatory dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Kami optimis lolos sandbox OJK, kami tahun lalu juga telah masuk sandbox di Bank Indonesia (BI)," ujar ujar Marshall Pribadi, CEO & Founder PrivyID pada Sabtu (3/8).

Saat ini, Marshall menjelaskan pihaknya tidak ada persiapan khusus. Dia mengaku, bisnisnya tetap berjalan seperti biasa. Sebagai informasi, PrivyID merupakan perusahaan yang menyediakan teknologi untuk identitas digital sejak 2016.

Marshall memaparkan, OJK mengajukan setidaknya dua syarat utama kepada PrivyID. Pertama, tentang sertifikasi teknologi yang digunakan. Pihaknya menjelaskan sejak tahun lalu, PrivyID telah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo)