•   Kamis, 20 Februari 2020
Kuliner

Sudah Identik dengan Kuliner Nusantara

( words)
Kecap Cap Jeruk Pecel Tulen


SURABAYAPAGI.COM, Surabaya -Kecap manis adalah salah satu bahan makanan yang disukai oleh masyarakat. Selain rasanya nikmat, kecap juga merupakan bahan pelengkap aneka makanan. Kecap Cap Jeruk Pecel Tulen, merupakan kecap legendaris yang hingga saat ini masi aktif beredar dipasaran karena memang kecap ini memiliki banyak peminat terutama di kalangan pengusaha makanan.

Banyak cerita mengenai sejarah kelegendarisan kecap cap jeruk ini. Di dirikan pada tahun 1937 dengan label industry rumahan, Hwan Kieng Hien dan istrinya yang merupakan pendiri industry tidak pernah patah semangat dalam mengembangkan bisnisnya ini.

Industri yang terletak di Kawasan Surabaya Utara ini kini dikelolah oleh anak dan cucu dari Hwan Kieng Hien dan istrinya yang merupakan keturuan etnis Tionghoa yang mencari peruntungan di Kota Pahlawan, Surabaya.

Wahyu Handoko, generasi ketiga keluarga Hwan Kieng Hien yang kini merupakan pemegang perusahaan dibantu dengan karyawannya, industry ini berhasil memenuhi target pasar, ari tahun ke tahun omset penjualan kecap manis Jeruk Pecel Tulen Surabaya ini terus meningkat. Meskipun di luar sana banyak pabrik kecap besar.

Dalam sehari, Pabrik kecap manis rumahan milik Wahyu Handoko, mampu memproduksi 2.400 botol dengan harga pasaran per botol Rp 18.000 untuk ukuran 600 ml botol kaca dan botol plastik.

Kesuksesan yang diraih industry ini dilatarbelakangi oleh ketradisionalan bahan dan Teknik pembuatan kecap. Meski banyak teknologi canggih, kecap ini masih setia menggunakan alat-alat tradisional.

Kecap memang mempunyai perjalanan sejarah yang Panjang yang tidak bisa dilepaskan dari kuliner Nusantara. Sangking populernya kecap dilidah masyarakat Indonesia membuat kecap memiliki idiom yakni, “tidak ada kecap nomer dua”.

Idiom itu memiliki setidaknya tiga makna. Pertama, semua pedagang selalu menganggap jualannya adalah produk paling baik. Kedua, setiap orang mempunyai kecap favorit masing-masing. Ketiga, kecap sudah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari khazanah kuliner Nusantara.

Sejarah kecap memang panjang. Menurut buku History of Soy Sauce yang ditulis oleh William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, sejarah kecap bisa ditarik sejak abad ke 3 di jazirah Tiongkok. Kemudian kecap tersebar ke seluruh dataran Asia. Jepang lantas menjadi salah satu negara produsen kecap terbesar.

Kecap mulai masuk Nusantara pada 1737. Saat itu serikat dagang Hindia Belanda membawa kecap ke Batavia (sekarang Jakarta), untuk kemudian dikemas dan dikirim ke Amsterdam. Namun, diperkirakan kecap sudah masuk Nusantara jauh sebelum itu, dibawa oleh imigran dari Tiongkok.

Dalam buku Shurtleff dan Aoyagi, disebutkan kalau kata kecap ala Nusantara muncul di dunia Barat pada 1680, ditulis oleh seorang pengacara cum penulis bernama William Petyt. "Dan kita sekarang punya sawce (saus) yang disebut catch-up dari Hindia Timur, dijual di Guinea dalam bentuk botolan". Catch up yang kemudian dikenal sebagai ketjap, lalu jadi kecap, diperkirakan serapan dari kata Hokkian ke chiap/ kicap/ kitjap.

Menariknya, banyak orang kemudian mulai memodifikasi kecap sesuai selera Nusantara. Lahirlah apa yang disebut sebagai kecap manis. Kecap ini hanya bisa ditemukan di Indonesia. Di banyak definisi, kecap manis yang di dunia internasional dikenal dengan sebutan sweet soy sauce, diartikan sebagai "...Indonesian sweetened aromatic soy sauce."

Berita Populer