•   Rabu, 20 November 2019
KONI Jatim

Suka Bela Diri, Rakhman Ingin Kelola Camp Gulat Selamanya

( words)
Lima atlet gulat Jawa Timur yang dikirim ke Bulgaria SP/Bre


SURABAYAPAGI.com - Kecintaannya terhadap olahraga gulat sejak kecil menghasilkan buah manis bagi Rakhman. Rakhman sendiri saat ini menjadi pelatih gulat yang memiliki ketelatenan dalam membimbing para atletnya.

Rakhman berhasil menjadi pelatih gulat hingga saat ini selama dua dekade. Pada Hari Olahraga Nasional 2019 lalu, dia salah satu peraih penghargaan dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Sebelum terjun ke dunia gulat, Rakhman sejak kecil memang sudah menyukai olahraga yang berhubungan dengan bela diri. ”Saya ketika masih SD aktif pencak silat, kemudian SMP itu ikut karate dan tinju. Jadi, dari kecil memang sudah punya latar belakang olahraga bela diri,” kata Rakhman mengawali pembicaraan.

Laki-laki kelahiran Banyuwangi, 13 Mei 1966, ini memulai karirnya Saat itu dia duduk di bangku kelas 1 SGO Batu. Ketika masih pelajar, Rakhman mengikuti kejuaraan gulat pertamanya yakni Kejuaraan Daerah (Kejurda) Junior Jawa Timur (Jatim) di Malang. Dia berhasil meraih medali emas.

Bakatnya kemudian dilirik oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jatim. Kemudian pada tahun yang sama dia dikirim ke Jakarta untuk mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Gulat. Hasilnya, Rakhman kembali mendapatkan medali emas.

Sejak saat itu Rakhman kemudian fokus menjadi atlet gulat. Waktunya banyak habis untuk latihan dan tanding gulat hingga tidak memiliki waktu belajar.

Rakhman akhirnya mendapatkan beasiswa supersemar dan ketika lulus Rakhman memilih untuk kembali lagi ke kampung halamannya di Banyuwangi. Dia dan keluarganya saat itu tidak memiliki biaya untuk melanjutkankuliah.

Tapi, pintu rezeki dibukakan Tuhan untuknya. Tiba-tiba pelatih gulatnya (alm) Suwandi yang pernah menjadi dosen di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mencari Rakhman ke Banyuwangi.

Akhirnya, saya dibiayai mulai dari uang kuliah, uang bulanan, hingga akomodasi. Tapi, saya mendapatkan emas di Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 1989,” jelas laki-laki yang mempunyai dua anak perempuan itu.

Setelah itu, di tahun-tahun selanjutnya Rakhman sering mewakili Jatim untuk mengikuti PON dan langganan mengikuti Program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas). Di PON selanjutnya seperti PON ke-XIII tahun 1993 dan PON ke-XIV tahun 1996 dia juga mendapatkan medali emas.

Pada 1996, di usianya yang masih 30 tahun, Rakhman memilih untuk berhenti menjadi atlet gulat dan beralih menjadi asisten pelatih gulat. ”Saya waktu itu mengalami kejenuhan dan fisik serta merasa tidak mampu lagi. Kedua yaitu faktor keluarga karena saya juga sudah menikah dan memiliki anak.

Kemudian saya diajak melatih sama pelatih saya Heru Widyoto jadi asisten di Program Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda) Jatim di Surabaya,” jelasnya. Kemudian pada 2000, Rakhman resmi menjadi pelatih Puslatda Gulat Jatim.

Akhirnya Rakhman pada 2012 mendirikan camp latihan gulat bernama Rachman Camp Gulat di Jl Pahlawan Badjuri 1 No 2, Pakisaji, menggunakan biaya pribadi sendiri. Ketua KONI saat itu kemudian menyetujui Rakhman untuk melatih puslatda di Malang dengan catatan dapat terus mempertahankan prestasi yang ada.

Saat ini hari-hari Rakhman lebih banyak disibukkan menjadi pelatih gulat di camp-nya. Sebanyak 22 atlet gulat terbaik dari berbagai daerah di Jawa Timur berada di bawah asuhannya. Targetnya saat ini di PON 2020, dia ingin Gulat Jatim bisa menjadi juara umum dengan raihan 8 medali emas. Walau begitu, dia tidak lupa selalu memberi wejangan kepada para atletnya untuk tetap menjaga pendidikannya.

Berita Populer