•   Rabu, 16 Oktober 2019
Perbankan

Tahan Pelemahan Rupiah, BI Lakukan Aksi Triple-intervention

( words)
Uang rupiah.


SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Depresiasi mata uang yuan China ke level terendahnya selama satu dekade terakhir memicu pelemahan rupiah, Senin (5/8).

Bank Indonesia mencatat, kurs tengah rupiah ditutup melemah ke level Rp 14.231 per dollar AS. Sementara di pasar spot, nilai tukar melemah 0,49 persen ke posisi Rp 14.255 per dollar AS.

Untuk mencegah pelemahan mata uang Garuda yang lebih dalam, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Moneter BI Nanang Hendarsah mengatakan, Bank Indonesia tetap berada di pasar. “BI berada di pasar dengan melakukan triple-intervention di pasar spot, pasar SBN, dan DNDF,” ujar Nanang, Senin (5/8).

Nanang menilai, sebagian besar pelepasan SBN oleh asing dilakukan dalam rangka aksi ambil untung (profit taking) oleh para trader jangka pendek.

Masuknya BI ke pasar, menurut Nanang, berhasil mencegah berlanjutnya pelepasan SBN oleh investor asing. Nilai tukar rupiah tetap terjaga dan tidak melemah terlalu tajam layaknya mata uang Asia lain.

“Di pasar DNDF, BI juga terus menjual DNDF baik melalui lelang maupun via delapan money brokers untuk menyediakan instrumen lindung nilai bagi nasabah dan perbankan, sehingga tidak terlalu banyak masuk pasar spot (demand smoothing),” terang Danang.

Secara keseluruhan, BI terus memantau perkembangan risiko eksternal terhadap kondisi nilai tukar rupiah. Nanang menilai, berlanjutnya perang dagang berpotensi memicu The Fed melanjutkan penurunan suku bunganya.

“Prolog trade war akan membuat pertumbuhan ekonomi global semakin merosot dan memicu the Fed lebih agresif menurunkan suku bunga, karena ekonomi global yang melemah akan mempengaruhi ekonomi AS juga,” tandasnya.

BI pada Rapat Dewan Gubernur Juli lalu telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dalam negeri. BI memberi sinyal ruang penurunan suku bunga lanjutan masih terbuka di sepanjang sisa tahun 2019.

Berita Populer